Langsung ke konten utama

MEMBANGUN UKHUWAH DAN ISLAH MELALUI PAI DI SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia yang sudah berjalan sekian puluh tahun sejak kemerdekaannya disadari lebih menekankan pada dimensi kognitif mencetak manusia-manusia cerdas, terampil, dan mahir telah berpotensi melahirkan manusia yang berkepribadian pecah (split personality) dan integritas (split integrity).  Tidak mengherankan apabila kebohongan, manipulasi, korupi, serakah, kolusi, nepotisme, kerusuhan antar etnis, pembunuhan dan sederetan peristiwa lainnya selalu mewarnai berita di negara ini.  Dimensi-dimensi lain seperti afektif dan psikomotorik gagal diimplementasikan dalam sistem pendidikan sebagai ciri profesional yang mengintegrasikan antara intelektual, moral, spiritual tidak tercermin pada para lulusannya. Krisis identitas mewarnai individu-individu yang terlahir dari dunia pendidikan dan cenderung tidak percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. Masifikasi gelombang modernitas telah membawa siapapun termasuk dunia pendidikan untuk hanyut mengikuti mainstream dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan alasan tidak ingin teralienasi dan dikatakan alergi terhadap modernitas. Dalam kondisi seperti ini hegemoni konsep-konsep pendidikan ala barat sulit bisa dihindari, cenderung mencibirkan konsep-konsep dan ajaran lokal meskipun diyakini syarat dengan nilai-nilai moral. Ini merupakan indikasi bahwa pendidikan di Indonesia telah mengkhianati amanat karena gagal memelihara nilai-nilai yang mengakar pada masyarakat.

Dalam tema kali, peran pendidikan dalam mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur sangat diharapkan oleh setiap lapisan masyarakat. Dimana rasa ukhuwah/persaudaraan maupun islah (perdamaian antara dua pihak yang bertikai) dalam konteks ke-Indonesian dirasa sangat dibutuhkan pada saat ini. Kita sudah maklum, bahwa Indonesia terdiri dari beragam etnis, bahasa, budaya, dan agama yang beragam. Dari keragaman ini tidak menutup kemungkinan munculnya konflik dan gesekan kepentingan.
Hasil survei menunjukkan bahwa negeri kita masih bertengger dalam jajaran negara yang paling korup di dunia, KKN melanda di berbagai institusi, disiplin makin loggar semakin meningkatnya tindak kriminal, tindak kekerasan, anarkisme, premanisme, konsumsi minuman keras dan narkoba sudah melanda diakalangan pelajar dan mahasiswa. Masyarakat kita kita juga cenderung mengarah pada masyarakat kepentingan/patembayan (geselschaft), nilai-nilai masyarakat paguyuban (gemeinschaft) sudah ditinggalkan, yang tampak dipermukaan adalah timbulnya konflik kepentingan-kepentingan, baik kepentingan individu, kelompok, agama, etnis, politik maupun kepentingan lainnya.
Pentingnya membangun rasa ukhuwah dan islah perlu ditumbuhkan mulai semenjak dini, peran dan fungsi pendidikan agama dalam lingkup sekolah, baik mulai tingkat paud sampai pada jenjang kuliah sebagai sistem nilai yang menjadi acuan dalam beinteraksi. Inilah perlunya kita meninjau kembali penafsiran terhadap teks-teks keagamaan, yang merupakan sebuah kekayaan intelektual. Sebagaimana Snouck Hurgronje mengatakan ”tiap-tiap periode sejarah kebudayan suatu bangsa, memaksa kepada golongan beragama untuk meninjau kembali isi dari kekayaan akidah dan agamanya.”

B.            Rumusan Masalah
Untuk itulah penulis merumuskan beberapa permasalahan untuk membatasi fokus kajian, berikut adalah beberapa rumusannya :
1.      Apa pengertian Ukhuwah (persaudaraan) dan Islah (perdamaian)?
2.      Bagaimana membangun etika sosial sebagai fondasi?
3.      Bagaimana pembentukan etika sosial melalui PAI?
4.      Apa program-program sekolah untuk persaudaraan dan perdamaian?



BAB II
PEMBAHASAN


A.           Pengertian Ukhuwah dan Islah
1.      Pengertian Ukhuwwah
a.    Secara etimologi
Dari segi bahasa, kata ukhuwah berasal dari kata dasar akhun. Kata akhun ini dapat berarti saudara kandung/seketurunan atau dapat juga berarti kawan. Bentuk jamaknya ada dua, yaitu ikhwat untuk yang berarti saudara kandung dan untuk yang berarti kawan. Jadi ukhuwah bisa diartikan “persaudaraan”.
Sedangkan ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti memperhatikan. Makna asal kata ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang bersaudara.
Boleh jadi, perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu bapak, atau keduanya maupun dari segi persusuan secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwwah digunakan juga dengan anti teman akrab atau Sahabat.
b.    Secara terminologi
Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Ukhuwah Islamiah adalah ikatan kejiwaan yang melahirkan perasaan yang mendalam dengan kelembutan, cinta dan sikap hormat kepada setiap orang yang sama-sama diikat dengan akidah Islamiah, iman dan takwa.
Ukhuwah Islamiah merupakan suatu ikatan akidah yang dapat menyatukan hati semua umat Islam, walaupun tanah tumpah darah mereka berjauhan, bahasa dan bangsa mereka berbeda, sehingga setiap individu di umat Islam senantiasa terikat antara satu sama lainnya, membentuk suatu bangunan umat yang kokoh.
Terhadap ukhuwah (persaudaraan) ini, al Ghazali, menegaskan bahwa persaudaraan itu harus didasari oleh rasa saling mencintai. Saling mencintai karena Allah Swt dan persaudaraan dalam agama-Nya merupakan pendekatan diri kepada Allah Swt.
Adapun maksud Ukhuwah Islamiah menurut Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran diuraikan bahwa:
Istilah Ukhuwah Islamiah perlu didudukkan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancuan. Untuk itu terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiah dalam istilah di atas. Selama ini ada kesan bahwa istilah tersebut bermakna persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim, sehingga dengan demikian kata lain “Islamiah” dijadikan pelaku ukhuwah itu.
Pemahaman ini kurang tepat, kata Islamiah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai ajektifa, sehingga Ukhuwah Islamiah berarti persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam”.

Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ukhuwah Islamiah merupakan suatu ikatan jiwa yang kuat terhadap penciptanya dan juga  terhadap sesama manusia karena adanya suatu kesamaan akidah, iman dan takwa. Adapun dari pendapat ketiga dapat disimpulkan bahwa ukhuwah Islamiah merupakan suatu persaudaraan antar sesama orang Islam, bukan karena keturunan, profesi, jabatan dan sebagainya melainkan karena adanya persamaan akidah.
c.    Dasar ukhuwah islamiyah
Ukhuwah Islamiah merupakan salah satu ajaran Islam yang harus kita laksanakan, sebagaimana ajaran yang lain, Ukhuwah Islamiah juga mempunyai atau berdasarkan firman-firman Allah Swt dan juga sabda Rasulullah Muhammad saw. Dalam al-Quran kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti:
1)    Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu. Contoh dalam Q. S. an-Nisa’; 23
2)    Saudara yang dijalin dengan ikatan keluarga, seperti bunyi doa nabi Musa yang diabadikan dalam al-Qur’an, surat Thaha, 29-30
3)    Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama. Seperti dalam Q.S. al-‘Araf; 65
4)    Saudara semasyarakat walaupun berselisih paham (Q. S. Shaad; 23)
5)    Persaudaraan seagama (Q. S. al-Hujarat; 10)
d.    Macam-macam ukhuwah islamiyah
Dilihat dari segi bentuknya, bahasa tentang ukhuwah Islamiah dalam al-Quran muncul dalam dua bentuk, yaitu jamak dan tunggal. Bentuk tunggal dengan memakai kata akh (saudara laki-laki) dan kata ukht (saudara perempuan). Adapun bentuk jamaknya memakai kata ikhwan, akhwat dan ikhwat.
Ukhuwah pada mulanya berarti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karenanya persamaan dalam keturunan mengakibatkan persaudaraan dan persamaan dalam sifat-sifat mengakibatkan persaudaraan.
Contoh beberapa ayat di depan yang mengisyaratkan bentuk atau jenis “persaudaraan” yang disinggung oleh al-Quran. Semuanya dapat disimpulkan bahwa kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan. Adapun empat macam ukhuwah tersebut adalah:
1)   Ukhuwah ubudiyah
Ukhuwah kesetundukan kepada Allah yaitu bahwa seluruh makhluk  adalah bersaudara dalam  arti memiliki persamaan.
2)   Ukhuwah insaniyah
Ukhuwah Insaniyah atau saudara sekemanusiaan  adalah dalam arti seluruh manusia adalah bersaudara. Karena mereka semua bersumber dari ayah ibu yang satu yaitu Adam dan Hawa. Hal ini berarti bahwa manusia itu diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. (Q.S. Al-Hujurat : 13).
Demikian al-Quran memandang semua manusia mengisyaratkan adanya Ukhuwah Insaniyah sebab dalam persaudaraan ini juga tidak memandang perbedaan agama, bahkan persaudaraan ini merupakan persaudaraan dalam arti yang umum sehingga tidak dibenarkan adanya saling menyakiti, mencela atau perbuatan buruk lainnya.
3)   Ukhuwah wathaniyah wa nasab
Ukhuwah Wathaniyah Wa Nasab yaitu persaudaraan dalam kebangsaan dan keturunan. Ayat-ayat macam ini banyak dan hampir mendominasi semua ukhuwah. Sebagaimana dikemukakan oleh Quraish Shihab tentang macam-macam makna akh (saudara) dalam al-Quran yaitu dapat berarti :
a)    Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti ayat yang berbicara tentang warisan atau keharaman menikahi orang-orang tertentu.
b)   Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga
c)    Saudara dalam arti sebangsa walaupun tidak seagama.
d)   Saudara semasyarakat walaupun berselisih paham.
e)    Saudara seagama
Sebenarnya jika dilihat lebih jauh saudara seketurunan dan saudara sebangsa ini merupakan pengkhususan dari persaudaraan kemanusiaan. Lingkup persaudaraan ini dibatasi oleh suatu wilayah tertentu. Baik itu berupa keturunan, masyarakat ataupun oleh suatu bangsa atau negara.
4)   Ukhuwah fi din al-Islam
Ukhuwah fi Din al Islam adalah persaudaraan antar sesama muslim. Lebih tegasnya bahwa antar sesama muslim menurut ajaran Islam adalah saudara. Sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Hujurat ayat 10.
Ukhuwah fi Din al Islam mempunyai kedudukan yang luhur dan derajat yang tinggi dan  tidak dapat diungguli dan disamai oleh ikatan apapun. Ukhuwah ini lebih kokoh dibandingkan dengan ukhuwah yang berdasar keturunan, karena ukhuwah yang berdasarkan keturunan akan terputus dengan perbedaan agama, sedangkan ukhuwah berdasarkan akidah tidak akan putus engan bedanya nasab.  Konsep ukhuwah fi Din al-Islam merupakan suatu realitas dan bukti nyata adanya persaudaraan yang hakiki, karena semakin banyak persamaan maka semakin kokoh pula persaudaraan, persamaan rasa dan cita. Hal ini merupakan faktor dominan yang mengawali persaudaraan yang hakiki  yaitu persaudaraan antar sesama muslim. Dan iman sebagai ikatannya. Implikasi lebih lanjut adalah dalam solidaritas sosialnya bukan hanya konsep take and give saja yang bicara tetapi sampai pada taraf merasakan derita saudaranya.
Kaum muslimin tidak dapat mencapai tujuan-tujuannya, yaitu mengaplikasikan syariat Allah ditengah-tengah manusia kecuali jika mereka bekerja sama dalam amalnya. Persaudaran disini bukan hanya berarti kerja sama, saling mengenal atau saling dekat, karena persaudaraan dalam Islam lebih kuat dari segala pengertian saling mengenal, saling mengerti, saling membantu dan solidaritas.  Makna-makna ini hanya dapat diperkuat dan ditingkatkan dengan persaudaraan dalam Islam mendorong tercapainya keharmonisan dan menghilangkan persaingan dan permusuhan pada diri manusia dalam kehidupan  bermasyarakat mereka. Karena, persaudaraan ini mengharuskan adanya rasa cinta dan kebencian karena Allah, yaitu cinta kepada orang yang memegang kebenaran, kesabaran dan ketakwaan serta membenci orang yang memegang kebatilan, mengikuti hawa nafsu serta berani melanggar keharaman yang telah digariskan Allah.
Seorang mukmin haruslah menyadari dan memahami makna tentang persaudaraan ini, sehingga mengakui orang mukmin lainnya sebagai saudaranya. Dari sini akan timbul suatu kerja sama dan gotong royong sehingga terciptalah suatu masyarakat muslim yang serasi dan harmonis.
