Langsung ke konten utama

TRADISI DAN EPISTEMOLOGI KEILMUAN DALAM ISLAM (Perspektif Bayâni)

A.           PENDAHULUAN
Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa.
Berbagai problematika kehidupan, dewasa ini semakin kompleks saja. Dari berbagai belahan bumi ini, terutama yang di alami oleh dunia Islam sendiri semakin meruncing. Keterpurukan kita sebagai kaum muslim hanya mampu bernostalgia pada masa lalu, dimana kejayaan dan peradaban begitu menghebohkan dunia pada saat itu.
Upaya rekonstruksi filsafat Islam perlu mendapatkan perhatian lebih. Namun sekedar wacana saja sangatlah tidak cukup, perlu upaya-upaya yang lebih real dan kongkrit harus terus dilakukan, agar kehadiran dan perkembangan filsafat Islam semakin terasa. Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua upaya yang perlu dilakukan, 1) membangun kembali tradisi ilmiah Islam dan 2) merekonstruksi kembali bangunan epistimologi keilmuan dalam Islam, yang akhir-akhir ini banyak terjadi kesimpang siuran dan ketidak jelasan yang dapat ditemukan dalam bidang satu ini.
Menurut hemat penulis, penting untuk dimengerti apa yang disebut ilmu dalam tradisi Islam dan bedanya dengan sains. Ilmu dibedakan dengan sains terutama dalam lingkupnya. Sementara sains modern membatasi lingkupnya hanya pada bidang-bidang fisik-empiris, ilmu dalam tradisi ilmiah Islam meliputi bukan hanya bidang fisik tetapi juga bidang matematik dan bahkan metafisik.

Marilah kita mulai berasama. Kemajuan yang berati dari ilmu pengetahuan nampaknya tidak akan betul-betul tercapai sampai suatu bangsa memiliki tradisi ilmiahnya. Barat maju dalam ilmu dan memberi banyak sumbangan kepada peradaban dunia karena ia memiliki tradisi ilmiah yang agung. Demikian juga para ilmuwan Muslim pada masa lalu telah terbukti secara historis meraih prestasi ilmiah yang sangat gemilang dan memberikan sumbangan yang sangat signifikan kepada peradaban dunia, karena mereka memiliki sebuah tradisi ilmiah yang mapan dan karakteristik yang berbeda dengan tradisi ilmiah Barat. Dengan demikian, sampailah pada kesimpulan bahwa tanpa dimilikinya sebuah tradisi ilmiah tertentu, maka bangsa kita tidak akan mencapai prestasi yang gemilang dalam hal kemajuan ilmu. Oleh karena itu, upaya yang sungguh-sungguh perlu dilakukan untuk membangun sebuah tradisi ilmiah tertentu di negeri tercinta ini.
Dalam dunia pemikiran, epistemologi menempati posisi penting, sebab ia menentukan corak pemikiran dan pernyataan kebenaran yang dihasilkannya. Bangunan dasar epistemologi berbeda dari satu peradaban dengan yang lain. Perbedaan titik tekan dalam epistemologi memang besar sekali pengaruhnya dalam konstruksi bangunan pemikiran manusia secara utuh. Pandangan dunia manusia akan terpengaruh bahkan dibentuk oleh konsepsinya tentang epistemologi. Oleh karena itu perlu pengembangan empirisme dalam satu keutuhan dimensi yang bermuatan spiritualitas dan moralitas. Sehingga diharapkan epistemologi Islami akan lahir dan memberi jawab atas kegelisahan umat dewasa ini.
Dalam kajian epistemologi Barat, dikenal ada tiga aliran pemikiran, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi. Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model system berpikir dalam Islam, yakni bayâni, irfâni dan burhâni, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sama sekali berbeda tentang pengetahuan. Dalam kesempatan kali ini, penulis mencoba menguraikan tentang epistemologi bayâni.
Bayâni adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.
Semoga makalah yang kecil ini, dapat membantu teman-teman semua dalam menggapai kejayaan masa lalu yang sempat tenggelam, sehingga tradisi keilmuan dan proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (epistemologis) Islam dapat kita bangun kembali.
Amin..

