Langsung ke konten utama

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Setelah Abad 15 M umat Islam mengalami kemunduran yang sangat parah ditandai dengan hancurnya dinasti Abbasiyah sebagai simbol kejayaan umat Islam. Kemudian diikuti dengan semangat bangsa Eropa yang dengan Renaisance nya membawa keharuman bangsa tersebut menuju puncak keemasan yang pernah di raih umat Islam sebelumnya. Dari titik kesadaran yang diraih bangsa Eropa tersebut mampu menemukan berbagai inovasi dalam teknologi industri konsumtif; mesin, listrik, teknologi pemintalan dan lain lain. Setelah waktu berjalan penemuan inovasi ini tidak diimbangi raw material yang dimiliki bangsa Eropa sehingga memunculkan revolusi industri, yang mengakibatkan krisis kemanusiaan; Misalnya pengangguran, perbudakan, pemberontakan sebagai akibat kaum Borjuist yang sudah tidak memerlukan lagi tenaga manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan berbagai macam dampaknya terhadap kehidupan manusia dan  lingkungannya, disatu sisi dia mampu membantu dan meringankan beban manusia, namun di sisi lain dia juga mempunyai andil dalam menghancurkan  nilai-nilai kemanusiaan, bahkan eksistensi itu sendiri. Ilmu barat yang bercorak sekuler dibangun di atas filsafat materialistisme, naturalisme dan eksistensialisme  melahirkan ilmu pengetahuan yang jauh dari nilai-nilai spritual, moral dan etika. Oleh karena  itu Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pandangan para pemikir Islam merupakan suatu hal yang mesti dan harus dirumuskan.
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran antara kitab suci dan ilmu pengetahuan yaitu pendekatan kesesuaian dan pendekatan konflik. Yaitu pendekatan kesesuain antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, atau pendekatan konflik dimana mencari ketidak samaan antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, namun dengan pendekatan apapun al-Qurán sepanjang anda berpikir logis dan setelah penjelasan logis diberikan pada anda tak seorang dapat membuktikan satu ayat pun dalam kitab suci al-Qurán untuk dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern.

B.            Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan?
2.    Bagaimana sejarah ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan?
3.    Bagaimana perkembangan ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan?
4.    Apa tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan?


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Ketika mendengar istilah Islamisasi Ilmu pengetahuan, ada sebuah kesan bahwa ada sebagian ilmu yang tidak Islam sehingga perlu untuk diIslamkan. Dan untuk mengIslamkannya maka diberikanlah kepada ilmu-ilmu tersebut dengan label "Islam" sehingga kemudian muncullah istilah-istilah ekonomi Islam, kimia Islam, fisika Islam dan sebagainya. Bahkan ada sebagian orang yang ceroboh menganggap Islamisasi sebagai suatu proses yang berkaitan dengan objek-objek eksternal, kemudiannya mengaitkannya dengan komputer, kereta api, mobil bahkan bom Islam. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi, ada yang terbelengu oleh pandangan dualistis, memberikan perhatian yang sedikit sekali pada pengembangan yang telah dilakukan oleh para cendikiawan dan pemikir muslim, mereka lebih tertarik melakukan pengembangan institusi-institusi, seolah-olah institusi-institusi tersebut dapat didirikan dengan baik tanpa para cendikiawan dan pemikir yang mumpuni di dalamnya.
Di UIN Malang sendiri, berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Ummi, menemukan beberapa versi pemahaman tentang Islamisasi ilmu pengetahuan. Versi pertama beranggapan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan sekedar memberikan ayat-ayat yang sesuai dengan ilmu pengetahuan umum yang ada (ayatisasi). Kedua, mengatakan bahwa Islamisasi dilakukan dengan cara mengIslamkan orangnya. Ketiga, Islamisasi yang berdasarkan filsafat Islam yang juga diterapkan di UIN Malang dengan mempelajari dasar metodologinya. Dan keempat, memahami Islamisasi sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang beretika atau beradab. Dengan berbagai pandangan dan pemaknaan yang muncul secara beragam ini perlu kiranya untuk diungkap dan agar lebih dipahami apa yang dimaksud “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”.
Pengertian Islamisasi ilmu pengetahuan ini secara jelas diterangkan oleh al-Attas, yaitu: Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belengu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi.
 Ini artinya dengan Islamisasi ilmu pengetahuan, umat Islam akan terbebaskan dari belengu hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga timbul keharmonian dan kedamaian dalam dirinya, sesuai dengan fitrahnya.
Untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, menurut al-Attas, perlu melibatkan dua proses yang saling berhubungan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan kedua, memasukan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya, "ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur-unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap ranting.
Al-Attas menolak pandangan bahwa Islamisasi ilmu bisa tercapai dengan melabelisasi sains dan prinsip Islam atas ilmu sekuler. Usaha yang demikian hanya akan memperburuk keadaan dan tidak ada manfaatnya selama "virus"nya masih berada dalam tubuh ilmu itu sendiri sehingga ilmu yang dihasilkan pun jadi mengambang, Islam bukan dan sekulerpun juga bukan. Padahal tujuan dari Islamisasi itu sendiri adalah untuk melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi ilmu dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya sehingga menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi tersebut akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan kekuatan iman.
