Langsung ke konten utama

KRITIK HADIS (Naqd al-Hadis)

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Hadis (sunnah) bagi umat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an, karena disamping sebagai sumber ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan mentaati Rasulillah, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang mujmal, muthlaq, ‘amm dan sebgainya. Kebutuhan umat Islam terhadap hadis (sunnah) sebagai sumber ajaran agama terpusat pada substansi doktrinal yang tersusun secara verbal dalam komposisi teks (redaksi) matan hadis. Target akhir pengkajian ilmu hadis sesungguhnya terarah pada matan hadis, sedang yang lain (sanad, lambang perekat riwayat, kitab yang mengoleksi) berkedudukan sebagai perangkat bagi proses pengutipan, pemiliharaan teks dan kritiknya.

Konstruksi hadis secara sederhana tersusun atas pengantar pemberitan (sanad al-riwayah) dan inti berita (matan hadis). Sanad berfungsi membuktikan proses kesejarahan terjadinya hadis, sedang matan mempresentasikan konsep ajaran Islam terbalut dalam bahasa ungkapan hadis yang diasosiasikan kepada sumbernya. Konstruksi hadis yang demikian menuntut kesadaran bahwa penelitian matan dan sanad hadis tidak hanya berada dalam wilayah keilmuan semata, tetapi langsung berhubungan dengan ajaran dan keyakinan agama (Islam). Derajat kebenaran agama (Islam) bertaraf adi kodrati (absolut) karena terjamin oleh otoritas sumbernya.
Penelitian kualitas hadis perlu dilakukan, bukan berarti meragukan  hadis Nabi Muhammad saw. tetapi  untuk melihat keterbatasan perawi hadis sebagai manusia, yang adakalanya  melakukan kesalahan, baik karena lupa maupun karena didorong oleh kepentingan tertentu. Keberadaan perawi hadis sangat menentukan  kualitas hadis, baik kualitas sanad maupun kualitas matan hadis. Dalam hal inilah ada dua obyek terpenting dalam penelitian hadis yaitu: Pertama, materi/isi hadis itu sendiri (matn al-hadis) dan Kedua, rangkaian sejumlah periwayat yang menyampaikan hadis (sanad al-hadis).
Pada akhirnya, penulis secara sederhana akan mencoba menghadirkan tema tentang “Kritik Hadis,” mulai dari segi kesejarahan, cakupan, para tokoh, kitab-kitab yang diperlukan, hingga indikasi mayor dan minor dalam sanad atau matan hadis shahih. Dengan tujuan, nantinya kita akan mengetahui kualitas sebuah hadis, baik dari segi sanad maupun matannya.

B.            Rumusan Masalah
1.    Bagaimana Sejarah Muncul, Perkembangan, dan Urgensinya ?
2.    Siapa Tokoh-tokoh Kritikus Hadis ?
3.    Apa saja Kitab-kitab yang diperlukan ?
4.    Apa Indikasi Mayor dan Minor Sanad Hadis Shahih ?
5.    Apa Indikasi Mayor dan Minor Matan Hadis Shahih ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.           Sejarah Muncul, Perkembangan dan Urgensi
Kedudukan Nabi sebagai public figur, terbuka asumsi untuk disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Loyalitas berkadar semu bisa mewarnai sikap sebagian sahabat beliau. Demikian pula setiap informasi mengenai tahapan pembinaan syari’ah versi hadis (sunnah), kebijakan kepemimpinan dan pilihan sikap pribadi dalam menjalani kehidupan, tak luput dari reaksi umat buat mengkritisinya.
Tradisi kritik atas pemberitaan hadis telah terjadi sejak pada masa hidup  nabi Muhammad saw. Motif kritik pemberitaan hadis bercorak konfirmasi, klarifikasi dan upaya memperoleh testimoni yang target akhirnya menguji validitas keterpercayaan berita (al-istitsiqah). Kritik bermotif konfirmasi yakni upaya menjaga kebenaran dan keabsahan berita, antara lain terbaca pada kronologi kejadian yang diriwayatkan oleh Abu Buraidah tentang seorang pria yang tertolak pinangannya untuk mempersunting wanita Banu Laits. Lokasi pemukiman kabilah itu kurang lebih 1 mil dari Madinah. Ia tampil berbusana kostum dimana potongan warna dasar dan ciri-ciri lain yang benar-benar mirip busana keseharian Nabi. Kedatangan pria itu seperti pengakuaannya, membawa pesan dari Nabi untuk singgah di rumah siapapun yang dalam versi riwayat lain untuk membuat perhitungan hukum sendiri. Ternyata pilihan rumah jatuh pada pada kediaman orang tua gadis yang ia gagal meminangnya. Segera warga kabilah Banu Laits mengirim kurir agar menemui Nabi dengan tujuan untuk konfirmasi atas pengakuan sepihak pemuda tersebut. Secepat berita itu sampai pada Nabi, beliau langsung menugasi Abu Bakar dan Umar ibn Khattab untuk menangkap pria itu –ternyata ia seorang munafik- dan menjatuhkan hukuman (bunuh) di tempat.