B.            PEMBAHASAN
1.      Tradisi Keilmuan dalam Islam
Wahyu pertama yang turun (Q.S. al-‘Alaq: 1-5) dan sejumlah hadis Nabi memiliki implikasi besar terhadap perkembangan keilmuan pada masa-masa berikutnya. Sebagaimana yang pernah dicatat oleh Ahmad Amin, bahwa pada awal timbulnya Islam, barulah tujuh belas orang suku Quraisy yang pandai baca tulis. Nabi juga menganjurkan belajar membaca dan menulis.
Aisyah, istrinya pun belajar membaca. Anak angkatnya, Zaid bin Haritsah disuruh pula belajar tulisan Ibrani dan Suryani. Para tawanan perang dibebaskan setelah mereka dapat mengajar sepuluh orang muslim untuk membaca dan menulis. Beberapa wahyu (nash) penting mengenai ilmu telah menjadikan alasan bagi dukungan dan respon Islam terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Oleh sebab itu, tak heran jika tradisi keilmuan dalam Islam lantas begitu subur dan semarak pada masa-masa berikutnya.
Dengan demikian, gerakan “melek huruf” pertama kalinya dilakukan Islam dalam rangka pengamalan ilmu pengetahuan. Jika pada masa-masa awal (sahabat dan tabiin) aktivitas keilmuan hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama, maka pada periode-periode berikutnya menjadi berkembang secara menyeluruh dan dalam skop yang lebih luas.
Era klasik merupakan era penyusunan, pembentukan, pemantapan, dan pemapanan ajaran-ajaran doktrinal dan normatif setiap agama kharismatik. Dalam upaya ulama yang dikaliam sebagai pewaris para Nabi memiliki peran yang sentral dan signifikan. Merekalah orang yang harus memberikan respon dan solusi atas persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat atas dasar pemahaman mereka terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Pada perkembangan berikutnya, jawaban dan respon ulama ini kemudian disusun dan diklasifikasikan sesuai dengan bidang dan wilayah kajian dan objek permasalahan yang dihadapi sehingga melahirkan klasifikasi ilmu-ilmu keislaman dalam kedalam tiga medan epistemologi. Teologi (metafisis), tasawwuf (spritualitas), dan hukum (yuridis).
Ilmu pengetahuan yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa dinasti Umayyah di bawah pemerintahan Marwan bin Hakam (684-685 M) adalah ilmu kedokteran. Ketika itu seorang dokter bernama Masarjaweh menerjemahkan buku yang ditulis oleh seorang pendeta bernama Ahran bin A’yun dari bahasa asli Suryani ke dalam bahasa Arab. Buku tersebut masih tersimpan baik di perpusatakaan hingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (718-720 M).
Relasi antara ”kuasa” dan “pengetahuan” dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu keislaman ini sebenarnya sudah tampak pada masa pemerintahan Umayyah. Sebagaimana diketahui bahwa keutuhan negara dan solidaritas masyarakat yang sudah terwujud pada masa Nabi dan dua khalifah pertama, Abu Bakar dan Umar, mulai goyah pada masa pemerintahan khalifah ketiga, Utsman bin Affan, dan mulai pecah pada masa pemerintahan keempat, Ali bin Abi Thalib. Akibatnya memasuki masa Umayyah, solidaritas negara-masyarakat menjadi sangat lemah dan karenanya pemerintahan Umayyah lebih terfokus pada upaya mempertahankan kelangsungan hidup dan berupaya membangun kemampuan untuk menekan masyarakat. Oleh karena itu, Fazlur Rahman menilai bahwa pemerintahan Umayyah saat itu bukan lagi instrumen Islam sebagaimana empat khalifah pertama (khulafaurrasyidin).
Bersamaan dengan itu, pemerintahan Umayyah juga berupaya menghadapi ancaman yang muncul dari lahirnya keyakinan dan kebiasaan yang mendasar pada masa –masa pertumbuhan sektarian. Namun demikian, posisi pemerintahan saat itu sangat diperlukan untuk menekan bid’ah-bid’ah (heresies), termasuk bid’ah-bid’ah yang menjadi ancaman politik bagi pemerintah. Dengan demikian kini masyarakat dan negara saling berhubungan dan pada gilirannya muncul anggapan bahwa agama (secara lebih khusus ilmu-ilmu keislaman) dan negara tidak ada perbedaan, sehingga muncul pepatah “there is no separation between religion and state”.