Menurut al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha "untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita)." Dan untuk menuangkan kembali keseluruhan khazanah pengetahuan umat manusia menurut wawasan Islam, bukanlah tugas yang ringan yang harus dihadapi oleh intelektual-intelektual dan pemimipin-pemimpin Islam saat ini. Karena itulah, untuk melandingkan gagasannya tentang Islamisasi ilmu, al-Faruqi meletakan "prinsip tauhid" sebagai kerangka pemikiran, metodologi dan cara hidup Islam. Prinsip tauhid ini dikembangkan oleh al-Faruqi menjadi lima macam kesatuan, yaitu: (1) Kesatuan Tuhan, (2) Kesatuan ciptaan, (3) Kesatuan kebenaran dan Pengetahuan, (4) Kesatuan kehidupan, dan (5) Kesatuan kemanusiaan.
Secara umum, Islamisasi ilmu tersebut dimaksudkan untuk memberikan respon positif terhadap realitas ilmu pengetahuan modern yang sekularistik dan Islam yang "terlalu" religius, dalam model pengetahuan baru yang utuh dan integral tanpa pemisahan di antaranya. Sebagai panduan untuk usaha tersebut, al-Faruqi menggariskan satu kerangka kerja dengan lima tujuan dalam rangka Islamisasi ilmu, tujuan yang dimaksud adalah:
1)      Penguasaan disiplin ilmu modern.
2)      Penguasaan khazanah arisan Islam.
3)      Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern
4)      Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif dengan ilmu-ilmu modern.
5)      Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.
Untuk merealisasikan  tujuan-tujuan tersebut, al-Faruqi menyusun 12 langkah yang harus ditempuh terlebih dahulu. Langkah-langkah tersebut adalah:
1)      Penguasaan disiplin ilmu modern: prinsip, metodologi, masalah, tema dan perkembangannya
2)      Survei disiplin ilmu
3)      Penguasaan khazanah Islam: ontologi
4)      Penguasaan khazanah ilmiah Islam: analisis
5)      Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu.
6)      Penilaian secara kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini
7)      Penilaian secara kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini
8)      Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam
9)      Survei permasalahan yang dihadapi manusia
10)  Analisis dan sintesis kreatif
11)  Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam
12)  Penyebarluasan ilmu yang sudah diIslamkan.
Dalam beberapa hal, antara al-Attas dengan al-Faruqi mempunyai kesamaan pandangan, seperti pada tataran epistemologi mereka sepakat bahwa ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi terikat (value bound) dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.[1] Mereka juga sependapat bahwa ilmu mempunyai tujuan yang sama yang konsepsinya disandarkan pada prinsip metafisika, ontologi, epistemologi dan aksiologi dengan tauhid sebagai kuncinya. Mereka juga meyakini bahwa Allah adalah sumber dari segala ilmu dan mereka sependapat bahwa akar permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini terletak pada sistem pendidikan yang ada, khususnya masalah yang terdapat dalam ilmu kontemporer. Dalam pandangan mereka, ilmu kontemporer atau sains modern telah keluar dari jalur yang seharusnya. Sains modern telah menjadi "virus" yang menyebarkan penyakit yang berbahaya bagi keimanan umat Islam sehingga unsur-unsur buruk yang ada di dalamnya harus dihapus, dianalisa, dan ditafsirkan ulang sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Walaupun cukup banyak persamaan yang terdapat di antara keduanya, dalam beberapa hal, secara prinsip, mereka berbeda. Untuk mensukseskan proyek Islamisasi, al-Attas lebih menekankan kepada subjek daripada ilmu, yaitu manusia, dengan melakukan pembersihan jiwa dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga dalam proses Islamisasi ilmu tersebut dengan sendirinya akan terjadi transformasi pribadi serta memiliki akal dan rohani yang telah menjadi Islam secara kaffah. Sedangkan al-Faruqi lebih menekankan pada objek Islamisasi yaitu disiplin ilmu itu sendiri. Hal ini mungkin saja menimbulkan masalah, khususnya ketika berusaha untuk merelevansikan Islam terhadap sains modern, karena bisa saja yang terjadi hanyalah proses labelisasi atau ayatisasi semata.
Terdapat juga perbedaan yang cukup mencolok mengenai ruang lingkup yang perlu diIslamkan. Dalam hal ini, al-Attas membatasi hanya pada ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer atau masa kini sedangkan al-Faruqi meyakini bahwa khazanah keilmuan Islam masa lalu juga perlu untuk diIslamkan kembali sebagaimana yang telah dia canangkan di dalam kerangka kerjanya. Dan satu hal lagi, dalam metodologi bagi proses Islamisasi ilmu, al-Attas berpandangan bahwa definisi Islamisasi itu sendiri telah memberi panduan kepada metode pelaksanaannya di mana proses ini melibatkan dua langkah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan bagi al-Faruqi, hal itu belumlah cukup sehingga ia merumuskan suatu kaedah untuk Islamisasi ilmu pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip pertamanya yang melibatkan 12 langkah.
Selain kedua tokoh di atas, ada beberapa pengembangan definisi dari Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Osman Bakar, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sebuah program yang berupaya memecahkan masalah-masalah yang timbul karena perjumpaan antara Islam dengan sains modern sebelumnya. Progam ini menekankan pada keselarasan antara Islam dan sains modern tentang sejauhmana sains dapat bermanfaat bagi umat Islam. Dan M. Zainuddin menyimpulkan bahwa Islamisasi pengetahuan pada dasarnya adalah upaya pembebasan pengetahuan dari asumsi-asumsi Barat terhadap realitas dan kemudian menggantikannya dengan worldviewnya sendiri (Islam).