Akhirnya terbentuklah suatu masyarakat yang ideal, yaitu sosok masyarakat yang diwarnai oleh jalinan solidaritas sosial yang tinggi, rasa persaudaraan yang solid antar manusia. Sebagaimana dalam sejarah manusia. Masyarakat seperti ini  pernah eksis dalam masyarakat madani yang dibina Rasul saw. Sesama warganya terjalin cinta, semangat gotong royong dan kebersamaan yang  tinggi.
e.    Faktor-faktor penunjangnya
Ukhuwah sebagaimana dijelaskan sebelumnya, merupakan suatu kondisi saling berhubungan dan saling keterikatan dengan dasar saling mencintai diantara dua orang, atau dalam hal ini antara orang-orang mukmin karena keimanan mereka. Maka diantara mereka harus saling mencintai dan seorang mukmin hendaknya memperlakukan mukmin lain selayaknya  saudara sendiri dan melaksanakan hak-hak  yang ada di antara mereka.
Ukhuwah (persaudaraan) tidak lahir begitu saja. Lahirnya ukhuwah disebabkan adanya suatu faktor penunjang, yaitu faktor persamaan. Misalnya, persamaan keturunan, suku, bangsa, ideologi, keyakinan (agama) dan sebagainya. Oleh karena itu, semakin banyak faktor persamaan yang ada maka akan semakin memperkokoh ukhuwah tersebut.
Seseorang yang lebih terikat dalam ikatan ukhuwah itu akan mempunyai rasa cinta saudaranya dan ia akan merasakan derita saudaranya. Dia juga akan dengan suka dan rela mengulurkan tangannya untuk membantu saudaranya meskipun dirinya sendiri dalam keadaan serba kekurangan.
Dalam hal ini, faktor penunjang lahirnya ukhuwah adalah persamaan iman (akidah). Persamaan iman antar mukmin itu menjadikan mereka bersaudara. Di antara mereka terdapat tali Allah (hablullah) yang mengikat erat. Mereka telah disadarkan agar supaya jangan merusak persaudaraan itu dengan percerai-beraian karena alasan apapun.  Keimanan merupakan unsur pengikat dalam rangka upaya menumbuhkan dan membina ukhuwah tersebut. Ikatan akidah itu lebih kuat daripada ikatan darah dan keturunan. Ikatan ini merupakan pondasi yang kokoh bagi suatu bangunan yang dinamakan Ukhuwah Islamiah. Bagi setiap mukmin, ukhuwah merupakan suatu konsekuensi logis daripada keimanan mereka. Iman dan ukhuwah merupakan dua hal yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
Seorang mukmin seharusnya menyadari sepenuh hati bahwa muslim lain merupakan saudaranya sendiri. Adapun mereka berbeda sebagai bangsa, warna kulit, bahasa dan adat istiadat, itu tidak akan menghilangkan sifatnya sebagai saudara. Persaudaraan Islam didasarkan pada tali agama dan kesamaan iman serta penyerahan diri kepada Allah Swt. Persatuan umat Islam diikat dengan semangat tolong menolong saling menghormati persamaan hak dan kewajiban, cinta kasih dan sebagainya. Ukhuwah Islamiah tidak memandang perbedaan bangsa dan keturunan, warna kulit, pangkat derajat atau kekayaan.
Mereka harus saling menjaga hubungan diantara mereka agar terbina  ukhuwah yang harmonis. Mereka harus mencintai saudaranya yang seiman itu sebagaimana halnya dia mencintai dirinya sendiri. Keimanan itu mampu menumbuhkan cinta kasih yang mendalam, yang kemudian diwujudkan dalam  beberapa bentuk sikap dan perilaku luhur dan positif yang sarat dengan akhlakul karimah dan solidaritas sosial yang mendalam.
2.      Pengertian Islah (menguarai konflik secara damai)
Ishlah adalah mendamaikan dua pihak atau lebih yang sedang konflik menuju perdamaian. Islah adalah tindakan yang sangat mulia karena dapat menyelamatkan nyawa, kehidupan, harta benda, peradaban, lingkungan hidup yang dapat enjadi hancur akibat kekerasan, konflik, dan perang. Tujuan islah adalah terciptanya perdamaian, ketenangan, kerukunan, ketertiban, keadilan dan keseimbangan.
Konsep damai membawa konotasi yang positif, hampir tidak ada orang yang menentang perdamaian. Perdamaian dunia merupakan tujuan utama dari kemanusiaan. Beberapa kelompok berpandangan berbeda tentang apakah damai itu, bagaimana mencapai kedamaian, dan apakah perdamaian benar-benar mungkin terjadi.
Sebuah definisi yang sederhana dan sempit dari damai adalah ketiadaan perang. Dengan definisi ini, kita sekarang tinggal di zaman dunia damai, tanpa perang aktif antara negara-negara.
a.    Macam-macam islah (perdamaian)
Para Ulama Membagi Perdamaian yang Terjadi antara Dua Golongan yang Bersengketa
1)   Perdamaian yang dilaksanakan anatara muslim dengan non-muslim
2)   Perdamaian antara penguasa dengan pemberontak
3)   Perdamaian antara suami istri
4)   Perdamaian antara dua orang yang terlibat piutang
5)   Perdamaian antara pembunuh dengan wali yang terbunuh agar bersedia menerima diyat
b.    Cara-cara melakukan islah (perdamaian)
Segala cara dan usaha boleh dilakukan untuk mewujudkan perdamaian, sepanjang langkah yang ditempuh itu tidak dimaksudkan untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Rasuluulah SAW bersabda yang artinya:
“Perdamaian itu dilaksanakan antara para kaum muslimin untuk menghasilkan perdamaian, kecuali perdamaian yang menghalalkan yang Allah haramkan dan mengharamkan yang Allah halalkan.” (HR At Turmudzi)

c.    Hikmah (perdamaian)
1)        Akan mngembalikan kerukunan antara dua pihak yang semula bersengketa
2)        Tercabutnya akar permusuhan dan perselisihan dari pihak-pihak yang bersengketa, berganti dengan tumbuh suburnya tali ukhuwah (persaudaraan)
3)        Menghindarkan terjadinya pertumpahan darah
4)        Menghemat angaran belanja
5)        Menjauhkan kedua belah pihak dari pengingkaran terhadap kebenaran
6)        Menjauhkan rasa permusuhan dan dendam diantara sesama manusia
7)        Menyalurkan pikiran-pikiran positif dari kedua pihak kearah usaha-usaha yang bermanfaat bagi masing-masing pihak maupun manusia secara keseluruhan.
8)        Mendekatkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT.

