Langsung ke konten utama

MUKTAMAR NU KE-33

“ Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”

Indonesia memiliki dua organisasi keagamaan yang besar dan juga sama-sama tua, apalagi jika bukan Muhammadiyah (lahir 1912:103 tahun) dan Nahdlatul ‘Ulama (1926:89 tahun), keduanya lahir sebelum kemerdekan negeri Nusantara ini. Muktamar NU ke-33 akan berlngsung pada tanggal 1-5 Agustus 2015 di Jombang, sementara muktamar Muhammadiyah ke-47 berlangsung pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makasar. Ini merupakan sebuah truisme belaka, takdir sejarah yang insyaAllah akan membawa berkah bagi bangsa ini ke depan.
Muktamar keduanya memiliki tema yang nyaris sama: NU “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”, sedangkan Muhammadiyah “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Sebuah kemiripan yang juga truisme belaka: menggambarkan wilayah kepedulian yang mengatasi dan melintasi golongan, suku, etnis, dan agama. Sebagai rasa kepedulian yang sudah pada level kebangsaan dan kemanusiaan secara universal.

Tema tersebut diangkat sebagai keprihatinan umat Islam terutama kaum nahdliyyin dalam menyikapi isu-isu keislaman saat ini semakin berkembang, apalagi jika bukan konflik-konflik yang terjadi, baik skala lokal, nasional, regional maupun global. Berbagai kekerasan yang terbungkus dalam topeng agama saat ini semakin tidak terkontrol, Islam yang seharusnya menjadi terdepan dalam berbagai aspek, membawa kedamaian, dan Islam Rahmatan lil ‘Alamin” tidak lagi menjadi prinsip hidup namun hanya menjadi jargon yang lambat laun semakin pudar.
Umat Islam, pemerintah, media dan bangsa ini menyambut antusias muktamar akbar kedua ormas besar ini. Apalagi mereka yang menyadari betapa besar sumbangsih kedua ormas ini dalam perjalanan sejarah republik ini yang berdasarkan pancasila. Sebagai mainstream Islam Indonesia, merupakan bentuk final dari cita-cita bernegara bukan hanya memberikan jaminan tetap tegaknya pancasila, melainkan juga menentramkan semua pihak.
Akhir-akhir ini, isu mengenai keberagamaan semakin anarkis. Transnasionalisme politik yang berbaur dengan agama menjadi salah satu fenomena yang potensial semakin meningkat dimasa depan. Hal tersebut tidak mustahil karena adanya media, baik melalui internet mapun televisi yang membantu tranformasi gagasan dan praksis transnasionalisme segera menyebar keseluruh dunia. Wacana dan gerakan transnasional politik-agama tidak hanya mengacaukan kehidupan agama dan mengubah lanskap sosioreligius tetapi sekaligus mengancam eksistensi Negeri Nusantara ini.
Lahirnya kelompok-kelompok radikal ini, semisal ISIS (Islamc State Of Iraq and Syuriah) bisa dengan cepat menyebar keseluruh dunia dan dianggap sebagai isu global. Padahal wacana dan praksis ISIS sangat kental bersifat politis, mendirikan apa yang mereka sebut sebagai khilafah atau disamarkan dengan daulah Islamiyah. Memanfaatkan sektarianisme Sunni-Syiah, ia melakukan kekerasan dan brutalisme dengan membunuh siapa saja yang mereka temui dan tidak sepandangan. Oleh karenanya, transnasionalisme ISIS tidak hanya berbahaya dalam hal pandangan keagamaannya, namun juga dalam praksisnya yang penuh kekerasan dan brutalisme yang menyimpang jauh dari ajaran Islam yang menekankan rahmat bagi seluruh alam.
Maka dalam muktamar ke-33 NU kali ini, tema tersebut sangat relevan. Dengan keberadaan kelompok-kelompok radikal yang minoritas, telah merusak wajah Islam sesungguhnya, yang dibakar rasa kebencian dan permusuhan. Tentu saja hal itu, telah merobek-robek jatidiri Islam yang selalu mempromosikan “salam” (kedamaian).
Di website nu.or.id, wawancara resmi dengan media, ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj mengatakan, bahwa Islam bukan hanya akidah dan syariah semata tetapi ilmu pengetahuan dan peradaban. “NU sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban”. Dengan kematangan dalam berislam yang moderat dan toleran, serta pandangan kenegaraannya yang nasionalis dan dan patriotis, keduanya menjadi jangkar utama bangsa yang majemuk ini. Para ulama boleh datang dan pergi silih berganti tetapi mereka selalu merupakan tokoh-tokoh bangsa yang mengutamakan Negara di atas golongan. Sungguh tak terbayangkan, bagaimana wajah Islam di bumi nusantara ini, jika tidak memiliki ormas keagamaan terbesar seluruh dunia ini. Meski saja tetap ditakdirkan sebagai menjadi Negara sebagai mayoritas muslim, besar kemungkinan Negeri ini secara ideologi dan politik akan berkembang menjadi seperti yang terjadi di beberapa Negara timur tengah, yang kaotik dan konfliktual.