B.            Kontroversi Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Diskursus seputar Islamisasi ilmu pengetahuan ini telah begitu lama menebarkan perdebatan penuh kontroversi di kalangan umat Islam. Semenjak dicanangkannya sekitar 30 tahun yang lalu, berbagai sikap baik yang pro maupun yang kontra terus bermunculan. Satu pihak dengan penuh antusias dan optimisme menyambut momentum ini sebagai awal revivalisme (kebangkitan) Islam. Namun di pihak lain menganggap bahwa gerakan "Islamisasi" hanya sebuah euphoria sesaat untuk mengobati "sakit hati" dan inferiority complex karena ketertinggalan mereka yang sangat jauh dari peradaban Barat, sehingga gerakan ini hanya membuang-buang waktu dan tenaga dan akan semakin melemah seiring perjalanan waktu dengan sendirinya.
Rosnani Hashim membagi kelompok ini menjadi empat golongan. Pertama, golongan yang sependapat dengan gagasan ini secara teori dan konsepnya dan berusaha untuk merealisasikan dan menghasilkan karya yang sejalan dengan maksud Islamisasi dalam disiplin ilmu mereka. Kedua, golongan yang sependapat dengan gagasan ini secara teori dan konsep tetapi tidak mengusahakannya secara praktis. Ketiga, golongan yang tidak sependapat dan sebaliknya mencemooh, mengejek dan mempermainkan gagasan ini. Dan keempat, kalangan yang tidak mempunyai pendirian terhadap isu ini. Mereka lebih suka mengikuti perkembangan yang dirintis oleh sarjana lainnya atau pun mereka tidak memperdulikannya. Untuk golongan kedua dan keempat tidak akan dibahas di sini karena tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap perkembangan Islamisasi ilmu pengetahuan, pembahasan akan lebih difokuskan pada golongan pertama dan ketiga.
Aktivitas golongan pertama mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka mengokohkan dan memurnikan kembali konsep Islamisasi ilmu ini walaupun mereka saling mengkritik ide satu sama lain, tetapi itu dimaksudkan untuk merekonstruksinya bukan mendekontruksi. Sebut saja S.A. Ashraf yang melakukan kritik terhadap al-Faruqi yang “ingin penyelidikan dilakukan terhadap konsep Barat dan Timur, membandingkannya melalui subjek yang terlibat dan tiba kepada satu kompromi kalau memungkinkan.” Pada fikirannya, kompromi merupakan sesuatu yang mustahil terhadap dua pandangan yang sama sekali berbeda. Tidak seharusnya bagi sarjana muslim memulai dengan konsep Barat tetapi dengan konsep Islam yang dirumuskan berdasarkan prinsip yang dinukil dari al-Quran dan al-Sunnah.
Namun dalam pandangan Syed Hossein Nasr, integrasi yang diinginkan al-Faruqi bukan saja sesuatu yang mungkin tetapi juga perlu untuk dilakukan. Menurutnya, para pemikir muslim seharusnya memadukan berbagai bentuk ilmu dalam kerangka pemikiran mereka. Bukan hanya menerima, tetapi juga melakukan kritik dan menolak struktur dan premis ilmu sains yang tidak sesuai dengan pandangan Islam dan kemudian menuliskannya kedalam sebuah buku sebagaimana yang pernah dilakukan Ibnu Sina atau Ibnu Khaldun di masa lalu.
Kritik lainnya dilakukan oleh Ziauddin Sardar, pemikir muslim dari Inggris, yang beranggapan bahwa program Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang naif dan dangkal. Beliau mengkhawatirkan gagasan gerakan Islamisasi ini nantinya malah menghasilkan deIslamisasi (westernisasi) Islam. Sardar pesimis akan kemampuan para ilmuwan muslim untuk memadukan ilmu Islam dengan ilmu Barat karena di antara keduanya terdapat perbedan paradigma yang mencolok. Hal ini merupakan reaksi ketidaksetujuan Sardar terhadap al-Faruqi yang meletakkan penguasaan ilmu pengetahuan modern sebagai langkah pertama mendahului penguasaan ilmu warisan Islam dan menjelaskan relevansi Islam kepada disiplin ilmu Barat. Tindakan ini dianggap Sardar tak ubahnya seperti “berselonjor sebelum duduk” atau seperti “menempatkan kereta di depan kuda”. Menurutnya, ilmu pengetahuan modernlah yang perlu dijadikan relevan kepada Islam sebab Islam adalah “a priori relevan  untuk setiap masa”. Merupakan suatu yang sangat fatal jika mementingkan adanya relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern, itu hannya akan membuat kita terjebak ke dalam “Westernisasi Islam” dengan menjustifikasi kepada pembenaran ilmu Barat sebagai standar dan mendominasi perkembangan ilmu pengetahuan secara makro.
Sardar berargumen bahwa semua ilmu dilahirkan dari pandangan tertentu dan dari segi hirarki tunduk kepada pandangan tersebut. Oleh karena itu, usaha untuk menemui epistemologi tidak boleh diawali dengan memberi tumpuan kepada ilmu modern, karena Islamisasi ilmu modern hanya bisa terjadi dengan membina paradigma yang mengkaji aplikasi luar peradaban Islam yang berhubungan dengan keperluan realitas kontemporer. Jika tetap bertahan pada corak berpikir seperti itu berarti hanya sebatas mengeksploitasi ilmu pengetahuan Islami namun tetap menggunakan corak berpikir Barat. Karena itu, Sardar  mengajak bahwa Islamisasi ilmu bagaimanapun juga harus bertitik tolak dari membangun epistemologi Islam sehingga benar-benar menghasilkan sistem ilmu pengetahuan yang dibangun di atas pilar-pilar ajaran Islam.