B.            Etika Sosial sebagai Fondasi PAI
1.    Pengertian etika sosial
Kata “etika” berarti “filsafat mengenai bidang moral”. Jadi etika merupakan ilmu atau refleksi sistematik mengenai pendapat-pendapat, norma-norma, dan istilah-istilah moral. Dalam Kamus Umum bahasa Indonesia dari W.J.S.  Poerwadarminto terdapat keterangan bahwa moral adalah Ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan, sedangkan etika adalah ilmu pengetahuan asas-asas akhlak (moral).
Etika tidaklah sama artinya dengan moral. Ada perbedaan mendasar yang kemudian memberikan arti yang berbeda pula. Etika bukanlah suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Sehingga antara etika dan moral tidaklah dalam kedudukan yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral.
Etika merupakan suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat. Sehingga pokok permasalahan yang ada dalam etika adalah menyelidiki segala perbuatan manusia kemudian menetapkan hukum baik dan buruk. Dan hukum tersebut akan berlaku bila perbuatan tersebut berdasarkan kehendak manusia itu sendiri.
Istilah lain dari etika, biasanya digunakan kata: moral, susila, budi pekerti, akhlak (Arab) namun pengertiannya tetap sama. Hal ini disebabkan karena etika sebagai suatu ilmu yang normative, dengan sendirinya berisi norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari sosial kemasyarakatan.
Hal ini memberi arti dan penafsiran bahwa, etika tidak berbeda dengan akhlak. Sehingga kalimat etika sering digantikan kalimat akhlak atau sebaliknya terutama pada permasalahan perilaku manusia.
2.    Sumber etika
Etika selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia. Yang menjadi kajian materinya adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral merupakan tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik buruknya.
Berbicara mengenai etika sosial dalam pendidikan agama Islam, maka hal ini tidak bisa dilepaskan dari faktor Rosulullah SAW. Nabi Muhammad yang merupakan tauladan bagi umatnya baik yang Islam maupun non-Islam, baik dalam kehidupan muamalah, ibadah, atau kehidupan yang lainnya (khususnya muslim).
Rosulullah SAW dikenal sebagai manusia yang luhur etikanya, sehingga Allah SWT memerintahkan kepada seluruh manusia untuk meneladani kebiasaan baik dan akhlak yang mulia dari Rosulullah. Juga dari nabi-nabi yang lain.
Ajaran tentang etika sosial dalam pendidikan agama Islam dapat dibuktikan dari sumber pendidikan agama Islam itu sendiri (al-Qur’an dan As-Sunnah). Al Qur’an dan Hadis merupakan sumber ajaran pendidikan agama Islam yang sekaligus memuat tentang ajaran etika dalam pergaulan antar manusia. Bahkan ajaran yang terangkum dalam rukun Islam, sasarannya adalah komunitas yang berkeadilan sosial dan berprinsip egaliteran.
Menurut Sudarsono, etika sosial yang menjadi materi pengajaran pendidikan agama Islam meliputi sifat-sifat terpuji (mahmudah) antara lain; berlaku jujur & tanggung jawab (amanah), berbuat baik kepada kedua orang tua atau orang yang lebih tua (birrul waalidaini), memelihara kesucian diri (iffah), kasih sayang sesama (rahmah), berlaku hemat (iqtishad), menerima apa adanya dan sederhana (qana’ah dan zuhud), perlakuan baik (ikhsan), kebenaran (shidiq), pema’af (‘afw), keadilan (‘adl), keberanian (syaja’ah), malu (haya’), kesabaran (shabr), berterima kasih (syukur), penyantun (hilm), rasa sepenanggungan (muwasat), kuat (quwwah), dan masih banyak lagi.
Secara garis besar, misi utama agama Islam adalah memberi petunjuk kepada umat manusia untuk kehidupan yang baik dan menghindari perbuatan yang jelek. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad menyebutkan bahwa misi utama diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk mewujudkan akhlak mulia (budi pekerti / kepribadian mulia umat manusia. Yang ajarannya meliputi hubungan antara manusia dengan Tuhannya, antara sesama manusia, dan antara manusia dengan makhluk lain atau lingkungan sekitarnya.
Tugas nabi yang telah digariskan dalam sejarah hidupnya cukup menarik simpati manusia untuk mengikuti dan melaksanakan risalahnya. Karena risalah yang diajarkan oleh Nabi SAW memberikan informasi tentang faktor-faktor keutamaan akhlak, lengkap dengan menjelaskan aspek-aspeknya.
Tentang ibadah, Islam menetapkan bahwa pokok-pokok iman, bukan merupakan upacara agama yang bersifat abstrak. Islam tidak mengajarkan manusia melakukan perbuatan mungkar yang tidak mempunyai nilai akhlak yang luhur, tetapi sebaliknya Islam mengajarkan manusia hidup bersahaja dengan akhlak yang mulia dalam keadaan bagaimanapun juga.
Mengenai ibadah zakat, pada hakekatnya bukanlah merupakan pajak, namun merupakan pembinaan, mananamkan rasa kasih sayang yang tulus dan mendekatkan hubungan ukhuwah yang baik diantara lapisan masyarakat. Juga mengenai rukun Islam lainnya, yang berisi tentang ketentuan-ketentuan ibadah dalam Islam, sangat erat hubungannya dengan pembinaan akhlak.
Islam –sebagaimana al Qur’an dan Hadis– menganjurkan para pemeluknya untuk meningkatkan kecakapan dan akhlak generasi muda dengan lewat pendidikan. Sebab, pendidikan adalah sebuah penanaman modal untuk masa depan dengan membekali generasi muda dengan budi pekerti (etika) yang luhur dan kecakapan yang tinggi.
Sasaran moral adalah keselarasan dari perbuatan manusia dengan aturan-aturan yang mengenai perbuatan-perbuatan manusia itu. Aturan-aturan yang ada dalam kehidupan manusia tidak hanya bersumber dari wahyu (agama) saja, tetapi juga bersumber dari tatanan yang dibuat oleh manusia.
Sehingga dapat ditarik sebuah simpulan bahwa sumber etika itu  berasal dari manusia itu sendiri juga sekitar kehidupannya dan sumber yang lain berasal dari Tuhan (agama). Sebagai makhluk sosial, manusia dipenuhi dengan proses interaksi antar manusia yang menyebabkan dalam menetapkan sesuatu berdasarkan hukum alam manusia dan inilah yang kemudian menjadi aturan yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga jelas bahwa etika yang bersumber dari nilai-nilai sosial kemasyarakatan mengatur  kehidupan bermasyarakat berdasarkan kehidupan masyarakat. Sedangkan sumber yang berasal dari agama berupaya untuk menjadi dasar hukum yang nantinya menjadi bagian dalam tata sosial manusia.