Siapapun yang terpilih pada muktamar kali ini (ketua umum PBNU dan Rois Am), kita berharap para ulama selalu menjaga amanah dasar NU dengan menjalankan ketiga fungsi yaitu pendidikan, sosial kemasyarakatan dan dakwah. Sesuai dengan lambang NU yakni bola dunia yang diikat tali dan terdapat sembilan bintang, memberikan misi dan perjuangan NU untuk merekatkan umat Islam secara global melalui peranan para ulama yang mewakili simbol sembilan bintang tersebut. Keberagaman dalam beragama merupakan harga mati, dalam dekade ke depan kita akan menyaksikan kiprah atau sumbangsih yang didekasikan oleh perjuangan para ulama untuk bumi pertiwi ini. ‘ala kulli hal, besar harapan bangsa diletakkan dipundak para ulama ini. Semoga..!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

TASAWUF (MISTISISME)

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Tasawuf adalah nama lain dari mistisisme dalam Islam. Di kalangan orientalis barat dikenal dengan sebutan sufisme, yang merupakan istilah khusus mistisisme Islam. Sehingga kata sufisme tidak ada pada mistisisme agama-agama lain. Tasawuf atau mistisisme dalam Islam ber-esensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup kezuhudan, dalam bentuk tasawuf amali, kemudian tasawuf falsafi. Tasawuf adalah aspek ajaran Islam yang paling penting, karena peranan tasawuf merupakan kunci kesempurnaan amaliah ajaran Islam. Memang di samping aspek tasawuf, dalam Islam ada aspek lain yaitu akidah dan syariah, atau dengan kata lain yang dimaksud dengan agama adalah terdiri dari Islam, iman dan ihsan, dimana ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan. Untuk mengetahui hukum Islam kita harus lari kepada syariah/fiqih, untuk mengetahui rukun iman kita harus lari pada ushuludin/akidah dan untuk mengetahui kesempurnaan ihsan kita masuk kedalam tasawuf. Oleh karena …

MEMBANGUN UKHUWAH DAN ISLAH MELALUI PAI DI SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Pendidikan di Indonesia yang sudah berjalan sekian puluh tahun sejak kemerdekaannya disadari lebih menekankan pada dimensi kognitif mencetak manusia-manusia cerdas, terampil, dan mahir telah berpotensi melahirkan manusia yang berkepribadian pecah (split personality) dan integritas (split integrity).  Tidak mengherankan apabila kebohongan, manipulasi, korupi, serakah, kolusi, nepotisme, kerusuhan antar etnis, pembunuhan dan sederetan peristiwa lainnya selalu mewarnai berita di negara ini.  Dimensi-dimensi lain seperti afektif dan psikomotorik gagal diimplementasikan dalam sistem pendidikan sebagai ciri profesional yang mengintegrasikan antara intelektual, moral, spiritual tidak tercermin pada para lulusannya. Krisis identitas mewarnai individu-individu yang terlahir dari dunia pendidikan dan cenderung tidak percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. Masifikasi gelombang modernitas telah membawa siapapun termasuk dunia pendidikan untuk hanyut mengikuti m…