Senada dengan pernyataan di atas, Dr. Umi Sumbulah, M.Ag juga memberikan pernyataan, bahwa kritik hadis di masa Rasulillah dilakukan dalam bentuk konfirmasi. Hal ini tidak lain sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menstranmisikannya kepada sahabat lain yang tidak mengikuti majlis ta’lim Nabi atau tidak mendengar langsung dari beliau.
Berpijak pada gambaran-gambaran di atas, agaknya dapat dipahami sikap yang pilih-pilih para sahabat maupun ulama dalam mempertanyakan hadis yang merka terima, hal itu dimotivasi oleh sikap kehati-hatian dan tanggung jawab mereka untuk menjaga otentisitas dan orisinilitas sebuah hadis.
Model konfirmasi hadis yang demikian ini relatif sedikit. Namun demikian, para ulama bersepakat bahwa konfirmasi hadis di era Rasulillah ini di pandang sebagai “cikal-bakal” lahirnya ilmu kritik hadis, yang dalam tahap berikutnya menjadi salah satu dari 93 cabang ilmu hadis.
Pada perkembangan selanjutnya, pada era sahabat, tampilan kritik hadis lebih bersifat komparatif/muqaranah. Pola perujukan silang berintikan muqaranah atau perbandingan antar riwayat dari sesama sahabat. Pola muqaranah antar riwayat ini kelak menyerupai praktik i’tibar guna mendapatkan data syahid al-hadis agar asumsi kemandirian sahabat periwayat hadis bisa dibuktikan. Syahid al-hadis adalah periwayatan serupa isi atan hadis, mungkin ada kemiripan struktur kalimatnya dan mungkin hanya semakna saja, oleh sahabat lain yang dapat disejajarkan sebagai riwayat pendukung. Cara yang dilakukan cukup meminta agar sahabat periwayat hadis berhasil mendatangkan perorangan sahabat lain yag memberi kesaksian atas kebenaran hadis nabawi yang ia beritakan. Langkah metodologis tersebut terkesan seakan-akan kalangan sahabat tidak bersedia menerima informasi hadis kecuali dibuktikan oleh kesaksian minimal dua orang yang sama-sama menerima hadis tersebut dari Rasulillah.
Berikut contoh penerapan kaidah komparatif/muqaranah antar riwayat. Yaitu Khalifah Abu Bakar bersikap menolak pemberitaan al-Mughiroh ibn Syu’bah bahwa Rasulillah membagikan 1/6 (seperenam) pusaka kepada nenek pewaris dan tentunya masih banyak beberapa contoh penerapan kaidah komparatif/muqaranah.
Disamping dua metode di atas, konfirmatif dan komparatif, masih terdapat sebuah metode kritik. Ini sebenarnya merupakan pengembangan dari metode komparatif tersebut, hanya saja perbedaaannya terletak pada jika komparatif hanya mengacu kepada hafalan dan menyatukan hadis dimaksud dengan diri perawi, maka komparatif bentuk kedua ini tidak hanya berdasarkan pada kekuatan hafalan seorang perawi, namun juga diperkuat dengan perbandingan terhadap data tertulis yang dapat disimak pada kitab-kitab hadis mereka. Disamping itu, juga terdapat model pengembangan kritik hadis yang dilakukan dengan mengkomparasikan ayat-ayat terkait. Metode komparatif dalam pengertian kedua inilah yang kemudian banyak berkembang dikalangan kritikus hadis hingga beberapa dekade pasca penghujung kepemimpinan sahabat, hingga saat ini.
Permasalahan krusial dalam diskursus ini adalah mengapa kritik hadis begitu penting, terutama dalam kritik sanad terlebih dahulu. Para ulama beralasan bahwa kritik matan hadis baru memiliki arti dan dapat dilakukan setelah kritik terhadap sanad selesai dilakukan. Karena bagaimanapun juga sebuah matan hadis tidak akan pernah dinyatakan sebagai berasal dari Rasulillah jika tanpa disertai sanad.