Dalam hal ini yang menjadi sumber etika sosial adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh sekelompok golongan yang menjadi pedoman baik yang tertulis, maupun tidak tertulis bagi masyarakat penganutnya dan aturan-aturan yang berdasarkan dari agama para penganutnya (Islam). Islam bersama dengan Al Qur’an dan Hadist sebagai dasar etika islami merupakan sumber etika.
3.    Sasaran etika
Ada dua obyek yang menjadi sasaran Etika, yaitu obyek formal dan obyek materiil. Sebagai obyek formal, manusia mengukur dengan keselarasan dari perbuatan-perbuatan manusia yang lain dengan aturan-aturan kesusilaan. Keselarasan perbuatan manusia itu dengan dasar-dasar (aturan-aturan) bagaimana manusia harus berbuat. Manusia dapat mengatakan orang ini baik dan orang itu jelek, dan dalam pernyatan itu terkandung isi yang mengatakan bahwa orang mempunyai pengertian tentang perbuatan-perbuatan manusia dipandang dari sudut selaras atau tidak selaras dengan norma kesusilaan. Maka obyek formal etika adalah keselarasan dari perbuatan-perbuatan dengan aturan-aturan yang mengenai perbuatan-perbuatan manusia.
Peraturan dibuat untuk mencapai sesuatu yang ‘benar’ menurut pembuatnya. Hal ini berkaitan dengan peraturan yang dibuat oleh manusia berdasarkan jangkauan akal pikiran manusia, sedangkan pikiran manusia berlain-lainan dan milieu, situasi serta tempatnya juga berlainan bentuknya, karenanya di dunia ini, peraturan yang dibuat manusia adalah relatif.
Etika memakai dasar akal budi manusia untuk mengukur dan menyelami ilmu itu dan dalam mencari alasan-alasannya. Kebiasaan berbuat oleh manusia itu dilihat dari sudut selaras dengan norma-norma susila. Sehingga jelas bahwa secara materiil, sasaran etika terletak pada perbuatan-perbuatan manusia (tindakan-tindakan manusia), atau dapat dikatakan tindakan-tindakan insani.
Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan obyek etika. Sebab, sasaran daripada etika/moral adalah keselarasan dari perbuatan manusia dengan aturan-aturan yang mengenai perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri berdasakan hukum manusia dan hukum Tuhan. Walaupun sekiranya tidak sama antara hukum manusia dan hukum Tuhan, namun itulah kiranya peraturan yang mesti ditanggung oleh manusia, yakni di samping manusia adalah makhluk Tuhan tetapi juga makhluk sosial.
Jadi, yang menjadi sasaran etika adalah perbuatan-perbuatan manusia yang dapat diberi hukum baik dan buruk, dengan kata lain perkataan perbuatan-perbuatan yang dimaksudkan adalah perbuatan akhlak. Adapun perbuatan-perbuatan manusia yang dimasukkan perbuatan akhlak adalah;
a)    perbuatan-perbuatan yang timbul dari seseorang yang melakukannya dengan sengaja, dan dia sadar diwaktu dia melakukannnya.
b)   Perbuatan-perbuatan yang timbul dari seseorang yang tiada kehendak, dan tidak sadar di waktu dia berbuat, tetapi dapat diikhtiarkan perjuangannya, untuk berbuat atau tidak berbuat di waktu sadar.
4.    Hubungan antara etika sosial dan PAI
a.    Dua dimensi hidup manusia, ketuhanan dan kemanusiaan
Pendidikan agama Islam berisikan antara dua dimensi hidup manusia, yaitu penanaman rasa takwa kepada Allah dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama. Rasa takwa kepada Allah SWT kemudian berkembang dengan proses menghayati keagungan dan kebesaran Tuhan lewat perhatian kepada alam semesta beserta segala isinya, dan lingkungan sekitar. Dimensi ini merinci subtansi ketuhanan untuk mendapatkan nilai-nilai keagamaan pribadi yang amat penting yang harus ditanamkan dalam pendidikan agama Islam. Dimensi kemanusiaan sebagai bentuk nyata yang diaplikasikan dalam bentuk tingkah laku dan budi pekerti sehari-hari untuk melahirkan budi luhur (akhlakul karimah).
Keterkaitan yang erat antara dua dimensi tersebut (antara takwa dan budi luhur (etika islami) mempunyai makna keterkaitan antara iman dan amal saleh, shalat dan zakat, hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan sesama manusia (hablum minan-nas). Lebih jelasnya ada keterkaitan yang mutlak antara ‘ketuhanan’ sebagai dimensi hidup pertama manusia yang vertikal dengan ‘kemanusiaan’ sebagai dimensi kedua hidup manusia yang horizontal.
Hal ini memicu secara otomatis hubungan antara pendidikan agama Islam dengan etika sosial. Obyek pendidikan agama Islam adalah manusia dengan segala kehidupannya – ketakwaan dan kemusiaan – dan begitu pula sasaran etika  sosial yang meliputi perbuatan dan tingkah laku manusia. Jika pendidikan agama Islam bergerak dari proses penanaman nilai-nilai agama agar manusia ber’etika’ sedangkan etika sosial bergerak dari bawah sebagai bentuk pemahaman dan penghayatan nilai-nilai agama.
b.    Unsur etika / moral sebagai materi PAI
Apabila dilihat dari segi agama Islam, maka kurikulum pendidikan agama Islam merupakan muatan materi yang berisi tentang tatanan pola kehidupan dalam kelompok atau masyarakat yang berdasarkan ajaran Isam. Jika dilihat dari sisi materi pokok pendidikan agama Islam, akhlak atau etika atau moral merupakan salah satu pokok materi yang harus ada dalam kurikulum sebuah lembaga sekolah. Sebab tatanan pola perilaku kehidupan tersebut berdasarkan Al Qur’an.
Di satu sisi, Implementasi materi pelajaran PAI diupayakan agar peserta didik menjadi makhluk yang bertakwa kepada Allah, dan lain sisi, implementasinya sebagai makhluk sosial serta sebagai makhluk dengan menjadi bagian interaksi sosial dan lingkungan. Bahkan hampir seluruh materi pelajaran PAI berimplikasi pada tingkatan etika sosial peserta didik. Yang menentukan ukuran baik dan buruk adalah sesorang dengan perbuatannya. Ukuran baik dan buruk ini berdasarkan peraturan manusia dan Tuhan. Peraturan manusia diproyeksikan sebagai penata perilaku kehidupan manusia dalam suatu masyarakat. Sedangkan peraturan Tuhan berguna untuk dua dimensi, dimensi manusia sebagai hamba, dan dimensi manusia sebagai makhluk sosial.