Al-Attas juga meng”amini” pendapat tersebut. Langkah dalam kerangka kerja al-Faruqi tersebut seolah-olah menggambarkan ada yang salah dalam ilmu pengetahuan Islam sehingga perlu dibenarkan. Pada pendapat beliau yang tidak dibenarkan dan perlu dibenarkan adalah ilmu pengetahuan sekuler dari Barat. Inilah yang menjadi alasan al-Attas bahwa yang perlu diIslamisasi hanyalah ilmu pengetahuan kontemporer atau masa kini, sedangkan ilmu pengetahuan Islam tradisional hanya diteliti sekedar untuk melihat sejauhmana penyimpangannya dari tradisi Islam tapi bukan untuk direlevansikan terhadap ilmu pengetahuan Barat.
Gerakan Islamisasi ini juga mendapat dukungan dari Jaafar Syeikh Idris, seorang ulama Sudan yang pernah mengajar di Universitas King Abdul Azis, Arab Saudi. Idris menyarankan agar para cendikiawan muslim membawa pandangan Islam ke dalam bidang dan karya akademis mereka dalam rangka evolusi sosial Islam. Dan ketika slogan Islamisasi ilmu pengetahuan menjadi sangat popular, pada 1987, Syeikh Idris menulis sebuah artikel yang mengingatkan agar beberapa masalah filsafat dan metodologi yang serius ditetapkan terlebih dahulu sebelum program Islamisasi yang berarti dapat dilaksanakan. Ia mengajukan beberapa pertanyaan sebagai panduan untuk menuju ke arah Islamisasi ilmu tersebut, Syeikh Idris mempersoalkan tentang; 1) Apakah makna mengIslamkan Ilmu?; 2) Apakah ilmu pengetahuan itu bersifat possible?; 3) Apakah semua ilmu pengetahuan itu dipelajari atau sebagiannya bawaan sejak lahir?; 4) Apakah sumber-sumber ilmu pengetahuan itu?; 5) Apakah metode ilmiah itu?. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan ini, maka jawaban-jawaban terhadapnya bisa lebih sistematis dibandingkan penulis-penulis lainnya, termasuk Ismail Raji al-Faruqi. Dan dalam pandangannya juga, ilmu pengetahuan masa kini adalah “ilmu pengetahuan yang berada dalam kerangka filsafat ateis materialis yang berlaku di Barat”, yang memungkinkan bagi umat Islam untuk mengIslamkannya. Untuk itu Syeikh Idris mengusulkan agar mengIslamkan ilmu pengetahuan dengan (i) meletakkannya diatas fondasi Islam yang kuat, dan (ii) mempertahankan nilai-nilai Islam dalam pencarian ilmu pengetahuan.
Di Indonesia sendiri ada beberapa tokoh yang mendukung Islamisasi ilmu pengetahuan, seperti AM. Saifuddin. Menurutnya, Islamisasi adalah suatu keharusan bagi kebangkitan Islam, karena sentral kemunduran umat dewasa ini adalah keringnya ilmu pengetahuan dan tersingkirnya pada posisi yang rendah. Hal senada diungkapkan Hanna Djumhana Bastaman, dosen psikologi UI Jakarta. Hanya saja beliau memperingatkan bahwa gagasan ini merupakan proyek besar sehingga perlu kerjasama yang baik dan terbuka di antara para pakar dari berbagai disiplin ilmu agar terwujud sebuah sains yang berwajah Islami.
Maraknya perkembangan pemikiran seiring dengan lahirnya gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan ini, bukan berarti semua umat Islam sepakat terhadap ide tersebut. Mereka percaya bahwa semua ilmu itu sudah Islami, sebab yang menjadi sumber utamanya adalah Allah SWT sendiri. Sehingga mereka sangsi dengan pelabelan Islam atau bukan Islam pada segala ilmu. Sebut saja dalam hal ini Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdul Karim Soroush, Bassan Tibi, Hoodbhoy dan Abdul Salam.
Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan tidak bisa diIslamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam menyalahgunakannya. Dan bahkan ia berkesimpulan bahwa "kita tidak perlu bersusah payah membuat rencana dan bagan bagaimana menciptakan ilmu pengetahuan Islami. Lebih baik kita manfaatkan waktu, energi dan uang untuk berkreasi." Bagi Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan itu memiliki dua kualitas, “seperti senjata dua sisi yang harus dipegang dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab, ia sangat penting digunakan dan didapatkan secara benar.” Baik dan buruknya ilmu pengetahuan bergantung pada kualitas moral pemakainya.
Abdul Salam, pemenang anugerah Nobel fisika berpandangan bahwa “hanya ada satu ilmu universal yang problem-problem dan modalitasnya adalah internasional dan tidak ada sesuatu yang dinamakan ilmu Islam, seperti juga tidak ada ilmu Hindu, ilmu Yahudi, atau ilmu Kristen. Abdul Salam menceraikan pandangan hidup Islam menjadi dasar metafisis kepada sains. Ia menafikan bahwa pandangan hidup seseorang akan selalu terkait dengan pemikiran dan aktivitas seorang ilmuwan, sebagaimana diungkapkan Alparsalan Acikgenc bahwa “seorang saintis akan bekerja sesuai dengan persfektifnya yang terkait dengan framework dan pandangan hidup yang dimilikinya.”