B.            Tokoh-tokoh Kritikus Hadis
Para tokoh kritikus pada sahabat, yaitu:
1.      Abdullah ibn Abbas (w.68 H)
2.      Siti Aisyah (w. 52 H)
3.      Imran ibn Hushain (w. 52 H)
4.      Abu Hurairah (w. 59 H)
5.      Abdullah ibn Amr ibn al-‘Ash (w. 65 H)
6.      Abdullah ibn Umar (w. 83 H)
7.      Abu Sa’id al-Khudzi (w. 79 H), dan
8.      Anas ibn Malik (w. 92 H)
Seiring dengan berjalannya sejarah hadis yang semakin digoyang oleh berbagai kasus manipulasi hadis, menuntut ulama untuk lebih bersikap ekstra ketat dalam melakukan kritik hadis. Maka pada era selanjutnya perjalanan (rihlah) ilmiah ke berbagai pelosok daerah semakin intensif dilakukan. Sebagai konsekuensi dari rihlah, kemudian bermunculan beberapa kegiatan kritik dengan tokoh-tokoh kritikus termasyhur yang memotorinya. Yaitu:
1.      Kufah dengan tokohnya Sufyan as-Tsauri (97-161 H), Walid ibn Jarrah ( w. 196 H)
2.      Madinah dengan tokohnya Malik ibn Anas (93-158 H)
3.      Beirut dengan tokohnya al-Awza’i (88-158 H)
4.      Wasith dengan tokohnya Syu’bah (83-100 H)
5.      Basrah dengan tokohnya Hammad ibn Salamah (w. 167 H), Hammah ibn Zaid (w. 179 H), Yahya ibn Sa’id al-Qatthan (w. 198 H) dan Abd al-Rahman ibn Mahdi (w. 198 H)
6.      Mesir dengan tokohnya al-Laits ibn Sa’d (w. 175 H) dan al-Syafi’i (w. 204 H)
7.      Makkah dengan tokohnya Ibn ‘Uyainah (107-198 H)
8.      Merv dengan tokohnya Abdullah ibn al-Mubarrak (118-181 H)
Tokoh kritikus hadis di atas, hidup pada abad ke II H yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh kritik penerus mareka di abad ke III H, di antaranya adalah:
1.      Baghdad dengan tokohnya Yahya ibn Ma’in (w. 233 H), Ibnu Hambal (w. 241 H) dan Zuhair ibn Harb (w. 234 H)
2.      Basrah dengan tokohnya Ali ibn al-Madini (w. 234 H) dan Ubaidillah ibn Umar (w. 235 H)
3.      Wasith dengan tokohnya Abu Bakr ibn Abi Syaibah (w. 235 H)
4.      Merv dengan tokohnya Ishaq ibn Rahawaih (w. 238 H)
Dari tokoh-tokoh kritik hadis abad ke III inilah pada perkembangan berikutnya muncul ilmuwan-ilmuwan hadis sekaliber al-Bukhari, al-Darimi, Abu Hatim al-Razi yang karena kontribusi intelektual merekalah hadis maupun ilmu hadis menemukan elanvital-nya sebagai khazanah pola pikir para cerdik cendikiawan di masa-masa berikutnya.

C.           Kitab-kitab yang diperlukan
Adapun kitab-kitab yang diperlukan dalam membantu melakukan kritik sanad hadis adalah:
1.        Kitab-kitab yang membahas biografi singkat para sahabat Nabi, seperti: al-isti’ab fi ma’rifati al-ashhabī, Usud al gabati  fi ma’rifati as-shahabat, al-Ishabatu fi tamyizi shahabat.
2.        Kitab-kitab yang membahas biografi singkat para periwayat hadis yang disusun berdasarkan tingkatan para periwayat dilihat dari segi tertentu, seperti kitab ath-thabaqatu al-kubra, kitab at tadzkirati al-hufazh.
3.        Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadis secara umum, seperti kitab at-tarikhu al-kabīr dan al-jarh wa at-ta’dil
4.        Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadis untuk kitab-kitab hadis tertentu, seperti kitab al-hidayatu wa al-irsyadu fi ma’rifati ahli ats-tsiqāh wa as-sadad, rijalu shahih muslim, dan lain-lain.
5.        Kitab-kitab yang membahas kualitas para periwayat hadis, seperti kitabu ats-tsiqāt, lisanu al-mizan, kitabu adh-dhu’afa, dan lain-lain.