Unsur etika atau moral dalam PAI terletak pada implementasi materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai anggota masyarakat. Seperti perintah zakat, atau materi pelajaran zakat dari kurikulum PAI.  Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ketika peserta didik melaksanakan zakat dengan penuh keikhlasan, masyarakat akan menilainya menurut hukum mereka. Sebab, secara tidak langsung zakat dapat meringankan beban orang lain yang lebih membutuhkan. Keterkaitan antara takwa dan etika  atau moral atau budi pekerti itu adalah makna keterkaitan antara iman dan amal saleh, shalat dan zakat sebagai bagian dari materi PAI dalam bentuk hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minan-nas). Pendeknya, terdapat keterkaitan yang mutlak antara “Ketuhanan” sebagai dimensi hidup pertama manusia yang vertical dengan “kemanusiaan” sebagai dimensi kedua hidup manusia yang horizontal. Sehingga dapat dikatakan bahwa unsur etika sosial dalam PAI ialah materi pelajaran PAI itu sendiri yang murni berupa materi akhlak atau etika serta materi ajaran yang lain yang berimplikasi pada bentuk keseimbangan hubungan vertical-horizontal seseorang.
c.    Etika sosial sebagai arah PAI
Seluruh sistem pendidikan di berbagai bangsa dalam era sejarah, menempatkan budi pekerti sebagai unsur penting dari tujuan yang hendak dicapai. Dalam sistem pendidikan Islam, kebaikan dan kejujuran perilaku anak didik hendak dicapai melalui pembelajaran bidang studi akhlak yang diletakkan di atas fondasi kepercayaan iman yang dibangun melalui pembelajaran bidang studi tauhid. Dan diharapkan tumbuh sebuah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang menjunjung tinggi moralitas kebaikan dan kejujuran.
Aktivitas hidup manusia sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama yang diyakininya. Nilai-nilai agama inilah yang membentuk pola pikir, bersikap dan berperilaku dalam kehidupannya. Etika, moral, akhlak, atau budi pekerti merupakan buah dari keimanan yang meresap dalam diri seseorang. Kebaikan moral atau akhlak seseorang tergantung pada kadar keimanan yang dimiliki, dan pendidikan moral atau akhlak itu sendiri merupakan jiwa dari pendidikan agama Islam.
Meskipun seseorang sudah mendapatkan pendidikan keimanan, bukan berarti tidak perlu lagi mendapatkan pendidikan moral/etika. Pendidikan moral/etika mutlak diperlukan karena merupakan kelanjutan pendidikan keimanan.
Pendidikan agama Islam, bukan sekedar mengajarkan anak didik untuk hafal bacaan sholat atau semacamnya. Namun bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta pembinaan akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Qodri Azizy mempertegas bahwa arah pendidikan agama Islam meliputi empat sasaran, yaitu:
Pertama, pendidikan agama Islam hendaknya mampu mengajarkan akidah peserta didik sebagai landasan keberagamaannya untuk menjaga keimanan dan ketaqwaannya.
Kedua, daalam mengajarkan pengetahuan tentang ajaran agama Islam, memang diperlukan kognitif atau bahkan hafalan. Namun dalam tataran praktek dan evaluasi harus melibatkan kesehariannya. Seperti halnya ajaran bacaan sholat yang harus juga dibarengi oleh rutinitas dan keseriusan dalam praktek.
Ketiga, pendidikan agama Islam sebagai landasan atau dasar bagi semua mata pelajaran, harus mampu menjadi pendorong kemajuan dan keberhasilan peserta didik, sekaligus sebagai landasan moralitas bagi semua mata pelajaran untuk tidak bertentangan dengan moralitas serta tata nilai masyarakat juga bangsa.
Keempat, pendidikan agama Islam yang diajarkan harus menjadi landasan moral dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Dalam hal ini sangat erat hubunganya dengan pendidikan agama Islam mengajarkan “budi pekerti atau akhlak” dengan topik-topik yang berkaitan dengan etika sosial masyarakat.

C.           Pembentukan Etika Sosial Melalui PAI
Problematika pendidikan saat ini sangat kompleks, maka diperlukan sebuah terobosan guna meminimalisir terjadinya permasalahan-permasalahan yang bisa timbul kembali di kemudian hari. Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan pemberitaan- pemberitaan media masa yang semakin hari semakin miris mendengar maupun membacanya.
Oleh karenanya, sekolah dan para pemangku kepentingan (stakeholders) perlu merespon melalui peningkatan dan intensitas pelaksanaan pendidikan etika melalui pendekatan secara terpadu. Dalam upaya meningkatkan kematangan dan komitmen etis dan pembentukan karakter secara optimal, maka penyajian materi pendidikan etika kepada siswa perlu adanya model pembelajaran terpadu dan konstektual.
Dalam rangka merespon tantangan dunia pendidikan tersebut, maka pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia harus mempertimbankan kondisi bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu pendidikan Islam di harapkan agar tidak sampai 1). Menumbuhkan semangat fanatisme baru, 2). Menumbuhkan sikap intoleran dikalangan peserta didik dan masyarakat Indonesia, dan 3). Memperlemah kerukunan hidup beragama serta persatuan dan kesatuan nasional.
Pendidikan persekolahan juga memiliki peran strategis bagi pembentukan moralitas dan akhlak bangsa dalam rangka membangun bangsa yang berkarakter yaitu bangsa yang cerdas, jujur, bertanggung jawab dan rela berbagi dalam kebaikan. Atas dasar itulah diperlukan pembaharuan pemikiran, pengkajian dan penelitian terhadap pendidikan silam untuk melakukan rekonstruksi mulai aspek teologisnya, filosofi, substantif, metodologinya dan sistem pembelajarannya. Dengan harapan pendidikan agama dapat berlangsung secara efektif.