Senada dengan Abdul Salam, Pervez Hoodbhoy, yang juga pernah meraih penghargaan Nobel, menyangsikan keberadaan sains Barat, sains Islam, sains Yunani atau peradaban lain dan berpandangan bahwa sains itu bersifat universal dan lintas bangsa, agama atau peradaban. Menurutnya "tidak ada sains Islam tentang dunia fisik, dan usaha untukmenciptakan sains Islam (Islamisasi ilmu pengetahuan, pen.) merupakan pekerjaan sia-sia." Begitu juga Bassam Tibi , seorang sarjana Islam di Jerman berargumen dengan halus untk memperjuangkan keserasian Islam dan sekularisme. Bassam Tibi menganggap bahwa Islamisasi merupakan suatu bentuk indegenisasi atau pribumisasi (indegenization) yang berhubungan secara integral dengan strategi kultural fundamentalisme Islam. Islamisasi dianggap sebagai penegasan kembali ilmu pengetahuan lokal untuk menghadapi ilmu pengetahuan global dan invansi kebudayaan yang berkaitan dengan itu, yakni “dewesternisasi”. Namun dalam pandangan Adnin Armas, pemahaman Bassam tibi ini tidaklah tepat. Menurutnya, Islamisasi bukanlah memisahkan antara lokal menentang universal ilmu pengetahuan Barat. Pandangan Bassam Tibi ini lebih bermuatan politis dan sosiologis dikarenakan umat Islam hanya berada di dalam dunia berkembang, maka gagasannya pun bersifat gagasan lokal yang menentang gagasan global. Padahal, munculnya ide Islamisasi lebih disebabkan perbedaan worldview antara Islam dan agama atau budaya lain yang berbeda. Islamisasi bukan sekedar melakukan kritik terhadap budaya dan peradaban global Barat, tetapi juga mentransformasi bentuk-bentuk lokal supaya sesuai dengan worldview Islam.
Kritik terhadap Islamisasi ini juga diajukan oleh Abdul Karim Soroush, ia menyimpulkan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan tidak logis atau tidak mungkin. Alasannya, realitas bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Oleh sebab itu, sains sebagai proposisi yang benar, bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Untuk itu secara ringkas Soroush mengargumentasikan bahwa; 1) Metode metafisis, empiris atau logis adalah independen dari Islam atau agama apa pun. Metode tidak bisa diIslamkan; 2) Jawaban-jawaban yang benar tidak bisa diIslamkan. Kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran tidak bisa diIslamkan; 3) Pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang diajukan adalah mencari kebenaran, sekalipun diajukan oleh non-muslim; 4) Metode yang merupakan presupposisi dalam sains tidak bisa diIslamkan. Dari keempat argumentasi ini terlihat Soroush memandang realitas sebagai sebuah perubahan dan ilmu pengetahuan dibatasi hanya terhadap fenomena yang berubah.
Seperti juga Abdul Salam dan Soroush, Muhsin Mahdi menolak ide ilmu Islam sebagai istilah yang telah dipakai sekarang. Mahdi beranggapan bahwa ide ilmu Islam adalah produk dari filsafat agama. Dan dia juga beranggapan bahwa ide kontemporer mengenai ilmu Islam adalah suatu usaha untuk mengaplikasikan formulasi filsafat khas Kristen neo-Thomist ke dalam Islam, yang tidak dapat dibenarkan karena, tidak seperti Kristen Katholik, Islam tidak memiliki apa yang disebut sebagai “induk dari segala ilmu” yang merupakan pokok dari seluruh diskursus dan aktivitas filsafat keilmuan.
Gagasan Islamisasi ini juga mendapat tantangan dari Usep Fahrudin, karena menurutnya Islamisasi ilmu bukan termasuk kerja kreatif. Islamisasi ilmu tidak berbeda dengan pembajakan atau pengakuan terhadap karya orang lain. Sampai pada tingkat tertentu, Islamisasi tidak ubahnya kerja seorang tukang, jika ada seorang saintis berhasil menciptakan atau mengembangkan suatu ilmu, maka seorang Islam menangkap dan mengIslamkannya.
Terlepas dari pro-kontra di atas, yang menjadi tantangan besar bagi kelanjutan proses Islamisasi dan merupakan the real challenge adalah komitmen sarjana dan institusi pendidikan tinggi Islam sendiri. Tantangan globalisasi yang terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi semakin membingungkan. Ilmu dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjualbelikan untuk meraih keuntungan. Akibatnya, orientasinya pun ikut berubah, tidak lagi untuk meraih “keridhaan Allah” tetapi untuk kepentingan diri sendiri. Universitaspun hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pragmatis, menjadi pabrik industri tenaga kerja dan bukan lagi merupakan pusat pengembangan ide-ide ilmu pengetahuan. Sehingga merupakan hal yang wajar jika al-Attas mengungkapkan bahwa tantangan terbesar terhadap perkembangan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan muncul dari kalangan umat Islam itu sendiri. Dan tantangan yang tak kalah besarnya adalah akibat kedangkalan pengetahuan umat Islam terhadap agamanya sendiri. Hal ini, menurutnya, bisa dilihat dari karya tulis yang mereka hasilkan yang mencerminkan bahwa mereka belum memahami Islam dengan baik.