6.        Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadis berdasarkan negara asal mereka. Seperti tarikhu wasith, tarikhu bugdad, mukhtasharu tabaqati ulama ifriqiyyati wa tunis, dan lain-lain
7.        Kitab-kitab yang membahas illat hadis, seperti ‘Ilalu al-hadis, al-‘ilalu wa ma’rifatu ar-rijal, al-‘Ilal, dan lain-lain.

D.           Indikasi Mayor dan Minor Sanad Hadis Shahih
1.      Indikasi Mayor Sanad Hadis Shahih
Untuk meneliti dan mengukur keabsahan suatu hadis diperlukan acuan standar yang dapat digunakan sebagai ukuran menilai kualitas hadis. Acuan yang dipakai adalah kaidah keabsahan (kesahihan) hadis, jika hadis yang diteliti ternyata bukan hadis mutawatir.
Sebagaimana disebut di depan bahwa hadis shahih adalah hadis yang sambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlabith, serta tidak terdapat kejanggalan (syudzuz) dan cacat (‘illat), maka dapat dinyatakan bahwa suatu hadis dinyatakan shahih apabila memenuhi persyaratan (unsur-unsur kaidah mayor kesahihan hadis) sebagai berikut :
a.    Sanad bersambung
1)   Seluruh perawi dalam sanad hadis bersifat adil
2)   Seluruh perawi dalam sanad bersifat dlabith
3)   Sanad dan matan hadis terhindar dari kejanggalan (syudzudz)
b.    Sanad dan matan hadis terhindah dari cacat (‘illat)
Dari kelima butir persyaratan hadis shahih di atas dapat diurai menjadi tujuh butir, yakni lima butir berhubungan dengan sanad, dan dua butir ( matan terhidar dari kejanggalan dan illat) berhubungan dengan matan.
Dengan demikian hadis yang tidak memenuhi salah satu unsur-unsur tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai hadis shahih. Di bawah ini dikemukakan penjelasan lebih rinci (kaidah minor) unsur-unsur dimaksud.
2.      Indikasi Minor Sanad Hadis Shahih
a.         Sanad bersambung
Yang dimaksud dengan sanad bersambung bahwa tiap-tiap perawi dalam sanad hadis menerima riwayat hadis dari perawi terdekat sebelumnya; kaadaan ini berlangsung demikian sampai ahir sanad dari hadis dimaksud. Jadi sanad yang bersambung  itu apabila seluruh rangkaian perawi dalam sanad, mulai dari al-mukharrij sampai kepada perawi tingkat sahabat, yang menerima hadis langsung dari Rasul, bersambung dalam periwayatan.
Untuk mengetahui persambungan sanad, perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)   mencatat semua nama para perawi yang ada dalam sanad
2)   mempelajari sejarah hidup masing-masing perawi yang ada dalam sanad melalui kitab-kitab rijal al-hadis, dengan maksud untuk mengetahui;  pertama, apakah setiap perawi dalam sanad hadis tersebut  dikenal sebagai orang yang adil dan dlabith atau tidak; kedua, apakah antara para perawi dengan perawi terdekat sebelumnya (dalam sanad), terdapat hubungan ke-sezamanan, dan hubungah guru-murid dalam periwayatan hadis.
3)   Meneliti kata-kata yang menghubungkan antar para perawi  terdekat ; artinya apakah kata-kata (simbol periwayatan) yang dipakai berupa: haddatsana, haddatsani, akhbarana, akhbarani, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya.
Jadi suatu sanad hadis baru dinilai bersambung, jika seluruh perawi dalam sanad tersebut benar-benar tsiqat, dan antara para perawi dengan perawi terdekat sebelumnya telah terbukti benar-benar bertemu  (telah terjadi hubungan periwayatan) menurut kaidah tahammul wa ada’ al-hadis.
b.         Perawi yang bersifat adil
Kata adil berasal dari bahasa Arab yang berarti pertengahan, lurus atau condong kepada kebenaran. Sedangkan secara tekhnis (istilah) para ulama berbeda pendapat.  Dari berbagai pendapat itu kemudian dapat disimpulkan dalam empat kriteria. Ke empat butir kriteria itu adalah:
1)   Beragama Islam
2)   Mukallaf
3)   Melaksanakan ketentuan agama (taat menjalankan agama)
4)   Memelihara muru’ah
Persyaratan beragama Islam adalah berlaku bagi kegiatan meriwayatkan hadis, sedangkan untuk kegiatan menerima hadis tidak diisyaratkan beragama Islam. Jadi boleh saja perawi ketika menerima hadis belum beragama Islam, tetapi ketika meriwayatakan ia harus beragama Islam.