Fenomena ketergantungan hubungan negara-agama atau dalam istilah Foucult antara “kuasa” dan “pengetahuan” ini kemudian membentuk sikap dasar masyarakat dan menghasilkan pemikiran teologi, fikih, dan pemikiran spiritual pada abad berikutnya.
Filsafat merupakan wacana keilmuan, yang mempunyai komitmen pengabdian pada pengetahuan, kemajuan serta konsep dinamika masyarakat. Karena itu, musuh-musuh yang menjadi lawan filsafat selalu datang dari unsur masyarakat yang bersifat reaksioner dan konservatif, dan kebanyakan berangkat dari kesadaran etnik dan kepentingan kelas yang memaksakan sejarah untuk berjalan mundur. Sehingga ketika filasafat masuk pada dunia Arab-Islam, filsafat dijadikan sebagai alat ideologis oleh penguasa dan dijadikan sarana intelektual oleh para ulama untuk menyerang musuh-musuh mereka.
Atas dasar inilah, maka kemudian para penguasa-penguasa Abbasiyah secara gigih berupaya untuk menterjemahkan literatur filsafat ke dalam bahasa Arab. Upaya ini dikerjakan pertama kali pada masa awal dinasti Abbasiyah, terlebih pada masa khalifah al-Makmun. Majdi Fakhry menilai bahwa al-Makmun merupakan kontributor terbesar bagi kemajuan filsafat dan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah umat Islam.
Menurut al-Jabiri, langkah ini merupakan sebuah strategi besar yang digunakan oleh dinasti Abbasiyah awal yang baru saja berdiri untuk menghadapi berbagai kekuatan musuh. Musuh yang dihadapi penguasa Abbasiyah antara lain adalah para Aristokrat Persia. Saat itu, para Aristokrat takut pada upaya balas dendam yang dilakukan dinasti Abbasiyah, maka mereka memutuskan untuk menentang pada tataran ideologis, setelah mereka gagal memenangkan perlawanan pada tataran politik dan sosial. Para aristokrat menyertai kelompok ahlu al-Bait (keluarga Nabi) untuk melakukan revolusi melawan negara Umayyah. Mereka sangat memahami dengan baik bahwa kekuatan dalam masyarakat Islam saat itu adalah persoalan ideologis. Karena itu, mereka memutuskan untuk melakukan peperangan melalui medan ideologis. Senjata yang mereka gunakan adalah warisan kebudayaan dan keagamaan Arab sendiri, yang didasarkan pada ajaran gnostisisme, yakni keyakinan akan keberadaan sumber pengetahuan di luar akal, illuminasi, atau inspirasi ketuhanan yang tidak berhenti pada masa berakhirnya kenabian.
Dengan demikian, gerakan penerjemahan yang dilakukan al-Makmun dan didukung oleh kekuatan negara. Tujuannya adalah menentang gnotisisme al-Ma’nawiyah dan ‘irfan Syi’ah, yakni sumber pengetahuan yang dijadikan dasar oleh gerakan-gerakan yang menentang daulah Abbasiyah. Dengan begitu, gerakan penerjemahan, dimana pengguanaan Aristoteles itu sendiri merupakan bagian pokok, merupakan strategi baru yang digunakan al-Makmun untuk melawan dasar-dasar epistemologis musuh-musuh daulah Abbasiyah.

2.      Epstemologi Bayâni dalam Keilmuan Islam
Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan. Pengetahuan adalah semua yang diketahui. Epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika, selain itu ia merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam literatur yang lain, bayâni mempunyai arti menyambung, memisah-misahkan, terang dan jelas, kefasihan dan kemampuan dalam menyampaikan, serta kekuatan untuk menerima dan menyampaikan kejelasan. Sedangkan secara terminologi, dengan mengutip pendapat al-Jahiz dalam kitabnya al-Bayan wa al-Tabyin, al-Jabiri mengartikannya sebagai nama universal (ism jami’) bagi setiap pemahaman makna, sedangkan apabila merujuk kepada pendapat al-Syafi’i, bayâni merupakan nama universal bagi makna-makna yang terdapat dalam kumpulan landasan pokok (al-ashl) dan mengurai cabang (al-furu’).
