Langsung ke konten utama

PENDEKATAN SEMANTIK DALAM KAJIAN ISLAM (Kajian Atas Karya Toshihiko Izutsu: “God and Man in The Koran”)

I.              PENDAHULUAN
A.           Tentang Buku
Judul Buku        : Relasi Tuhan dan Manusia
Judul Asli          : God and Man In The Koran
Pengarang          : Toshihiko Izutsu
Penerjemah        : Agus Fahri Husein, Supriyanto Abdullah, dan Amiruddin
Penyunting        : Amiruddin
Penerbit             : PT. Tiara Wacana Yogya (Anggota IKAPI)
Buku karya Prof. Toshihiko Izutsu ini merupakan kajian semantik terhadap konsep-konsep relasi tuhan dan manusia. Dalam melakukan analisis, penulis mengacu pada al-Qur’an. Sebagai penunjang analisisnya, Prof. Toshihiko Izutsu memberikan kutipan-kutipan puisi dari masa pra-Islam (jahiliyah) yang menerangkan bagaimana secara historik suatu konsep lahir, berkembang dan diantisipasi oleh al-Qur’an. Dengan demikian relasi tuhan dan manusia dijelaskan secara semantik-diakronik dan bagaimana konsep-konsep tersebut digunakan di luar bidang agama. Dalam penekanan pada aspek metodologis, yakni analisis sematik atas hubungan personal antara Tuhan dan Manusia, Ia memaparkan segitiga relasi Tuhan dan Manusia dalam al-Qur’an- relasi ontologis, relasi komunikatif, dan relasi etis.
Di samping itu, ia juga melakukan analisis tentang makna dasar dan makna relasional yang berkaitan dengan sehitiga relasi Tuhan dan Manusia tersebut.

B.            Kehidupan Toshihiko Izutsu
Toshihiko Izutsu lahir di Tokyo tahun 4 Mei 1914. Ia adalah pengikut agama Zen-Budha. Ia lahir di tengah keluarga pebisnis yang kaya di Jepang. Ia menguasai banyak bahasa negara-negara lain, tidak terkecuali bahasa Arab dan Inggris. Kegemarannya mempelajari bahasa, dimulai dari kejenuhannya mempelajari agama Zen. Karena sebagai anak pemimpin agama Zen-Budha, ayahandanya terlalu ketat dalam mendidik penghayatan terhadap agama Zen. Kejenuhanya itu dilampiaskan untuk mempelajari berbagai bahasa, Islam dan al Qur’an, hingga ia berhasil melahirkan 4 karya tentang kajian semantik al Qur’an. Selain itu ia adalah seorang Professor pada Institut Studi Kebudayaan dan Bahasa Universitas Keio, Tokyo, dan Professor tamu pada Institut Islamic Studies, McGill University Montreal, dimana selama enam bulan setiap tahunnya ia mengajar mata kuliah Teologi dan Filsafat Islam. Pendekatan yang ia gunakan dalam kajian religius adalah linguistic dan ilmu sosial.  Karya-karyanya yang lain diantaranya adalah: Lenguage and Magic: Studies in The Magical Fungtion of Speech (1956), The Structure of Ethical Terms in The Koran (1959) (yang kemudian direfisi menjadi Ethico-Religious Concepts in The Qur’an), God and Man in The Kora:  a Semantical Analysis of The KoranicWestanchauung (1964), dan The Concept of Belief in Islamic Theology (1965).

II.           ISI BUKU
A.           Fokus Pembahasan
Dalam pembahasan tentang Relasi Tuhan dan Mnusia yang didasarkan pada Qur’an, penulis menekankan pada tiga aspek:
1.    Relasi ontologi
Dalam hal ini, ia menjabarkan beberapa konsep ontologinya, tentang relasi manusia dan tuhan dalam beberpa konsep. Yaitu tentang konsep penciptaan dan nasib manusia.
2.    Relasi komunikatif
Komunikasi antara tuhan dan manusia, bisa dipahami melalui dua pendekatan. Yang pertama bersifat linguistik atau verbal, yakni melalui penggunaan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Sedangakan yang lainnya bersifat non-verbal, yakni melalui penggunaan tanda-tanda alam oleh tuhan, isyarat dan gerakan tubuh oleh manusia.
3.    Relasi etis
Kategori ini menjelaskan tentang prinsip-prinsip dan aturan-aturan tingkah laku yang jadi milik dan hidup dalam masyarakat Islam. Kelompok ketiga ini berhubungan dengan sikap etik antara seorang manusia dengan tuhannya, sebagai lambang ketaatan.
Sesuatu yang penting diperhatikan, bahwa ketiga kelompok tersebut, bagaimanapun tidak bisa berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan yang erat. Hal ini disebabkan adanya fakta bahwa pandangan dunia Qur’anik pada hakikatnya adalah teosentrik. Gambaran tentang Tuhan meliputi seluruh gambaran tersebut, dan tak ada yang terlepas dari ilmu-Nya dan pengawasan-Nya.