1.    Rekonstruksi teologis dan filosofis
a.    Pola pemikiran keagamaan
Walaupun pemikiran keagamaan yang dikembangkan dalam PAI di sekolah tidak se-ekstrim paham teosentrisme, namun nuansa teosentrisme masih sangat kental. Tema sentral dalam PAI adalah Tuhan dan bagaimana relasi manusia denganNya. Akibatnya aspirasi dan kebutuhan kurang terakomodasi dalam pembelajaran agama. Pendidikan menjadi sangat normative, tidak konstektual dengan kebutuhan dan problematika kehidupan yang berkembang. Akibatnya jelas, pendidikan agama menjadi kurang menarik dan fungsional.
b.    Diskursus tentang tuhan
Diskursus tentang tuhan dalam PAI seharusnya adalah Allah sebagai Rabb bukan Allah sebagai Al-Ilah. Rabb adalah salah satu peran fungsional Allah dalam hubungan dengan makhluknya. Asmaul husna adalah sifat-sifat Allah sebagai Rabb.
c.    Manusia ideal
Gambaran manusia ideal dalam kuriklum PAI di gambarkan sebagai khalifatullah (wakil Allah) dan Abdullah (hamba Allah). Konsep khalifatullah sesungguhnya kurang tepat karena konsep Allah sangat pribadi dan tidak dapat diwakilkan. Peran Allah sebagai Rabb-lah yang dapat digantikan oleh manusia.
d.    Pandangan dunia
Pandangan tentang hakikat kehidupan sangat mempengaruhi jalan hidup seseorang. Seseorang yang menganut paham mistisisme, yang memandang bahwa dunia adalah kefanaan total, dunia dan duniawi sebagai penghalang untuk menuju kepada yang Hakiki, sehingga berupaya menista dan meninggalkan keinginan terhadap dunia. Sebaliknya paham asketisme berpandangan bahwa dunia ini adalah realitas dan intensifikasi pengabdian agama yang dijalankan dalam kegairahan kerja sebagai gambaran dan pernyataan dari manusia terpilih.  Jalan keselamatan dicari dengan tidak meninggalkan atau membelakangi dunia tetapi dengan menundukkannya.
2.    Aspek substantif
a.       Tujuan kurikulum
PAI di sekolah umum seharusnya tidak bertujuan untuk membentuk siswa yang ahli agama atau “having religion” melainkan menjadi orang yang bertakwa atau “being religion
b.      Arah pembelajaran PAI
Arah pembelajaran PAI selama ini masih mengedepankan pola keberagaman yang bersifat transaksional, yaitu mentaati perintah dan larangan Allah yang akan dibalas dengan surga dan terhindar dari neraka. Bagi insan terpelajar, beramal shaleh baik yang bersifat ritual maupun sosial seharusnya tidak didasarkan karena faktor dari luar dirinya melainkan sebagai bentuk panggilan etis atau beruf untuk beramal shaleh sebagai rasa terima kasih kepada Allah dan sesama.
c.       Materi pokok PAI
Isi pokok materi PAI perlu direkonstruksi dari keilmuan normatif dan historis Islam kepada dimensi-dimensi kehidupan. Dengan cara inilah umat Islam dapat kembali kepada al-Qur’an dan hadis secara cerdas dan fungsional.
d.      Sifat kurikulum
PAI seharusnya menjadi ruh/sprit dan visi bagi mata pelajaran lain, bukan semata-mata berdiri sendiri secara terpisah sebagai salah satu mata pelajaran sebagaimana yang terjadi selama ini. Sifat kurikulum PAI yang terpisah ini perlu direkonstruksi menjadi integrated, yaitu memiliki interkoneksitas dengan mata pelajaran lain dan persoalan kehidupan.
3.    Aspek metodologis
Ada ungkapan yang berbunyi:
الطريقة اهم من المادة, الاستاذ اهم من الطريقة, والتلميذ اهم من الأستاذ
(metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode dan murid lebih penting daripada guru). Statemen bijak tersebut menggambarkan betapa pentingnya metodologi pendidikan, lebih penting lagi adalah peran guru yang sangat menentukan kejayaan dalam proses pembelajaran, dan di atas semuanya murid adalah faktor yang paling penting. Kritik yang berkembang bahwa pembelajaran PAI dianggap kurang menarik minat siswa perlu dicermati dari aspek metodologi pembelajaran yang digunakan dan terutama peran guru di dalamnya, dan bagaimana guru menempatkan murid dalam posisi subyek dan sentral dalam pembelajaran.
Aspek-aspek tersebut yang perlu diperhatikan adalah:
a.    Model pembelajaran
b.    Peran guru
c.    Peran murid
d.    Arah pembelajaran

D.           Program-program Sekolah untuk Persaudaraan dan Perdamaian
Program-program yang perlu direncanakan oleh sekolah untuk memiliki rasa ukhuwah dan dan islah adalah:
1.    Pengembangan persaudaraan
Dimuka telah dikemukakan bahwa persaudaraan itu sangat indah, damai, terhormat, menyenangkan, memudahkan dan menjadi kekuatan dalam berbagai kegiatan dan perjuangan. Sebaliknya permusuhan adalah sesuatu yang sangat tercela, menyusahkan, menyulitkan dan melemahkan dalam berbagai kegiatan dan perjuangan. Walaupun persaudaraan itu sangat indah namun ada hambatan-hambatan yang menjadi tantangan dan persyaratan-persyaratan yang harus diperjuangkan. Yaitu:
a.    Kenyataan bahwa kehidupan ini bersifat plural (kepribadian, agama, suku, dan golongan) dengan segala akibat yang ditimbulkan
b.    Adanya energi negatif dalam diri manusia, seperti serakah, dengki, dan sombong.
c.    Kepicikan dalam beragama atau dalam berideologi sehingga merasa paling benar, tidak ada ruang bagi kebenaran orang lain atau tidak ada toleransi
d.    Adanya kemiskinan dan ketidakadilan
Sedangkan persyaratan terciptanya persaudaraan antara lain:
a.    Perlunya sikap dewasa, arif dan berkeadaban dalam beragama. Sikap ini mesti dapat diwujudkan apabila pola keberagamaannya tidak bersifat eksklusif, tidak anti intelektual dalam memahami agama.
b.    Perlunya sikap multikulturalisme, yaitu kesediaan untuk hidup berdampingan dan saling menghormatidan bekerjasama dalam masyarakat yang plural
c.    Adanya kesejahteraan dan keadilan sehingga tidak ada kelompok yang merasa dipinggirkan dan di dlolimi.
Persaudaraan harus dijadikan program dalam pembangunan nasional dan dalam berbagai dimensi kehidupan termasuk di lingkungan sekolah. Sebab tanpa adanya ikatan persaudaraan yang kokoh bangsa Indonesia akan bubar, sebuah organisasi akan gulung tikardan sebuah keluarga akan hancur.
Sekolah sebagai miniatur sebuah masyarakat dan persemaian kader bangsa perlu memprioritaskan masalah persaudaraan ini. Melalui sekolah eksklusifitas suku, agama, ras dan antar golongan harus dikikis, dan struktur kelas-kelas sosial harus dirobohkan. Program sekolah untuk semua harus terus dikembangkan, sekolah-sekolah eksklusif untuk etnis tertentu, atau sekolah elit untuk golongan tertentu tidak boleh dibiarkan mencabik-cabik persaudaraan dan persatuan bangsa.