Munculnya tradisi bayâni ini menurut al-Jabiri bukan suatu hal yang asal jadi. Akan tetapi memiliki akar historisnya dalam sejarah budaya dan tradisi pemikiran Arab. Aktivitas dan kelahiran bayâni dimulai dengan apa yang disebut masa kodifikasi (‘asr tadwin), yaitu masa berlangsungnya proyek konstruksi budaya secara massif dalam pengalaman sejarah peradaban Islam, yakni antara pertengahan abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-3 H. Pada perkembangannya, peradaban ini telah membentuk kerangka rujukan bagi pemikiran Arab dengan segenap disiplin keilmuan yang beragam.
Menurut al-Jabiri, aktivitas nalar bayâni terjadi dalam tiga hal; (1) aktivitas intelektual yang bertitik tolak dari ashl yang disebut dengan istinbath (penggalian pengetahuan dari teks), (2) aktivitas intelektual (al-tafkir) yang bermuara pada ashl yang disebut dengan qiyas, (3) aktivitas pemikiran dengan arahan dari ashl, yaitu dengan menggunakan metode al-istidlal al- bayâni. Dengan demikian, epistemologi bayâni mempunyai ciri spesifik yaitu selalu berpijak pada ashl (pokok) yang berupa nas (teks).
Dengan demikian, sumber pengetahuan bayâni adalah teks (nash), yakni al-Qur`an dan hadis. Karena itulah, epistemologi bayâni menaruh perhatian besar dan teliti pada proses transmisi teks dari generasi ke generasi. Ini penting bagi bayâni, karena –sebagai sumber pengetahuan-- benar tidaknya transmisi teks menentukan benar salahnya ketentuan hukum yang diambil. Jika transmisi teks bisa di pertanggung-jawabkan berarti teks tersebut benar dan bisa dijadikan dasar hukum. Sebaliknya, jika transmisinya diragukan, maka kebenaran teks tidak bisa dipertanggung jawabkan dan itu berarti ia tidak bisa dijadikan landasan hukum. Karena itu pula, mengapa pada masa tadwîn (kodifikasi), khususnya kodifikasi hadis, para ilmuan begitu ketat dalam menyeleksi sebuah teks yang diterima.
Berdasarkan hal tersebut, bahwa bayâni berkaitan dengan teks, maka persoalan pokoknya adalah sekitar lafazh- makna dan ushûl-furû`. Misalnya, apakah suatu teks dimaknai sesuai konteksnya atau makna aslinya (tauqîf), bagaimana menganalogikan kata-kata atau istilah yang tidak disinggung dalam teks suci, bagaimana memaknai istilah-istilah khusus dalam al-asmâ’ al-syar`iyah, seperti kata shalat, puasa, zakat.
Selanjutnya, untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, metode bayâni menempuh dua jalan. Yaitu:
1.    Berpegang pada redaksi (lafazh) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahwu dan sharâf.
2.    Berpegang pada makna teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa (qiyas). Dengan kata lain, bahwa aktivitas nalar bayâni berada dalam tiga kerangka; 1) aktivitas intelektual yang bertitik tolak dari ashl yang disebut dengan istinbath (penggalian pengetahuan dari teks), 2) aktivitas intelektual (al-tafkir) yang bermuara pada ashl yang disebut dengan qiyas, 3) aktivitas pemikiran dengan arahan dari ashl, yaitu dengan menggunakan metode al-istidlal al-bayâni. Dengan demikian, epistemologi bayâni mempunyai ciri spesifik yaitu selalu berpijak pada ashl (pokok) yang berupa nash (teks).
Pada jalan yang kedua, penggunaan logika dilakukan dengan empat macam cara. Yaitu:
a.    Berpegang pada tujuan pokok (al-maqâshid al-dlarûriyah) yang mencakup lima kepentingan vital, yakni menjaga keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Caranya dengan menggunakan induksi tematis (al-istiqra’ al-ma`wi) dan disitulah tempat penalaran rasional.
b.    Berpegang pada illah teks. Untuk menemukan dan mengetahui adanya illah suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut ‘jalan illah’ (masâlik al-illah) yang terdiri atas tiga hal: (1) illat yang telah ditetapkan oleh nash, seperti illat tentang kewajiban mengambil 20% harta fai (rampasan) untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr, 7). (2) illah yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya illah menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya. (3) al-Sibr wa al-taqsîm (trial) dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan illat pada ashl (nash), kemudian illat itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa illah itu bersifat begitu atau begini. Cara kedua ini lebih lanjut memunculkan metode qiyâs (analogi) dan istihsân, yakni beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena karena adanya alasan yang kuat untuk pengalihan itu.