Demikian pula persyaratan Mukallaf (baligh dan berakal sehat) merupakan syarat bagi kegiatan menyampaikan hadis. Jadi apabila ketika melakukan kegiatan menerima hadis perawi belum baligh tetap dianggap sah selama sang perawi sudah tamyiz.
Yang dimaksud kriteria taat menjalankan agama adalah teguh dalam beragama, tidak menjalankan dosa besar, tidak berbuat bid’ah, tidak berbuat maksiat dan harus berakhlaq mulia. Adapun yang dimaksud memelihara muru’ah adalah selalu memelihara kesopanan pribadi yang membawa manusia untuk dapat menegakkan kebajikan moral dan kabajikan adat-istiadat.
Untuk mengetahui keadilan perawi hadis para ulama telah menetapkan ketentuan sebagai berikut:
1)      Berdasar popularitas keutamaan perawi  di kalangan para ulama
2)      Berdasar penilaian para kritikus perawi hadis
3)      Berdasar penerapan kaidah al-jarhu wa al-ta’dil. Cara ini ditempuh bila para kritikus perawi tidak mampu menyepakati kualitas pribadi perawi tertentu
Jadi, penetapan keadilan perawi diperlukan kesaksian para ulama, dalam hal ini adalah ulama kritikus perawi hadis.
c.         Perawi bersifat dlabith
Secara harfiyah makna dlabith berarti kuat, tepat, kokoh dan hafal dengan sempurna. Sedangkan secara tekhnis (istilah) berhubungan dengan kapasitas intelektual. Secara umum keriteria dlabith itu dirumuskan sebagai berikut:
1)      Perawi dapat memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya
2)      Perawi hafal dengan baik riwayat yang telah didengarnya
3)      Perawi mampu menyampaikan kembali riwayat yang telah didengar itu dengan baik.
Ketiga kriteria di atas menurut para ulama disebut sebagai dlabith shadr. Selain dlabith shadr ini dikenal pula istilah dlabith kitabah; yaitu sifat yang dimiliki perawi yang memahami dengan sangat baik tulisan hadis yang dimuat dalam kitab yang dimilikinya, dan mengetahui dengan sangat baik letak kesalahan yang ada dalam tulisan yang ada padanya itu.
Sedangkan keadaan atau perilaku yang dapat merusak kedlabitan adalah sebagai berikut:
1)      Dalam meriwayatkan hadis, lebih banyak salahnya
2)       Lebih menonjol sifat lupanya daripada hafalnya
3)       Riwayat yang disampaikan diduga keras mengandung kekeliruan
4)       Riwayat yang disampaikan bertentangan dengan riwayat perawi yang tsiqat
5)       Jelek hafalannya, walaupun ada sebagian periwayatannya yang benar.
d.        Terhindar dari kejanggalan (syudzudz)
Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian syudzudz suatu hadis. Dari berbagai pendapat yang ada, yang paling populer dan banyak diikuti sampai saat ini adalah pendapat Imam al-Syafi’i (wafat 204 H/820 M), yaitu  hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang tsiqat, tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak riwayat yang juga tsiqat
Dari pendapat Imam al-Syafi’i tersebut dapat dinyatakan bahwa kemungkinan suatu hadis mengandung syudzudz, bila hadis tersebut memiliki sanad lebih dari satu. Apabila suatu hadis hanya diriwayatkan oleh serang tsiqat saja, dan pada saat yang sama tidak ada perawi lain yang meriwayatkan, maka hadis tersebut tidak dinyatakan mengandung syudzudz. Artinya  hadis yang hanya memiliki satu sanad saja tidak dikenai kemungkinan mengandung syudzudz.
Salah satu langkah penelitian yang penting untuk  menetapkan kemungkinan terjadinya syudzudz dalam hadis adalah dengan cara membanding-bandingkan satu hadis dengan hadis lain yang satu tema.
Para ulama mengakui bahwa penelitian tentang syudzudz ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kedalaman ilmu di bidang hadis, dan penelitian ini dianggap lebiih sulit dari penelitian illat hadis.
e.         Terhindar dari illat
Perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa pengertian illat disini bukanlah sebagaimana pengertian illat secara umum, yakni cacat yang disebut sebagai tha’nu al-hadis atau jarh. Yang dimaksud illat dalam hal ini adalah sebab-sebab yang tersembunyi, yang merusak kualitas hadis. Keberadaannya menyebabkan hadis yang secara lahiriyah tampak berkualitas shahih, menjadi tidak shahih.