B.            Teori Semantik
Dalam hal ini penulis menggunakan teori semantik dalam analisisnya. Yaitu cabang ilmu linguistik yang meneliti arti atau makna. Seluruh pokok persoalan dalam membangun teori semantik terletak pada ‘definisi’ tentang makna, yaitu pemikiran sistematik tentang sifat dasar makna. Menurut penulis, untuk memahami kategori semantik suatu  kata, maka harus diselidiki bagaimana keadaan kata tersebut, jenis sifatnya, bentuk perbuatannya berdasarkan bahasa Arab kuna.
Dr. Machasin mengatakan “keistimewaan yang cukup menonjol dalam buku ini, selain pendekatannya yang relatif baru dalam kajian al-Qur’an adalah penggunaan data-data yang tersimpan dalam khazanah sastra Arab klasik, terutama dari masa sebelum Islam. Walaupn ada pendapat yang meragukan keaslian puisi-puisi yang dinisbahkan kepada para penyair sebelum Islam, pemakaian data-data kebahasaan ini dalam analisis Izutsu cukup menarik untuk disimak.
Maksud semantik di sini menurutnya adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir, tetapi yang lebih penting lagi, pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Dalam hal ini ia menambahkan, bahwa apa yang disebut semantik sekarang ini adalah susunan rumit yang sangat membingungkan. Sangat sulit bagi seorang di luar (disiplin linguistik) untuk mendapat gambaran secara umum seperti apa (semantik) itu. salah satu alasannya, semantik menurut etimologinya adalah merupakan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata, begitu luas sehingga hampir apa saja yang mungkin dianggap memiliki makna merupakan objek semantik.
Untuk lebih mudahnya, bahwa kata al-Qur’an dalam frasa “Semantik al-Qur’an” harus dipahami hanya dalam pengertian Weltanschauung al-Qur’an atau pandangan dunia Qur’ani, yaitu visi Qur’ani tentang alam semesta. Semantik al-Qur’an terutama akan mempermasalahkan persoalan-persoalan bagaimana dunia Wujud distrukturkan, apa unsur pokok dunia, dan bagaimana semuai itu terkait satu sama lain menurut pandangan kitab suci tersebut. Dalam pengertian ini, ia semacam ontologi –suatu ontologi yang konkret, hidup dan dinamik, bukan semacam ontologi sistematik statis yang dihasilkan oleh seorang filsuf pada tingkat pemikiran metafisika yang abstrak. Analisis semantik ini akan membentuk ontologi wujud dan eksistensi pada tingkat konkret sebagaiman tercermin dalam ayat-ayat al-Qur’an. tujuannya adalah memunculkan tipe ontologi hidup yang dinamik dari al-Qur’an dengan penelahaan analitis dan metodologis terhadap konsep-konsep pokok, yaitu konsep-konsep yang tampaknya memainkan peran menentukan dalam pembentukan visi Qur’ani terhadap alam semesta.
Penulis akan mencoba memaparkan salah satu bab dalam buku tersebut, mencoba untuk menggali dari makna semantik itu sendiri menurut pandangan Toshihiko Izutsu.

C.           Relasi Ontologis Antara Tuhan dan Manusia
1.    Konsep Penciptaan
Dalam Weltanschauung religius atau filosofis, eksistensi manusia secara umum memunculkan persoalan besar. Pertanyaan yang selalu bersifat abadi dan berulang-ulang: dari mana manusia berasal? Apa sumber wujudnya di dunia ini? Menurut konsepsi yang benar menurut al-Qur’an adalah sumber wujud itu adalah tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, antara Tuhan dan manusia terdapat hubungan fundamental antara pencipta dan yang diciptakan yang menurut Divina Commedia al-Qur’an, Allah berperan sebagai Pemberi eksistensi dan wujud kepada manusia. Dia adalah pencipta manusia, dan manusia tidak lain hanyalah makhluknya.
Kita telah melihat bahwa konsep tentang Penciptaan Ilahi itu sendiri sama sekali tidak dikenal oleh orang-orang Arab pra-Islam, dan konsep ini juga tampaknya selalu dikaitkan dengan nama Allah. Pengkaitan antara “penciptaan” (khalq) dan “Allah”, ini bagaimanapun tidaklah selalu tetap dan pasti. Karena al-Qur’an menceritakan kepada kita bahwa ada beberapa orang penyembah berhala yang menghubungkan kekuatan penciptaan ini dengan berhala-berhala.
أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Q.S. ar-Ra’du: 16)

Namun hal tersebut agaknya hanyalah merupakan kasus istimewa. Pada kasus-kasus yang lebih umum, aktivitas penciptaan semua yang tampak dinisbatkan pada tuhan yang maha tinggi, Allah. Dan dalam literatur jahiliyah kita dibuat heran karena berjumpa dengan konsep penciptaan ilahi yang sangat dekat dengan konsep al-Qur’an, kecuali jika kita menghilangkan kasus-kasus seperti pemalsuan dan penambahan. Misalnya pada syair karya Antarah berikut konsep tentang penciptaan dihubungkan dengan “Tuhan” (rabb).
”Hai burung yang bertengger di pohon arak, demi tuhan yang menciptakanmu, kau tentu tahu dimanakah mereka (yakni orang-orang yang kukasihi) kini berada”