c.    Berpegang pada tujuan sekunder teks. Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Misalnya, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kuliah pada mahasiswa, tujuan sekunder memberikan tugas. Adanya tugas akan mendukung pemahaman kuliah yang diberikan. Sarana yang digunakan untuk menemukan tujuan sekunder teks adalah istidlâl, yakni mencari dalil dari luat teks; berbeda dengan istimbât yang berarti mencari dalil pada teks.
d.   Berpegang pada diamnya Syâri` (Allah dan Rasul saw). Ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilkukan dengan cara qiyas. Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Misalnya, hukum asal muamalah adalah boleh (al-ashl fî al-mu`âmalah al-ibâhah), maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuannya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Metode ini melahirkan teori istishhâb, yakni menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar/dalil yang menunjukkan perubahannya.
Kelebihan yang dimiliki oleh epistemologi bayâni, seperti yang telah dikatakan oleh Mahmud Dhaoudi, pakar sosiologi dari Universitas Tunisia, yang telah mengkritik pandangan mazhab positivis-empirik. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan positivis-modern dirasakan tidak menyenangkan dan tidak memadai untuk memecahkan masalah-masalah moral kemasyarakatan dan isu-isu nilai yang tidak bias diukur oleh standar obyektif. Konsekuensinya, intervensi dari wahyu agama dengan adanya pengetahuan absolut berfungsi sebagai pelengkap dari pengetahuan yang dibuat oleh manusia, yang serba terbatas ruang lingkupnya.
Sedangkan kelemahan yang paling mencolok epistemologi bayâni ini, ketika ia harus berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa atau masyarakat yang beragama lain. Sehingga ketika berhadapan dengan komunitas agama lain, biasanya corak berfikirnya akan bersikap dogmatik, defensif, apologis, dan polemis. Tidak perlu terlalu jauh-jauh kita bisa mengambil sebuah contoh, lahirnya beberapa madzhab dan aliran mulai zaman sahabat sampai pada saat ini, sudah berapa aliran yang bisa kita jumpai karena berbeda-beda dalam menafsirkannya. Dan tak jarang teks-teks suci yang mereka anggap penuh dengan kesakralan, pada akhirnya hanya menumbuhkan rasa fanatisme (ta’asshub) dan pertumpahan darah.
Dalam konteks inilah hukum Islam berpijak. Hal ini didasarkan pada alasan berikut ini:
Pertama, dalam epistemologi bayâni, segenap aktivitas didominasi oleh otoritas teks (wahyu) sebagai sumber utama kebenaran. Sedangkan porsi untuk akal sebagaimana diungkapkan oleh Muhyar Fanani, hanya sekitar + 0-12,5 persen. Penggunaan yang terlalu dominan terhadap epistemologi ini dianggap telah menimbulkan stagnasi dalam kehidupan beragama, karena ketidakmampuannya merespon perkembangan zaman, padahal permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat manusia, khususnya umat Islam semakin kompleks dan beragam.
Metode kasyf dalam kritik epistemologi, bukanlah suatu pola yang berada di atas akal, seperti yang diklaim ‘irfaniyyun. Pendekatannya yang supra-rasional, menafikan kritik atas nalar, serta pijakannya pada logika paradoksal yang segalanya bisa diciptakan tanpa harus berkaitan dengan sebab-sebab yang mendahuluinya, akan mengakibatkan epistemologi ini kehilangan dimensi kritis dan terjebak pada nuansa magis yang berandil besar pada kemunduran pola fikir manusia.
Epistemologi burhani berusaha memaksimalkan akal dan menempatkannya sejajar dengan teks suci dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam epistemologi burhani ini, penggunaan rasionalitas tidak terhenti hanya sebatas rasio belaka, tetapi melibatkan pendekatan empiris sebagai kunci utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, sebagaimana banyak dipraktekkan oleh para ilmuan Barat.
Dengan demikian, perpaduan antara fikiran yang brilian yang dipandu dengan hati yang jernih, akan menjadikan iptek, termasuk di dalamnya ilmu hukum, yang dimunculkan kelak tetap terarah tanpa menimbulkan dehumanisasi yang menyebabkan manusia teralienasi (terasing) dari lingkungannya. Kegersangan yang dirasakan oleh manusia modern ini terjadi karena iptek yang mereka munculkan hanya berdasarkan atas rasionalitas belaka, dan menafikan hati atau perasaan yang mereka miliki. Mereka menuhankan iptek di atas segala-galanya. Sedangkan potensi rasa (jiwa) mereka abaikan, sehingga mereka merasa ada yang hilang dalam diri mereka.