Para ulama mengakui bahwa penelitian illat ini cukup sulit, sebab sangat tersembunyi, bahkan secara lahiriyah tampak shahih. Oleh karena itu diperlukan ketajaman intuisi, kecerdasan dan hafalan serta pemahaman hadis yang cukup luas.
Langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah  menghimpun seluruh sanad untuk matan yang satu tema, kemudin diteliti dengan cara membandingkan sanad yang satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan matannya. Ia perlu dibandingkan dengan matan-matan yang lain. Apabila bertentangan dengan matan-matan hadis lainnya yang senada, atau  kandungannya bertentangan dengan al-Qur’an, maka berarti mengandung illat.
Menurut penjelasan para ulama, illat hadis pada umumnya ditemukan pada:
1)      Sanad yang tampak muttasil dan marfu’, tetapi kenyataannya mauquf, walaupun sanadnya dalam kaadaan muttasil
2)      Sanad yang tampak marfu’ dan muttasil, tetapi kenyataannya mursal, walaupun sanadnya dalam kaadaan muttasil
3)      Dalam hadis itu terjadi kerancuan karena bercampur dengan hadis lain
4)      dalam sanad hadis itu terjadi kekeliruan penyebutan nama periwayat yang memiliki kemiripan atau kesamaan  nama dengan perawi lain yang kualitasnya berbeda.

E.            Indikasi Mayor dan Minor Matan Hadis Shahih
Pada pembahasan di atas telah dijelaskan bahwa kaidah yang harus dipenuhi sehingga suatu hadis dapat dikatakan sebagai riwayat yang sahih ada tujuh; 1)memiliki sanad muttashil; 2) para perawi yang tergabung dalam sanad bersifat adil; 3) para perawi memiliki hafalan yang kuat; 4) sanad terhindar dari syuzuz; 5) sanad terhindar dari ‘illat; 6) matan terhindar dari syudzuz; 7) matan terhindar dari illat.
Dari persyaratan ini diketahui bahwa matan yang shahih adalah matan yang selamat dari  syudzuz dan illat. Kedua kaidah ini kemudian disebut dengan al-Qawa’id al-Kubra li Shihhati al-Matni (kaidah mayor kesahihan matan). Adapun kaidah minor (al-Qawa’id al-Sugra) bagi masing-masing kaidah mayor adalah:
1.    Matan hadis terhindar dari syuzuz
Pengertian tentang kata syadz telah dijelaskan terdahulu, adapun pada bagian ini hanya akan di jelaskan beberapa kaidah minor yang menjadi turunan dari kaidah mayor matan.
Jika dalam sanad yang mengandung syudzuz dilihat dari periwayatnya yang tsiqat yang menyalahi riwayat para rawi yang tsiqat lainnya, maka dalam matan yang mengndung syudzuz dilihat dari segi lafaz/teks hadis yang diriwayatkan oleh orang tsiqat dan menyalahi atau bertentangan dengan lafaz/teks  yang diriwayatkan oleh perawi tsiqat lainnya. Secara ringkas, dapat dinyatakan bahwa kaidah minor (berdasarkan pendapat Imam al-Syafi’i dan al-Khalili) dalam masalah hadis yang terhindar dari syuzuz adalah:
a.    Sanad dari matan yang bersangkutan harus mahfuz dan tidak gharib
b.    Matan hadis bersangkutan tidak bertentangan atau tidak menyalahi riwayat yang lebih kuat
Konsekuensi dari kaidah minor di atas dalam melakukan penelitian terhadap matan hadis yang mengandung syaz adalah bahwa penelitian tidak dapat terlepaskan dari penelitian atas kualitas sanad hadis yang bersangkutan. Dengan demikian langkah metodologis yang perlu ditempuh untuk mengetahui apakah suatu matan hadis itu terdapat syudzuz atau tidak adalah: (1) melakukan penelitian terhadap kualitas sanad matan yang diduga bermasalah, (2) membandingkan redaksi matan yang bersangkutan dengan matan-matan lain yang memiliki tema sama, dan memiliki sanad berbeda, (3) melakukan klarifikasi keselarasan antara redaksi matan-matan hadis yang mengangkat tema sama. Dengan kegiatan ini akan diperoleh kesimpulan, mana matan yang mahfudz dan mana matan yang janggal (syadz). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan penggalian data dengan menempuh langkah takhrij bi al-maudlu’.