Jelaslah bahwa ungkapan ”Tuhan yang menciptakan burung” di sini digunakan dalam bentuk sumpah. Ada lagi pemikiran yang diungkapkan oleh penyair yang sama pada sajak berikut ini.
Berbicara tentang seorang gadis yang baru saja meninggal, Antarah mengatakan: ”Ia berharap untuk hidup lama. Toh, Dia yang menciptakan semua yang ada telah mengambil hidupnya untuk kembali (keadaan semula)”

Bahkan konsepsi tentang Allah yang telah meninggikan langit dan meletakkan bulan disana tampaknya sudah ada. Pada contoh berikut ini, penyair serdadu jahiliyah yang terkenal, Baith bin Suraym al-Yashkuri mengacu pada gagasan ini, lagi-lagi dalam bentuk sumpah. Ia bersumpah ”demi Dia yang telah meninggikan langit dan bulan” bahwa ia pasti akan menuntut balas pada musuhnya.
sungguh aku bersumpah demi Dia yang telah meninggikan langit pada tempatnya dan juga bulan, baik pada saat purnama di pertengahan bulan maupun di malam hari ketika bulan sabit

Karena ada kesesuaian antara kesaksian al-Qur’an dan literatur pra Islam mengenai eksistensi konsep penciptaan dikalangan orang-orang Arab jahiliyah, mungkin kita bisa benar-benar meyakini persoalan tersebut. Lalu persoalan yang harus dipecahkan adalah: sejauh manakah konsep tentang penciptaan Ilahiah ini berpengaruh dalam menentukan sifat Weltanschauung Arab pra-Islam. Persoalan ini akan menyadarkan kita apabila kita mengingat, melalui cara sebaliknya, berdasarkan bahwa al-Qur’an mendorong agar orang muslim selalu menyadari eksistensinya sebagai makhluk. Seorang muslim yang kehilangan perasaan kemakhlukannya, akan berhenti sebagai muslim dalam arti kata yang sesungguhnya, karena ia telah jatuh ke dalam dosa besar yakni “kesombongan” suatu konsep penting yang oleh al-Qur’an digambarkan dengan kata-kata seperti tughyan dan istighna, kata yang pertama artinya adalah melampui batas (kemanusiaan) karena kesombongan kata yang kedua berarti merasa dirinya benar-benar bebas dan merdeka (yakni karena tidak ada siapapun, Tuhan pun tidak). Dengan demikian, kesadaran tentang eksistensinya sebagai makhluk berkaitan langsung dengan masalah hubungan Tuan hamba antara Tuhan dan manusia.
Oleh karna itu, kata-kata seperti khalq "penciptaan", khaliq "pen­cipta", bari "originator"/pemula dan sebagainya dalam literatur pra-Islam jangan sampai menyesatkan kita kepada pikiran bahwa konsep tentang Penciptaan Ilahiah memainkan peranan yang menentukan dalam pan­dangan dunia jahiliyah. Kata-kata tersebut dan beberapa kata serupa lainnya yang memiliki arti "penciptaan" yang berkumpul di sekitar nama Allah hanya dirumuskan secara samar-samar dan secara longgar dibatasi oleh medan semantik, yang dengan sendirinya termasuk dalam medan yang lebih luas yang merujuk pada tatanan wujud supranatural. Tetapi, perlu kita ingat medan semantik wujud-wujud supranatural ini hanya menempati tempat yang sempit dan pinggiran dalam keseluruhan sistem konseptual pra-Islam. Berbeda dengan sistem al-Qur'an di mana Allah sang Pencipta menguasai seluruh Weltanschauung, jahiliyyah tidaklah begitu mementingkan medan semantik ini. Oleh karna itu, tidak mema­inkan peran yang menentukan dalam Weltanschauung jahiliyah. Hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa gagasan tentang keberadaan Allah sebagai sumber eksistensi manusia, bila memang ada, sangat kecil artinya dalam pikiran orang-orang Arab pra-Islam. Inilah sebabnya al-Qur'an berusaha keras menyadarkan mereka akan pentingnya gagasan ini dan menyadarkan mereka akan besarnya implikasi gagasan tersebut.
2.    Nasib Manusia
Tampaknya ada alasan lain kenapa konsep Penciptaan Ilahiah kurang penting pada masa paganisme sekalipun fakta menunjukkan konsep itu sendiri sebenarnya ada di kalangan orang-orang Arab jahiliyah. Konsep ini merupakan konsep yang lemah karna orang-orang Arab pada masa pra-Islam tidak begitu menghiraukan asal-usul wujud mereka. Perhatian mereka terutama tertuju pada "akhir" kehidupan, yaitu Kematian. Sebe­narnya, setiap pembaca literatur pra-Islam cepat atau lambat akan me­nyadari bahwa Kematian merupakan satu-satunya persoalan yang mun­cul dalam pikiran orang jahiliyyah, semacam meditasi filosofis. Orang­-orang Arab jahiliyyah, yang pada hakikatnya kurang cenderung berpikir filosofis, bisa menjadi filsuf hanya bila mereka sungguh-sungguh disadarkan bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya terjadi. Karenanya, persoalan yang sangat disukai oleh penyair-penyair pra-Islam adalah: masalah khulud "kehidupan yang abadi", sesuatu yang mustahil dicapai walaupun benar-benar mereka sadari, sehingga memaksa mereka me­ngembangkan filsafat hidup yang khas, yakni nihilisme pesimistik.
Bagaimanapun, bila seorang jahiliyyah tidak sepenuhnya tercurahkan pada urusan-urusan keduniaan, keberanian, mengganggu dan merampas, kapan saja ia menemukan waktu untuk kembali kepada dirinya sendiri dan merenungkan kehidupannya, maka persoalan pertama yang muncul dalam pikirannya tampaknya adalah Kematian dan "kekuasaan" atau "penyebab" yang membawa kematian itu kepadanya. Ini merupakan per­soalan nasib manusia bagi orang-orang Arab pra-Islam. Harus diingat bahwa konsepsi ini tidak mencakup gagasan tentang Hari Kemudian, sementara dalam kasus-kasus biasa "nasib manusia" terutama menyang­kut persoalan kehidupan setelah mati. Dalam kasus orang-orang Arab jahiliyah, bahkan yang menyangkut persoalan ini, perhatian hampir-­hampir secara eksklusif dipusatkan pada jangka kehidupan di bumi pada saat ini juga, dengan penekanan utama pada akhir batas kehidupan; apa yang akan terjadi setelah melewati batas terakhir itu, tidak menjadi perhatian dalam pikiran orang jahiIiyyah. Di samping itu, sebagaimana telah kita lihat, bagi hampir semua orang Arab pra-Islam tidak ada apa pun setelah berakhirnya kehidupan ini. Tubuh manusia, apabila sudah dikubur di bumi, rusak dan menjadi debu sementara rohnya terbang seperti angin yang bertiup.
هل نحن إلا كأجساد نمر بها تحت التراب وأرْواح كأرْواح
"Apa kami ini (bila bukan semacam gabungan antara raga dengan jiwa?) Tubuh, yang dengannya kami masuk ke bumi (pada saat kematian kami), sedangkan roh (menghilang) seperti hembusan angin."