C.           Sejarah Ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Menurut Wan Mohd Nor Wan Daud, proses Islamisasi ilmu pengetahuan pada dasarnya telah berlangsung sejak permulaan Islam hingga zaman kita sekarang ini. Ayat-ayat terawal yang diwahyukan kepada nabi secara jelas menegaskan semangat Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, yaitu ketika Allah menekankan bahwa Dia adalah sumber dan asal ilmu manusia. Ide yang disampaikan al-Qur'an tersebut membawa suatu perubahan radikal dari pemahaman umum bangsa Arab pra-Islam, yang menganggap suku dan tradisi kesukuan serta pengalaman empiris, sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Pada sekitar abad ke-8 masehi, pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah, proses Islamisasi ilmu ini berlanjut secara besar-besaran, yaitu dengan dilakukannya penterjemahan terhadap karya-karya dari Persia dan Yunani yang kemudian diberikan pemaknaan ulang disesuaikan dengan konsep Agama Islam. Salah satu karya besar tentang usaha Islamisasi ilmu adalah hadirnya karya Imam al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, yang menonjolkan 20 ide yang asing dalam pandangan Islam yang diambil oleh pemikir Islam dari falsafah Yunani, beberapa di antara ide tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian dibahas oleh al-Ghazali disesuaikan dengan konsep aqidah Islam. Hal yang sedemikian tersebut, walaupun tidak menggunakan pelabelan Islamisasi, tapi aktivitas yang sudah mereka lakukan semisal dengan makna Islamisasi.
Selain itu, pada tahun 30-an, Muhammad Iqbal menegaskan akan perlunya melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu pengetahuan. Beliau menyadari bahwa ilmu yang dikembangkankan oleh Barat telah bersifat ateistik, sehingga bisa menggoyahkan aqidah umat, sehingga beliau menyarankan umat Islam agar "mengonversikan ilmu pengetahuan modern". Akan tetapi, Iqbal tidak melakukan tindak lanjut atas ide yang dilontarkannya tersebut. Tidak ada identifikasi secara jelas problem epistimologis mendasar dari ilmu pengetahuan modern Barat yang sekuler itu, dan juga tidak mengemukakan saran-saran atau program konseptual atau metodologis untuk megonversikan ilmu pengetahuan tersebut menjadi ilmu pengetahuan yang sejalan dengan Islam. Sehingga, sampai saat itu, belum ada penjelasan yang sistematik secara konseptual mengenai Islamisasi ilmu pengetahuan.
Ide Islamisasi ilmu pengetahuan ini dimunculkan kembali oleh Syed Hossein Nasr, pemikir muslim Amerika kelahiran Iran, tahun 60-an. Beliau menyadari akan adanya bahaya sekularisme dan modernisme yang mengancam dunia Islam, karena itulah beliau meletakkan asas untuk konsep sains Islam dalam aspek teori dan praktikal melalui karyanya Science and Civilization in Islam dan Islamic Science. Nasr bahkan mengklaim bahwa ide-ide Islamisasi yang muncul kemudian merupakan kelanjutan dari ide yang pernah dilontarkannya.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan oleh Syed M. Naquib al-Attas sebagai proyek "Islamisasi" yang mulai diperkenalkannya pada Konferensi dunia mengenai Pendidikan Islam yang Pertama di Makkah pada tahun 1977. Al-Attas dianggap sebagai orang yang pertama kali mengupas dan menegaskan tentang perlunya Islamisasi pendidikan, Islamisasi sains, dan Islamisasi ilmu. Dalam pertemuan itu beliau menyampaikan makalah yang berjudul "Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education". Ide ini kemudian disempurnakan dalam bukunya, Islam and Secularism (1978) dan The concepts of Education in Islam A Framework for an Islamic Philosophy of Education (1980). Persidangan inilah yang kemudian dianggap sebagai pembangkit proses Islamisasi selanjutnya.
Selain itu, secara konsisten dari setiap yang dibicarakannya, al-Attas menekankan akan tantangan besar yang dihadapi zaman pada saat ini, yaitu ilmu pengetahuan yang telah kehilangan tujuannya. Menurut al-Attas, "Ilmu Pengetahuan" yang ada saat ini adalah produk dari kebingungan skeptisme yang meletakkan keraguan dan spekulasi sederajat dengan metodologi "ilmiah" dan menjadikannya sebagai alat epistemologi yang valid dalam mencari kebenaran.  Selain itu, ilmu pengetahuan masa kini dan modern, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan, dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual, dan persepsi psikologis dari kebudayaan dan peradaban Barat.  Jika pemahaman ini merasuk ke dalam pikiran elite terdidik umat Islam, maka akan sangat berperan timbulnya sebuah fenomena berbahaya yang diidentifikasikan oleh al-Attas sebagai "deIslamisasi pikiran pikiran umat Islam". Oleh karena itulah, sebagai bentuk keprihatinannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ia mengajukan gagasan tentang “Islamisasi Ilmu Pengetahuan Masa Kini”[2] serta memberikan formulasi awal yang sistematis yang merupakan prestasi inovatif dalam pemikiran Islam modern.