2.    Matan hadis terhindar dari ‘illat
Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan tentang pengertian etimologi dan terminologi ‘illat ditinjau dari segi sanad. Adapun pada bagian ini lebih di tekankan akan kaidah minor dari kaidah terhindarnya matan hadis dari ‘illat.
Kaidah minor matan hadis yang terhindar dari ‘illat adalah:
a.    Tidak terdapat ziyadah (tambahan) dalam lafadz
b.    Tidak terdapat idraj (sisipan) dalam lafadz matan
c.    Tidak terjadi idztirab (pertentangan yang tidak dapat dikompromikan) dalam lafadz matan hadis
d.   Jika ziyadah, idraj dan idztirab bertentangan dengan riwayat yang siqat lainnya, maka matan hadis tersebut sekaligus mengandung syuzudz
Langkah metodologis yang perlu ditempuh dalam melacak dugaan illat pada matan hadis adalah: (1) melakukan takhrij (melacak keberadaan hadis) untuk matan bersangkutan, guna mengetahui seluruh jalur sanadnya; (2) melanjutkan kegiatan I’tibar guna mengkategorikan muttaba’ tam/qashir dan menghimpun matan yang bertema sama sekalipun berujung pada pada akhir sanad (nama sahabat) yang berbeda (syahid); (3) mencermati data dan mengkuti segi-segi perbedaan atau kedekatan pada nisbah ungkapan kepada nara sumber, pengantar riwayat (shighat tahdis) dan susunan kalimat matannya, kemudian menentukan sejauh mana unsur perbedaan yang teridentifikasi. Selanjutnya akan diperoleh kesimpulan  apakan kadar deviasi (penyimpangan) dalam penuturan riwayat matan hadis masih dalam batas toleransi (illat khafifah) atau sudah pada taraf merusak dan memanipulasi pemberitaan (illat qadihah).
Khusus untuk penelitian matan, disamping menggunakan pendekatan kaidah syudzudz dan illat, para ulama juga merumuskan acuan standar yang lain untuk menilai keabsahan matan hadis. Secara umum, suatu matan hadis dapat dikatakan shahih apabila:
a.    Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an
b.    Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat
c.    Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera, dan sejarah.
d.   Susunan bahasanya menunjukkan cirri-ciri lafaz kenabian, yaitu; tidak rancu, sesuai dengan kaidah bahasa arab, fasih.
Dalam hal ini Dr. Mushtafa al-Siba’i mengemukakan kriteria sebagai berikut:
a.    Tidak janggal ungkapan redaksinya
b.    Tidak menyalahi orang yang luas pikirannya, sehingga tidak mungkin di ta’wil
c.    Tidak menyalahi perasaan dan pengamatan
d.   Tidak menyimpang dari kaidah umum tentang hukum dan akhlak
e.    Tidak menyalahi para cendekiawan dalam bidang kedokteran
f.     Tidak bertentangan dengan akal sehubungan dengan pokok aqidah
g.    Tidak bertentangan dengan sunnatullah
h.    Tidak mengandung sifat na’if
i.      Tidak menyalahi al-Qur’an dan al-Sunnah yang jelas hukumnya
j.      Tidak bertentangan dengan tarikh (sejarah) yang telah diketahui umum mengenai zaman Nabi  saw.
k.    Tidak menyerupai madzhab yang dianut sang perawi, yang ia mau benar sendiri
l.      Tidak meriwayatkan suatu kejadian yang dapat disaksikan  orang banyak, padahal riwayat itu hanya disampaikan seorang rawi saja
m.  Tidak menguraikan suatu riwayat yang isinya  menonjolkan kepentingan pribadi
n.    Tidak mengandung  uraian yang membesar-besarkan pahala perbuatan yang kecil, dan tidak mengandung ancaman yang berat terhadap perbuatan dosa kecil.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa standar matan yang shahih adalah: (1) Sanad periwayatan berkualitas maqbul; (2) Redaksi matannya terhindar dari illat/cacat; (3) Redaksi matannya terhindar dari syudzuz; (4) Kandungan maknanya tidak bertentangan dengan dalil-dalil dan realitas yang shahih.