Dari semua tahap kehidupan seseorang, tahap yang terakhir, yakni Kematian, sebagaimana vang telah saya katakan, merupakan tahap yang paling penting dalam konsepsi jahiliyyah tentang eksistensi manusia. Tahap pertama, yakni awal mula dan asal mula eksistensinya, tidaklah begitu menjadi perhatian. Tetapi, apabila hal itu diperhatikan, biasanya dikaitkan dengan konsep penciptaan. Pada bab yang baru lalu kita nyata­kan bahwa konsep Allah-Sang Pencipta telah dikenal oleh orang-orang Arab pra-Islam. Juga menurut sistem jahiliyyah, yang menjadi penyebab adanya manusia adalah aktivitas kreatif Allah. Tapi, di sini ada persoalan yang sangat menarik untuk dicatat. Manusia, apabila telah diciptakan oleh Allah, boleh dikatakan telah memutuskan ikatannya dengan Pen­ciptanya, sehingga eksistensinya di bumi semenjak saat itu, dikuasai oleh yang lain, yang jauh lebih kuat, yakni Penguasa. Dan pengaruh kekuasaan dari Penguasa ini terus berlangsung sampai saat kematiannya, yang tidak lain merupakan puncak dari tirani dan penindasan yang membuat ia harus merintih sepanjang hidupnya.
Kekuasaan tirani ini disebut Dahr "Waktu". Pada bab III telah kita kutip dalam kaitannya dengan masalah yang berlainan, sebuah ayat AI-Qur'an, di mana kata tersebut diucapkan oleh orang-orang kafir.
"Mereka berkata:
"Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup tidak ada yang membinasakan kita selain Masa".
ولولا نبل عوضٍ في ... حظباي وأوصالي

Dahr mempunyai be­berapa nama lain: yakni, Zaman "Waktu", ‘Asr, (abad, masa), Ayyam "Ha­ri", Aud "Waktu", tetapi gagasan yang mendasarinya­ selalu sama. Di sini saya hanya memberikan beberapa contoh.
   'Aud