Keseimbangan antara fikiran (fikr) dan rasa (dzikr) ini menjadi penting karena secanggih apapun manusia, ia tidak akan dapat menciptakan sesuatu. Keduanya, fikr dan dzikr adalah pilar peradaban yang tahan bantingan dalam situasi dan kondisi seperti apapun. Keduanya adalah perwujudan iman seorang muslim. Umat yang berpegang teguh kepada dua pilar ini disebut al-Qur’an sebagai ulul albab, ulul abshar. Mereka, di samping mampu mengintegrasikan kekuatan fikr dan dzikr, juga mampu mengembangkan kearifan yang menurut al-Qur’an dinilai sebagai khairan katsiran.
Kedua, dalam konteks hukum Islam, al-Jabiri memasukkan teologi dan fiqh dalam epistemologi bayâni. Menurut penulis, sangat tidak memadai bila hukum Islam hanya dimasukkan pada epistemologi bayâni sebagaimana yang dipahami al-Jabiri. Benar, fiqh oleh al-Jabiri dikategorikan dalam epistemologi bayâni, namun fiqh jelas berbeda dengan epistemologi hukum Islam. Yang pertama adalah produk, sementara yang kedua adalah kaidah-kaidah yang dipergunakan dalam menentukan produk tersebut. Dengan demikian, keduanya tidak mungkin disamakan atau dianggap sama. Keduanya jelas berbeda. Akan tetapi memiliki hubungan yang sangat erat.
Dimasukkan dalam kategori epistemologi ‘irfani, hukum Islam juga sangat susah. Hal ini terjadi karena hukum Islam tidak melulu berurusan dan bersumber dari hal-hal yang bersifat wujdani dan hati nurani manusia. Hukum Islam sangat erat hubungannya dengan interaksi yang bersifat sirkular, artinya kajian hukum Islam mencakup hubungan antara manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan antara manusia dengan yang lainnya.
Apabila dimasukkan dalam epistemologi burhani juga dianggap kurang memadai. Sebagaimana dalam pemahaman al-Jabiri tentang epistemologi burhani ini, yang dijadikan sebagai sumber adalah realitas alam, sosial, dan humanitas. Metode yang dapat dikembangkan adalah abstraksi dan analisis. Pendekatan yang sering digunakan adalah filosofis dan saintifik. Hukum Islam dalam hubungannya dengan epistemologi ini, secara nyata memang tidak dapat dipisahkan karena memiliki sumber yang sama. Akan tetapi sekali lagi hukum Islam tidak hanya berbicara dan bersumber dari realitas alam, sosial dan humanitas belaka. Hukum Islam tidak akan mampu melepaskan diri dari ayat-ayat al-Qur’an dan pengetahuan Tuhan yang diperoleh melalui wujdan dan hati nurani manusia. Dengan demikian kurang pas bila hanya dimasukkan dalam epistemologi ini.
Barangkali hukum Islam cukup layak untuk dijadikan sebagai sebuah epistemologi tersendiri yang mencakup ketiga epistemologi al- Jabiri di atas. Dalam hal ini bisa disebut dengan epistemologi jama’I atau epistemologi komprehensif, artinya hukum Islam merupakan sebuah epistemologi tersendiri yang disebut dengan epistemologi jama’i atau epistemologi komprehensif.
Ketiga, dalam ajaran Islam, pembentukan moralitas masyarakat terjabar secara komprehensif dan sistematis. Manusia memang hidup dalam tatanan yang empiris dan berkembang, tetapi tidak mungkin bisa terlepas dari kategori jasmani dan rohani. Maka pembentukan tatanan sosial atau masyarakat (hukum), mestinya juga tidak terlepas dari moralitas agama. Hal ini disebabkan karena hukum, moralitas, dan agama harus dipahami sebagai tiga hal yang terkait satu sama lain

C.           KESIMPULAN
Muhammad ‘Abid al-Jabiri, telah mengemukakan gagasan segar dalam rangka proyek besar bagi kebangkitan umat Islam dengan melalui Kritik Nalar Arab. Yang dimaksud dengan kritik nalar arab al-Jabiri adalah akal arab dalam kapasitasnya sebagai instrumen pemikiran dan pemahaman berupa produk teoritis yang karakteristik-karakteristiknya dibentuk oleh peradaban tertentu dalam hal ini adalah peradaban Arab. Al-Jabiri mengkaji pertumbuhan akal orisinal Arab yang disebutnya sebagai akal retoris (al-‘aql al- bayâni). Akal ini dipresentasikan oleh ilmu bahasa Arab, ushul fikih dan ilmu kalam.