Gagasan awal dan saran-saran konkrit yang diajukan al-Attas ini, tak pelak lagi, mengundang pelbagai reaksi dan salah satunya adalah Ismail Raji al-Faruqi[3] dengan agenda Islamisasi Ilmu Pengetahuannya. Dan hingga saat ini gagasan Islamisasi ilmu menjadi misi dan tujuan terpenting (raison d’etre) bagi beberapa institusi Islam seperti International Institute of Islamic Thought (IIIT)[4], Washington DC., International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, Akademi Islam di Cambridge dan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur.

D.           Perkembangan Ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Sejak digagasnya ide Islamisasi ilmu pengetahuan oleh para cendikiawan muslim dan telah berjalan lebih dari 37 tahun, jika dihitung dari Seminar Internasional pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, berbagai respon terhadapnya pun mulai bermunculan, baik yang mendukung ataupun menolak, usaha untuk merealisasikan pun secara perlahan semakin marak dan beberapa karya yang berkaitan dengan ide Islamisasi mulai bermunculan di dunia Islam. Al-Attas sendiri sebagai penggagas ide ini telah menunjukkan suatu model usaha Islamisasi ilmu melalui karyanya, The Concept of Education in Islam. Dalam teks ini beliau berusaha menunjukkan hubungan antara bahasa dan pemikiran. Beliau menganalisis istilah-istilah yang sering dimaksudkan untuk mendidik  seperti ta'lim, tarbiyah dan ta'dib. Dan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa istilah ta'dib merupakan konsep yang paling sesuai dan komprehensif untuk pendidikan. Usaha beliau ini pun kemudian dilanjutkan oleh cendikiawan muslim lainnya, sebut saja seperti Malik Badri (Dilema of a Muslim Psychologist, 1990); Wan Mohd Nor Wan Daud (The Concept of Knowledge in Islam,1989); dan Rosnani Hashim (Educational Dualism in Malaysia: Implications for Theory and Practice, 1996). Usaha dalam bidang psikologi seperti yang dilakukan Hanna Djumhana B. dan Hasan Langgulung, di bidang ekonomi Islam seperti Syafi'i Antonio, Adiwarman, Mohammad Anwar dan lain-lain. Bahkan hingga sekarang tercatat sudah lebih ratusan karya yang dihasilkan yang berbicara tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, baik dalam bentuk buku, jurnal, majalah, artikel dan sebagainya.
Al-Faruqi sendiri, setelah menggagas konferensi internasional I, tahun 1977, yang membahas tentang ide Islamisasi ilmu pengetahuan di Swiss, ia mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada tahun 1981 di Washington DC untuk merealisasikan gagasannya tentang Islamisasi tersebut, selain menulis buku Islamization of Knowledge. Konferensi lanjutan pun diadakan kembali pada tahun 1983 di Islamabad Pakistan yang bertujuan untuk (i) mengekspos hasil konferensi I dan hasil rumusan yang dihasilkan IIIT tentang cara mengatasi krisis umat, juga (ii) mengupayakan suatu penelitian dalam rangka mengevaluasi krisis tersebut, dan juga mencari penyebab dan gejalanya. Setahun kemudian diadakan lagi konferensi di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan tujuan untuk mengembangkan rencana reformasi landasan berfikir umat Islam dengan mengacu secara lebih spesifik kepada metodologi dan prioritas masa depan, dan mengembangkan skema Islamisasi masing-masing disiplin ilmu. Pada tahun 1987, diadakan konferensi IV di Khortum, Sudan, yang membahas persoalan metodologi yang merupakan tantangan dan hambatan utama bagi terlaksananya program Islamisasi ilmu pengetahuan.
Selain IIIT, beberapa institusi Islam menyambut hangat gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dan bahkan menjadikannya sebagai raison d'etre institusi tersebut, seperti International Islamic University Malaysia (IIUM) di Kuala Lumpur, Akademi Islam di Cambridge dan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Mereka secara aktif menerbitkan jurnal-jurnal untuk mendukung dan mempropagandakan gagasan ini seperti American Journal of Islamic Social Sciences (IIIT), The Muslim Education Quarterly (Akademi Islam) dan al-Shajarah (ISTAC).
Beberapa sarjana terkemuka tersebut tidak hanya mendukung akan tetapi terlibat langsung dalam proses diseminasi konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
Mereka berperan dalam proses pendidrian Universitas Islam Internasional (International Islamic University) di Jedah, Kuala Lumpur, dan Karachi. Proyek pendidikan tinggi KeIslaman pertama yang direkomendasi Organisasi Konferensi Islam (OKI). Di Kuala Lumpur, tahun1983 didirikan International Islamic University Malaysia (IIUM), demikian halnya di Jeddah dan Karachi. Pendirian universitas –universitas tersebut sangat kental dengan semangat Islamisasi Ilmu Pengetahuan  baik dalam filsafatnya, Visi dan Misi, serta tujuannya.
Di  Indonesia, dukungan kuat terhadap konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan al-Faruqi dimulai pada tahun 1990-an dimulai dengan  didirikannya Institut For Science and Teknology Studies (ISTECS), yang bertujuan untuk menyemarakkan Islamisasi sains di Indonesia oleh sekelompok ilmuwan muda di Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT). Dan puncaknya ditandatanganinya piagam berdirinya International Islam Forum for Science, Teknology And Human Rescource Development (IIFTIHAR) di depan ka’bah oleh Prof. Dr. B.J Habibie (saat Itu Menristek dan ketua ICMI) dan Habibi menjabat sebagai ketuannya.