Seandainya tidak ada panah Aud menyerang pada seluruh badan dan anggota ba­danku kata penyair jahiliyvah al-Find al-Zimmiini (al-HamSsah CLXXVI, 3) menge­luhkan kerusakan karena lanjut usia.
Zaman
فَغَيّرْنَ آياتِ الدّيارِ مع البِلى وليسَ على ريبِ الزمانِ كفيلُ
(Angin dan hujan) secara sempurna mengubah aspek tempat kediaman bersama-sama dengan kerusakan karena waktu. Sebenarnya tidak ada jaminan ada penentang kekuatan destruktif Zaman.(Tarafah. Diwan ed. M. Seligsohn. Pans. 1901, IV. 4).
Zaman
هل عيشة طابت لنا الا وقد ابلي الزمان قديمها وجديدها
'Tidak ada jalan kehidupan tampak menyenangkan bagi kita daripada yang dirusak secara sempurna oleh Zaman. baik ia menjadi usang atau baru." (Antarah, Diwan, him. 61 sajak 5).
'Asr
فإِنْ تَشِبِ القُرُونُ فذاكَ عَصْرٌ ... وعاقِبَةُ الأَصَاغِرِ أَنْ يَشِيبُوا
Jika kunci-kunci saya menjadi abu-abu, ini adalah perbuatan Asr, dan akhir yang niscaya dari semua yang muda berambut abu-abu. ('Abd Allah Salimah. al-MufadrlalivVat. XVIII, sajak 11).

Berkenaan dengan Dahr itu sendiri, cukup mudah bagi kita untuk memisahkan citra dasar yang mendasari konsep ini dari sajak-sajak di mana kata ini muncul. Misalnya, sajak dari Ta'abbata Sharran berikut ini menggambarkan kepada kita tentang tiran yang tidak memiliki belas kasihan dan berdarah dingin sehingga seorang pahlawan yang paling berani sekalipun tidak berani melawannya:
"Dahr telah merampasku, Dahr tiran yang tak berbelas kasihan, (betapa kasihan temanku) angkuh dan tak membiarkan orang yang dibela untuk dihina.”

Seringkali Dahr digambarkan sebagai binatang buas yang menggigit Anda dengan giginya yang tajam.
" Sungguh Dahr telah menancapkan giginya (yang tak pernah dilepaskan), selalu siap untuk melukai kita."

"Ketika Dahr menggigit anda dengan giginya yang mencelakakan, maka gigitlah ia dengan segenap kemampuanmu seperti ia telah menggigitmu."tt'

Dengan demikian pandangan pra-Islam terhadap kehidupan manusia merupakan sesuatu yang gelap dan misterius yang mengepakkan sayap tiraninva terhadap proses kehidupan setiap orang semenjak ayunan sam­pai liang kubur. Dan sesuatu vang kira-kira berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan "Nasib", hampir secara eksklusif dipahami sebagai kekuatan perusak setengah-personal yang tidak saja membawa segala sesuatu kepada kerusakan, tetapi juga senantiasa menyebabkan penderitaan, kesengsaraan, dan kecelakaan eksistensi manusia sepan­jang masa hidupnya. Aspek terakhir manifestasi aktivitas destruktifnva memiliki sejumlah nama khusus, seperti suruf "(suruf Dahr), hadathan (hadathan Dahr), atau hawadith, rayb ("rayb Dahr atau "rayb Zaman), dan lain-lain., semua berarti memiliki arti kira-kira "giliran (keberuntungan) yang tak dapat diperkirakan; kadang-kadang secara kiasan disebut seba­gai banar al-dahr "Anak puteri Dahr".
"Setelah melihat kematian (kakek saya) raja al-Harith, dan (ayah saya) Hujr yang tiada bandingnya, yang memiliki banyak rumah besar bagaimana mungkin saya mengharapkan kelembutan suraf (giliran) Dahr, yang saya tahu, tak pernah membiarkan begitu saja bahkan pegunungan karang yang kokoh?"

"Anak puteri Dahr telah menembakku dan suatu tempat yang tak dapat kulihat. Apa yang dapat dilakukan seseorang ketika ia ditembak tanpa dapat membalas menembaknya?"

Dan tak scorang pun, bahkan serdadu yang paling beranipun, juga orang yang paling bijaksana, yang dapat melarikan diri dari tirani Dahr yang datang tak terduga-duga. Di dasar kedalaman psimisme jahiliyyah yang tak dapat ditawar-tawar lagi terdapat konsepsi gelap terhadap nasib manusia seperti itu.
Kekuatan destruktif Dahr terutama menjadi nyata pada akhir eksis­tensi manusia. Menarik bahwa kemudian Dahr berobah namanya dan memiliki beberapa nama baru. Nama yang paling umum adalah maniyyah (jamak dari manaya), manun, himam, hummah.
Pada sajak berikutnya ini dalam Diwan dari suku Hudhayl, dua kata-­kata yang disebutkan di sini digunakan secara bergantian, sehingga me­nunjukkan bahwa kata-kata tersebut praktis sinonim satu sama lainnya.
"Ya, sesungguhnya, Manaya selalu memperoleh kemenangan pada akhir­nya, bahkan jimat tidak berguna untuk melawan kekuatan Himam yang merusak.