2.    Sekolah untuk memperkokoh etika sosial dan perdamaian
Menurut Panggabean, konflik, kekerasan dan perkelahian masih sering terjadi di lingkungan sekolah. Konflik yang dimaksud disini adalah perbedaan atau pertentangan kepentingan yang mengakibatkan ketegangan hubungan, saling menyudutkan, saling menebarkan kebencian dan saling menyerang satu dengan yang lain tetapi masih bersifat tertutup. Konflik di lingkungan sekolah biasanya terjadi antara guru dengan guru, guru dengan kepala sekolah, guru dengan murid, kepala sekolah dengan murid, dan murid dengan murid. Konflik bersifat resiprokal.
Program-program sekolah untuk mengembangkan budaya perdamaian, menurut Penggabean antara lain berupa:
a.    Pendidikan etika sosial persaudaraan dan perdamaian dapat dilakukan dengan secara formal memasukkannya dalam kurikulum dan tidak harus menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan sebaiknya menyatu dalam seluruh isi mata pelajaran yang ada. Etika sosial persaudaraan dan perdamaian harus menjadi salah satu ruh dari setiap mata pelajaran.
b.    Etika sosial persaudaraan dan perdamaian agama-agama dapat menjadi ajang “diskusi kehidupan” di sekolah-sekolah di daerah konflik seperti di Ambon dan Poso Sulawesi Tengah atau pihak-pihak yang tidak mampu bersifat damai dengan lingkungan seperti pelaku terorisme. Siswa dengan suku dan agama yang berbeda duduk bersama dan membicarakan titik temu dari perbedaan-perbedaan.
c.    Etika sosial persaudaraan dan perdamaian dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurrikuler misalnya dalam bentuk outbound. Dengan tema “camping Persaudaraan Perdamaian” bagi siswa dengan latar belakang agama, suku, dan latar pendidikan yang beragam. Melalui kegiatan ini murid dapat mempraktekkan persaudaraan dan perdamaian dalam bentuk kerjasama, menyelesaikan konflik, saling menghormati dan menghargai sesama walapun dengan latar belakang  berbeda.
d.    Program-program pelatihan etika sosial persaudaraan dan perdamaian. Samsu Rizal Penggabean menyarankan pendidikan perdamaian itu meliputi program resolusi konflik, pencegahan kekerasan, pendidikan perdamaian dan pembangunan pendidikan nirkekerasan, pendidikan perdamaian mendunia atau global dan pendidikan perdamaian inovatif berbasis sekolah.
e.    Teknik penyelesaian konflik. Kristanto mengungkapkan sedikitnya ada beberapa tips dalam menyelesaikan konflik;
1)        Batasi problem
2)        Berilah kesempatan berbicara secara adil
3)        Mendengarkan aktif
4)        Galilah kemungkinan semua solusi
5)        Pilih solusi terbaik
6)        Bawa dalam doa
f.     Strategi mengelola konflik. Konflik dalam kehidupan manusia tidak dapat dihindari, karena adanya konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari dialektika manusia dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan atau memenuhi kepentingannya.



DAFTAR PUSTAKA
  
Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990)
Abdurrahman Wahid. 2007. Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. The Wahid Institute. Jakarta
Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), terj. Farid Ma’ruf, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993) cet. 7
Al Ghazali, Mutiara Ihya’ Ulumuddin, (Bandung: Mizan, 1997)
Ali Abdul  Halim Mahmud, Fiqh al Ukhuwah fi al Islam, Terj. Hawn Murtahdo, Merajut Benang Ukhuwah Islamiah, (Solo: Era Intermedia, 2000)
Ali Abdul  Halim Mahmud, Fiqh Responsibilitas : Tanggung Jawab Muslim dalam Islam, (Jakarta: Gema Insani, 1998)
Azizy, A. Qodri, Pendidikan Untuk Membangun Etika Sosial [Mendidik Anak Sukses Masa Depan: Pandai dan Bermanfaat], Semarang: Aneka Ilmu, 2003, cet. II.
Franz Magnis Suseno, Etika Dasar, (Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral), (Yogyakarta: Kanisius, 1987), cet. 17
Franz Magnis Suseno, Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa), (Jakarta: Gramedia, 2001), cet. Viii,
http://hbis.wordpress.com/2007/12/11/persatuan-perdamaian-dan-kerukunan/
Louis Ma’luf al Yasui, Kamus al-Munjid fi al Lughah wa al A’lam, (Beirut: Dar al Masyriq), Cet. XXVIII, 1986,
Moedjono Sosrodirdjo, Ungkapan dan Istilah Agama Islam, (Jakarta: Pradnya Paramita, t.t.)
Muhaimin. 2009. Rekonstruksi Pendidikan Islam, dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
-------------. 2010. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim,   terj. Khuluqul Muslim, Moh. Rifa’i, (Semarang: Wicaksana, 1993) cet. 4,
Musthafa Al Qudhat, Mabda’ul Ukhuwah fil Islam, terj. Fathur Suhardi, Prinsip Ukhuwah dalam Islam, (Solo: Hazanah Ilmu, 1994),
Musthofa Rahman, Abdullah Nasih Ulwan: Pendidikan Nilai, dalam A. Khudori Soleh, Pemikiran Islam Kontemporer¸ (Yogyakarta: Jendela, 2003),
Nashir Sulaiman al-Umar, Tafsir Surat al Hujurat : Manhaj Pembentukan Masyarakat Berakhlak Islam, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1994),
Nurcholish Madjid, pengantar dalam A. Malik Fajar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: yayasan pendidikan Islam Fajar Dunia, 1999), cet. I
Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Mizan: Bandung, 1995)
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998)
Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia), (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1996), cet. II,
Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqh Sosial, (Yogyakarta: LKIS, 1993),
Salam, Burhanuddin, Etika Individual (Pola Dasar Filsafat Moral), Jakarta: Rieneka Cipta, 2000, cet. I.
Soenarjo, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag RI, 1989),
Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993, cet. III.
Suseno, Franz Magins, Etika Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 1987, cet. 17
TIM Redaksi Tanwirul Afkar Ma’had Aly PP. Salafiyah Sukorejo Situbondo, Fiqh Rakyat : Pertautan  Fiqh dengan Kekuasaan, (Yogyakarta: LKIS, 2000),
Tobroni. 2012. Relasi Kemanusiaan dalam Keberagaman, Mengembangkan Etika Sosial Melalui Pendidikan. KPD. Bandung
Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah: Dengan Aspek-Aspke Kejiwaan yang Qur’ani,  (Wonosobo: Aamzah, 2001),
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (olah kembali: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), Jakarta: Balai Pustaka.

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.