Setelah itu al-Jabiri memasukkan dua akal yang lain dalam dunia pemikiran Arab yaitu akal gnostis (al-irfani) dan akal demonstratif (al-burhani). Nalar ‘irfani lebih menekankan pada kematangan sosial skill (empati, simpati,) sedangkan nalar burhani yang ditekankan adalah korespondensi ( al-muthabaqah bana al-‘aql wa nizam al-thabi’ah) yakni kesesuaian antara rumus-rumus yang diciptakan oleh akal manusia dengan hukum-hukum alam. Kalau tiga pendekatan keilmuan agama Islam, yaitu bayâni, irfani, dan burhani saling terkait, terjaring dan terpatri dalam satu kesatuan yang utuh, maka corak dan model keberagaman Islam jauh lebih komprehensif.

D.           DAFTAR RUJUKAN
Abd Wahab Khalaf. Ilm Ushul Fiqh. 1996. (terj. Madar Helmi). Bandung, Gema Risalah Pres
Ahmad Amin. Fajr al-Islam. 1969. Beirut. Dar al-Kitab
Ahmad Tafsir. Filsafat Ilmu. 2006. Bandung. Remaja Rosdakarya
al-Jabiri. Bunyah al-Aql al-Arabi. 1991. Beirut. al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi
al-Syathibi. al-Muwâfaqat fî Ushûl al-Ahkam. tt. Beirut. Dar al-Fikir
Anom S. Putra dkk, “Revolusi Nalar Islami: Menangguhkan Teks, Mencuri Subyek”. 1999. dalam Gerbang: Jurnal Pemikiran Agama dan Demokrasi. Edisi 02. Th. II
Fathur Rahman Jamil. Filsafat Hukum Islam. 1997. Jakarta. Logos
Fazlur Rahman, Islam. (Terj. Ahsin Mohammed) 1984. Bandung. Pustaka
Fazlur Rahman. Revival and reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalisme. 2000. Oxforld. Oneworld
Fuad al-Ahwani. Al-Falsafah al-Islamiyah. 1962. Mesir. Maktabah an-Nahdhah
Ilyas Supena. Pengantar Filsafat Islam. 2010. Semarang. Walisongo Press
Jawahir Thontowi. Islam, Politik, dan Hukum:Esai-esai Ilmiah untuk Pembauran. 2002. Yogyakarta. Madyan Press
M. Amin Abdullah. Studi Agama Normativitas atau Historisitas?. 2002. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
-------------------------. Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif-Interkonektif. 2006. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
M. Zainuddin. Filsafat Ilmu, Perspektif Pemikiran Islam. 2006. Jakarta. Lintas Pustaka
Majid Fakhry. Sejarah Filsafat Islam. 1987. (terj, Mulyadi Kartanegara). Jakarta. Pustaka Jaya
Mohammed ‘Abed al-Jabiri. Kritik Kontemporer atas Filsafat Arab Islam. (terj, Moch. Nur Ichwan). 2003. Yogyakarta. Islamika
Muhammad ‘Abid al-Jabiri. Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi. 1993. Dirasah Tahliliyah Naqdiyyah li Nuzhum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Arabiyah. Al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi
Muhammad ‘Abid al-Jabiri. Post Tradisionalisme Islam. 2000. (terj. Ahmad Baso). Yogyakarta. LkiS
Muhyar Fanani. Epistemologi Ilmu Ushul al-Fiqh: Sebuah Refleksi Filosofis Perbandingan antara al-Ghazali dan al-Syatibi. 1999. Tesis Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta
Nirwan Syafrin. “Kritik terhadap ‘Kritik Akal Islam’ al-Jabiri”, Islamia. THN I No. 2/Juni-Agustus 2004
P. Hardono Hadi. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan). 1994. Yogyakarta. Kanisius

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.