Semua kata ini berarti "kematian". Tetapi maknanya bukan semata-­mata "kematian", tetapi "kematian" sebagai manifestasi yang paling akhir dan paling destruktif dari kekuatan Dahr. Maka, meskipun menurut konteks tersebut kita menemukan kata maut "kematian" seringkali digu­nakan sedemikian rupa sehingga dapat digantikan secara bebas oleh salah satu dari kata-kata tersebut, namun secara semantik terdapat per­bedaan besar antara kedua kasus tersebut. Maut artinya "kematian" seba­gai sesuatu yang natural-biologis, kita dapat mengatakan sebagai feno­mena, sedangkan kelompok kata yang kita bicarakan di sini merupakan bidang semantik nasib manusia yang diwakili oleh kata-fokus Dahr. Dengan kata lain, kata-kata tersebut mengacu pada fase akhir kekuasaan Dahr terhadap masa-kehidupan manusia; kata-kata tersebut mewakili bentuk-bentuk khusus yang dimiliki Dahr pada saat menuju kepada tujuan akhir. Maka wajarlah bahwa tujuan itu sendiri juga seringkali ditunjukkan oleh kata yang sama.
Mengenai kon­sep titik akhir atau tujuan kekuasaan Dahr, ada hal lain yang penting diper­hatikan. Sebagai­mana telah kita ke­tahui, titik akhir ini dari sudut pandang biologis berkaitan, dengan "kematian" persis seperti "penciptaan" berkaitan dengan "kela­hiran". Tetapi ini belumlah akhir dari seluruh kisah.
Titik akhir kekuasaan Dahr dapat dilihat dari sudut pandang yang agak berbeda, yakni determinisme. Dan sesungguhnya ini merupakan pan­dangan yang sangat umum di kalangan orang-orang Arab pra-Islam. Konsepsi tersebut adalah bahwa titik akhir jangka kehidupan manusia dalam masing-masing kasus secara pasti telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, setiap orang memiliki hari yang dijanjikan, saat ia harus menghadapi kematian. "Kematian" menurut sudut pandang ini disebut ajal, "waktu yang dijanjikan".
Apabila hari tersebut tiba, maka segala sesuatunya, betapapun kecil dan lemahnya, dapat membunuh siapa saja, betapapun kuatnya ia. AI-Sa­lakah, ibu dari al-Salik yang dikucilkan pada masa pra-Islam, meratapi kematian anak laki-lakinya dan pada saat yang sama menghibur dirinya:
"Apa saja bisa membunuhmu apabila ajalmu telah tiba."
Seperti kata al-Nabighah dalam salah satu puisinya, Dahr merupakan suatu yang tertulis (maktub, dari kataba "menulis")". Dan tak seo­rangpun dapat menundanya seharipun.
"Ketika sampai kepadaku panah kematian (kiasan tentang suatu per­mainan untungan-untungan, sejenis lotere dengan anak panah), maka aku tak pernah kehilangan kesabaran, karena (apa gunanya?) Apakah benar-­benar ada yang dapat tetap hidup melampaui (saat yang dijanjikan)?"

Apa pun yang dapat Anda lakukan, Anda tak dapat melampaui meski­pun hanya satu jam dari waktu yang dijanjikan, sebagaimana ditegaskan 'Antarah dalam salah satu puisinya:
"Jangan lari bila kau telah berada di medan tempur, karena melarikan din dari musuh tidak akan pernah menunda waktu yang dijanjikan (ajal)".

Jadi, setiap orang memiliki ajalnya sendiri, dan setiap hari satu lang­kah menuju waktu yang ditetapkan. Menurut pandangan filosofis penyair jahiliyyah ada suatu panorama yang luar biasa dan tragis bagi semua manusia yang bergerak pasti menuju tujuan akhir.
"Dengarkan Harith! Matahari tak pernah terbenam dan terbit, kecuali ajal telah menariknya lebih dekat ke waktu yang ditentukan (mi'ad).”

Ini sesungguhnya merupakan pandangan yang sangat suram terhadap kehidupan, seluruh rentang kehidupan yang dipahami sebagai serang­kaian peristiwa yang penuh bencana, yang tidak dikendalikan oleh hu­kum pertumbuhan dan kerusakan alamiah, tetapi oleh suatu kehendak gaib yang tak dapat dimengerti dan gelap, sesuatu yang semi-personal, sehingga tidak ada jalan untuk melepaskan diri. Hanya dengan meng­hadapi latar belakang atmosfir yang tragis inilah kita dapat memahami signifikansi historis pandangan dunia al-Qur'an yang sebenarnya.
Sesungguhnya, al-Qur'an menawarkan gambaran yang sama sekali berbeda tentang keadaan manusia. Secara tiba-tiba, langit menjadi cerah, kegelapan sirna, dan dalam pandangan yang tragis tersebut muncul pe­mandangan baru tentang kehidupan abadi yang cerah. Perbedaan antara dua pandangan dunia'tersebut terhadap masalah ini benar-benar seperti perhedaan antara siang dan malam.
Menurut sistem Islam yang baru, Allah juga merupakan Pencipta yang menandai titik awal kehidupan manusia. Tetapi di muka telah kita bica­rakan tentang perbedaan yang mendasar. Menurut sistem jahiliyyah lama, aktivitas kreatif Allah adalah awal maupun akhir intervensi-Nya dalam urusan manusia. Pada umumnya Dia tidak menaruh perhatian pada apa yang telah diciptakan-Nya seperti ayah tak bertanggung jawab yang tak pernah menaruh perhatian terhadap anak-anaknya; dan seba­gaimana telah kita ketahui, tugas tersebut diambil alih oleh Wujud lain yang disebut Dahr.
Sebaliknya menurut sistem Islam, penciptaan hanya menandai awal kekuasaan Tuhan terhadap segala sesuatu yang diciptakan. Semua urus­an manusia, sampai yang terkecil dan tak berarti sekalipun semuanya dalam pengawasan ketat Allah. Yang paling penting mengenai ini adalah bahwa Tuhan, menurut al-Qur'an adalah Tuhan Yang Maha adil, yang tidak pernah berbuat salah (zulm) terhadap siapa pun. Bukan lagi Dahr, dan bukan lagi intrik Dahr. Eksistensi Dahr itu sendiri secara terang-­terangan dibantah sebagai hasil imajinasi yang tidak berdasar. Seluruh perjalanan hidup manusia kemudian ditempatkan dalam kendali Tuhan secara mutlak.
Tentu saja masalah kematian tetap ada, karena ia merupakan suatu yang niscaya.

"Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menyusulmu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati"

Ini karena Allah telah "menetapkan kematian bagi semua manusia". Dan Allah "yang memberikan hidup dan mati” menurut kehendak-Nya.

Konsep tentang ajal tetap ada dalam sistem Islam sebagaimana dalam sistem jahiliyyah. Juga di sini, ajal merupakan "waktu yang ditetapkan", dan apabila diterapkan pada konsep kehidupan manusia, maka artinya tidak lain adalah "kematian" sebagai saat akhir yang ditentukan oleh Allah.
"Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya)."

"Sesuatu yang ternyata tidak akan mati melainkan dengan izin AllAh, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."

Bagaimanapun keniscayaan mati dalam bentuk ajal, menurut konsep­si Islam tidak menuju kepada pandangan suram psimistik sebagaimana terjadi pada zaman jahiliyyah, karena ajal dalam pengertian Welstans­chauung baru, bukanlah titik akhir eksistensi manusia. Sebaliknya, kema­tian merupakan permulaan kehidupan yang sama sekali baru dan lain, kehidupan abadi (khulud). Dalam sistem ini, ajal, kematian, pada setiap orang tidak lain adalah sebagai tahap pertengahan dari seluruh rentang kehidupannya, suatu titik balik dalam sejarah kehidupan yang terletak antara dunia dan akhirat. Berbeda dengan pandangan jahiliyyah tentang kehidupan yang tidak melihat sesuatupun di balik ajal, pandangan al-­Qur'an secara jelas melihat di balik ajal ada kehidupan nyata. Nyata karena ia "abadi" (khalid) sebagaimana selalu ditegaskan al-Qur'an.
Dan sebagaimana se­tiap orang memiliki ajalnya sendiri, maka Dunia sendiri memiliki ajal akhirnya, yang tidak lain adalah "Waktu" (al­-sa'ah), Hari Pengadilan. Di balik ajal akhir ini manusia melangkah ke dalam kehidupan abadi yang baru. Perlu diperhatikan bahwa menurut konsepsi al-Qur'an, seluruh proses ini, yang meliputi kehidupan di Dunia dan kehidupan di Akhirat, berada dalam kendali Allah. Hal ini membangkitkan dalam batas-batas paruh pertama dari rangkaian eksistensi manusia -­yakni, rentangan garis antara kelahiran dan kematian- persoalan qada’ dan qadar "ketetapan Tuhan" yang sangat terkenal yang diakui merupakan salah satu persoalan paling sulit yang dihadapi pemikiran Islam dikemudian hari.
Apakah qada' dan qadar tersebut sudah dinyatakan dan dirumuskan dengan jelas dalam al-Qur'an sebagaimana ditepaskan oleh para teolog, atau apakah seperti pendapat Dr. Daud Rahbar, di sini para teolog yang membacakan pikiran mereka ke dalam al-Qur'an, sulit dipastikan. Teta­pi apa pun kemungkinannya, cukup jelas bahwa al-Qur'an sendiri mc­munculkan masalah ini dalam bentuk yang sangat serius dengan adanya kenyataan bahwa al-Qur'an meletakkan seluruh rangkaian kchidupan manusia menurut kendali kehendak Tuhan secara mutlak.
Dalam studi ini, tidak perlu bagi kita berusaha menjelajah rumitnya masalah ini. Menurut saya, masalah tersebut lebih tepat dibicarakan oleh para teolog Islam. Di samping itu, semua ayat yang relevan di dalam al-Qur'an telah diteliti secara filologis oleh Dr. Rahbar. Oleh karena itu, di sini saya cukup puas dengan menambahkan beberapa patah kata saja.
Bahwa konsep qada' dan qadar bukan merupakan penemuan ahli teologi diperlihatkan oleh kenyataan bahkan sebelum munculnya Islam, gagasan yang hampir mirip tersebut tampaknya telah beredar di kalangan orang-orang Arab yang memiliki kecenderungan religius tertentu, bah­kan di luar kelompok kecil para Hanif. Penyair besar Labid adalah salah seorang yang terang-terangan mengakui keyakinannya terhadap qada dan qadar itu. Inilah contohnya:
"Kami orang-orang yang tidak dapat menghapus apa yang telah Dia (Allah) tuliskan (kitab). Bagaimana mungkin, bila qada-Nya mutlak tak dapat diubah".