Berdasar keriteria tersebut, maka kerangka metodologis penelitian matan dapat disusun melalui langkah-langkah sebagai berikut:
  • Pertama, meneliti matan dengan terlebih dahulu melihat kualitas sanadnya
  • Kedua, meneliti susunan redaksional matan hadis-hadis yang semakna
  • Ketiga, meneliti kandungan makna matan hadis
  • Keempat, langkah terakhir adalah menyimpulkan hasil penelitian matan



BAB III
KESIMPULAN

 Tradisi kritik atas pemberitaan hadis telah terjadi sejak pada masa hidup  nabi Muhammad saw. Motif kritik pemberitaan hadis bercorak konfirmasi, klarifikasi dan upaya memperoleh testimoni yang target akhirnya menguji validitas keterpercayaan berita (al-istitsiqah). Pada perkembangan selanjutnya, pada era sahabat, tampilan kritik hadis lebih bersifat komparatif/muqaranah.  Pola perujukan silang berintikan muqaranah atau perbandingan antar riwayat dari sesama sahabat.
Karena hadis yang sahih sanadnya belum tentu sahih pula matannya, maka sahitnya matan merupakan persyaratan tersendiri bagi kesahihan suatu hadis. Oleh karena itu, para ulama menetapkan tolak ukur atau kriteria tersendiri untuk menetapkan kesahihan mata suatu hadis, yakni terhindar dari syuyudz (berbagai kejanggalan) dan ‘illah (cacat). Melalui kegiatan penelitian sanad dan matan akan dapat diketahui apakah suatu hadis dapat dipertanggung jawabkan sebagai benar-benar berasal dari Nabi saw atau tidak.
Hanya saja, penelitian matan pada umumnya dilakukan setelah penelitian sanad. Ia baru perlu dilakukan apabila sanad hadis tersebut bernilai sahih sehingga dapat dijadikan hujah. Kalau sanad suatu hadis bernilai dhaif (lemah), maka penelitian matan tidak diperlukan lagi.




BAB IV
DAFTAR RUJUKAN

‘Ajjaj al-Khatib. Al-sunnah Qabl at-Tadwin. 1993. Beirut. Dar al-Fikr
Abu Abdullah al-Hakim al-Naisaburi. Ma’rifatu Ulum al-Hadis. kairo. Maktabah al-Mutanabbi, tth
Afif Muhammad. Kritik Matan: Menuju Pendekatan Kontekstual atas Hadis Nabi SAW, dalam Islam Madzhab Masa Depan. 1998. Bandung. Pustaka Hidayah
Al-Khatib al-Baghdadi. al-Kifayat fi Ilmi al-Riwayat. 1972. Mesir. Mathba’ah al-Sa’adah
Arifuddin Ahmad. Paradigma baru Memahami Hadis Nabi. 2005. Jakarta. Renaisan
Hadari Nawawy. Metode Penelitian Bidang Sosial. 1998. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Hasyim Abbas. Kritik Matan Hadis. 2004. Yogyakarta. Teras
Ibnu Mandzur. Lisan al-Arab. Mesir. Dar al-Mishriyah, tth.  Juz XIII
Ibnu Shalah. Muqaddimah. 1999. Beirut. Muassah al-Kutub al-Saqafiyah
Jalal al-Din al-Suyuthi. Tadrib al-Rawi al Taqrib al-Nawawi. Dar al-Kutub al-Hadithah, t.th. Juz II
Khudlary Byk. Tarikh al-Tasyri’ al-Islami. 1964. Mesir. Dar ihya’ al-Kutub
M. Syuhudi Isma’il. Kaidah Kesahihan Sanad Hadis. 1988. Jakarta. Bulan Bintang
-----------------------. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. 1992. Jakarta. Bulan Bintang
M. Thahir al-Jawaby. 1986. Juhud al-Muhadisin fi Naqdi Matni al-Hadis al-Nabawy al-Syarif. Tunisia. Mu’assasah ‘Abd Krim
Maktabah Syamilah. Sunan at-Turmudzi. Juz VIII
Muhammad Ajjaj al-Khatib. Ushul al-hadits Ulumuhu wa Mushthalahuhu. 1975. Bairut. Dar al-Fikr
Muhammad al-Sabbag. al-Hadis al-Nabawiy. 1972. Beirut. al-Makatabah al-Islamiy
Mushtafa al-Siba’I. al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami, terj. 1976. Bandung. Diponegoro
Nuruddin ‘Itr. al-Madkhal ila Ulum al-Hadis. 1972. Madfinah. al-Maktabah al-Ilmiyah
Salahuddin bin Ahmad al-Adlabi. Manhaj Naqd al-Matan. 1983. Beirut. Dar al-Afaq al-Jadidah
Shubhi Shalih. Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu. 1977. Bairut. Dar al-Ilmi li al-Malayin
Umi Sumbulah. Kritik Hadis, Pendekatan Historis Metodologis. Malang. UIN-Malang Press

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.