Kata qadar juga digunakan oleh Labid dengan arti yang sama:
"Bahkan dalam kesusahan yang dalam aku tak pernah berkata: 'betapa sengsaranya aku' karena qadar telah menentukannya"

Bahwa sajak-sajak tersebut dan sajak-sajak serupa tidak perlu dije­laskan sebagai palsu sebagaimana sering dilakukan akan menjadi jelas bagi semua orang yang terbiasa dengan keberagamaan yang mendalam dan kecenderungan monoteistik penyair ini.
Selanjutnya perlu kita perhatikan bahwa penggunaan kata kitab "apa yang telah ditulis Allah", Ketetapan Ilahi, bukanlah merupakan satu­-satunya contoh. Dalam Diwan suku Hudhayl misalnya, Usamah bin al-Harith meng­gunakan kata yang sama dengan pengertian yang sama, untuk menya­takan nasib malang sukunya:
"akan tetapi demikianlah kitab (ketetapan sebelumnya) buat mereka."

III.        PENUTUP
            Keseluruhan tubuh konsep kunci mempunya struktur yang kurang lebih tertutup dan independen – sebuah sistem, yang selanjutnya dapat dibagi menjadi sejumlah sub-sistem.
            Keseluruhan masalah didasarkan pada ide dasar bahwa masing-masing sistem linguistik – bahasa Arab di satu pihak dan bahasa Arab Qur’an di pihak lain, menunjukkan konsep yang terkoordinasi, yang umumnya sama-sama asing bagi pembicara bahasa yang dibahas. Dengan demikian bahasa Qur’anik berkorespondensi, dalam aspek konotatifnya, dengan yang disebut pandangan dunia Qur’anik, yang merupakan suatu bagian dari pandangan-dunia yang lebih luas, yang digambarkan bahasa Arab klasik. Demikianlah bahasa etik dari Qur’an hanya menunjukkan suatu segmen dari keseluruhan pandangan dunia Qur’anik. Dan istilah etika religius merupakan suatu sistem kecil dan relatif independen
Secara semantik, periode periode transisi yang di satu sisi secara definitif memisahkan masa pra-Islam dengan masa Islam, dan di lain pihak menggabungkan keduannya secara halus, merupakan salah satu periode yang menarik dalam keseluruhan sejarah pemikiran Islam, tidak hanya karena periode ini menandai masa permulaan dari Islam itu sendiri, tetapi juga karena dalam level yang lebih teoritik periode ini mengilustrasikan fenomena semantik dimana istilah-istilah kunci membentuk sistem yang terintegrasi, tertransformasikan dalam struktur konotatifnya, dimodifikasi dalam kombinasinya, dan dengan tambahan sejumlah istilah kunci baru, akhhirnya terintegrasi ke dalam suatu sistem yang sama sekali berbeda.
Turunnya al-Qur’an merupakan suatu revolusi sepiritual yang menyebabkan reaksi yang tampak jelas dalam berbagai jalan kehidupan, baik sosial maupun pribadi, bahkan sisi material kehidupan Arab pun terpengaruh.
Beberapa nilai pra-Islam ditolak secara total oleh Qur’an. Tetapi kebanyakan nilai itu diterima, dimodifikasi, dikembangkan sesuai dengan tuntutan dari agama yang baru (Islam). Nilai yang lama secara radikal ditransformasikan dan sepenuhnya dilepaskan dari model kehidupan kesukuan tradisional, dilahirkan kembali sebagai nilai etika religius yang baru dan membentuk bagian yang integral dalam system Islam.

IV.        DAFTAR PUSTAKA
http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka--liesmaysar-940.
http://en.wikipedia.org/wiki/Toshihiko_Izutsu
http://www.bible.ca/islam/library/islam-quotes-izutsu.htm.
Leech, Geoffrey. Semantik.
Maktabah Syamilah. Al’aqd al-farid aljuz al-awwal almulif ast-tsani. Juz 5
--------------- Al’aqd al-farid. Juz 1
--------------- al-Mufaddlaliyyat. Juz 1
--------------- Muntaha ath-Thalab min Asy’ar al-Arab. Juz 1
 --------------- Syarah Diwan al-Hammasah. Juz 1
Toshihiko Izutsu. Konsep-konsep Etika Religius dalam Qur’an. 2003. Cet ke-2. Yogyakarta. Tiara Wacana.
--------------- Relasi Tuhan dan Manusia. 2003. Cet ke-2. Yogyakarta. Tiara Wacana.
Verhaar, J.W.M. Asas-asas Linguistik Umum.

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.