Walaupun demikian, setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, Islamisasi ilmu pengetahuan ini dinilai oleh beberapa kalangan belum memberikan hasil yang konkrit dan kontribusi yang berarti bagi umat Islam. Bahkan secara lugas editor American Journal of Islamic Social Sciences (AJISS) mengakui bahwa meskipun telah diadakan enam kali konferensi mengenai pendidikan Islam, yaitu di Makkah (1977), Islamabad (1980), Dakka (1981), Jakarta (1982), Kairo (1985), dan Amman (1990), dan berdirinya beberapa universitas yang memfokuskan pada Islamisasi pendidikan, namun hingga saat ini, tugas untuk menghasilkan silabus sekolah, buku-buku teks, dan petunjuk yang membantu guru di sekolah belum dilakukan. Dan berdasarkan identifikasi Hanna Djumhana Bastaman, setelah cukup lama berkembang, Islamisasi melahirkan beberapa bentuk pola pemikiran, mulai dari bentuk yang paling superfisial sampai dengan bentuk yang agak mendasar. Bastaman mengistilahkannya sebagai; 1) Similarisasi, yaitu menyamakan begitu saja konsep-konsep yang berasal dari agama, padahal belum tentu sama; 2) Paralelisasi, yaitu menganggap paralel konsep yang berasal dari sains karena kemiripan konotasinya, tanpa mengidentikkan keduanya; 3) Komplementasi, yaitu antara sains dan agama saling mengisi dan saling memperkuat satu sama lain dengan tetap mempertahankan eksistensinya masing-masing; 4) Komparasi, yaitu membandingkan konsep/teori sains dengan konsep/wawasan agama mengenai gejala-gejala yang sama; 5) Induktifikasi, yaitu asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empirik dilanjutkan pemikirannya secara teoritis-abstrak ke arah pemikiran metafisik, kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama dan al-Quran mengenai hal tersebut; dan 6) Verifikasi, yaitu mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Quran.
Jika dicermati, keenam pola pemikiran yang diidentifikasi Bastaman di atas, masih menampakkan jurang pemisah antara keduanya, agama yang pada dasarnya bersumber dari keimanan yang bersifat metafisik tidak begitu saja dapat dihubungkan dengan ilmu pengetahuan yang lebih bercorak empirik dan merupakan produk akal dan intelektual manusia. Walau demikian, pola-pola pemikiran tersebut harus tetap dihargai sebagai upaya untuk Islamisasi ilmu pengetahuan.

E.            Tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Dengan adanya  Islamisasi ilmu pengetahuan diharapkan  nantinya akan dihasilkan sebuah sains Islam yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadis, di mana sains Islam tersebut berbeda dengan sains Barat yang telah berkembang saat ini. Adapun perbandingan antara sains Barat dan sains Islam, yaitu :
No
Sains Barat
Sains Islam
1
Percaya pada rasionalitas
Percaya pada wahyu
2
Sains untuk sains
Sains adalah sarana untuk mendapatkan keridhoan Allah
3
Satau-satunya metode atau cara untuk mengetahui realitas
Banyak metode berlandaskan akal dan wahyu baik secara objektif dan subjektif
4
Netralitas emosional sebagai prasyarat kunci menggapai rasionalitas
Komitmen emosional sangat penting untuk mengangkat usaha-usaha sains spiritual maupun sosial
5
Tidak memihak, ilmuwan hanya peduli pada produl pengetahuan baru dan akibat-akibat penggunaannya
Pemihakan pada kebenaran, ilmuan harus peduli terhadap hasil-hasil dan akibat-akibat penemuannya secara moral sebagai bentuk ibadah
6
Tidak adanya bias, validitas suatu sains hanya tergantung pada bukti penerapannya (objektif) bukan ilmuwan yang menjalankannya (subjektif)
Adanya subjektivitas, validitas sains tergantung pada bukti penerapan juga pada tujuan dan pandangan ilmuwan  yang menjalankannya
7
Penggantungan pendapat, sains hanya dibuat atas dasar bukti yang meyakinkan
Menguji pendapat, sains dibuat atas dasar bukti yang tidak meyakinkan
8
Reduksionisme, cara yang dominan untuk mencapai kemajuan sains
Sintesis, cara yang dominan untuk meningkatkan kemajuan sains
9
Fragmentasi, pembagian sains ke dalam disiplin dan subdisiplin-subdisiplin
Holistik, pembagian sains ke dalam lapisan yang lebih kecil yaitu pemahaman interdisipliner dan holistik
10
Universalisme, walaupun universal namun buah sains hanya bagi mereka yang mampu membelinya
Universalisme, buah sains bagi seluruh umat manusia dan tidak diperjualbelikan
11
Induvidualisme, ilmuwan harus menjaga jarak dengan permasalahan sosial, politik dan ideologis
Orientasi masyarakat, ilmuwan memiliki hak dan kewajiban adanya interdependensi dengan masyarakat
12
Netralitas, sains adalah netral
Orientai nilai, sains adalah sarat nilai berupa baik atau buruk juga halal atau haram
13
Loyalitas kelompok, hasil pengetahuan baru adalah aktifitas terpenting dan perlu dijunjung tinggi
Loyalitas pada Tuhan dan makhluk-Nya, hasil pengetahuan baru adalah cara memahami ayat-ayat Tuhan dan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas ciptaan-Nya
14
Kebebasan absolute, tidak ada pengekangan atau penguasaan penelitian sains
Manajemen sains adalah sumber yang tidak terhingga nilainya, sains dikelola dan direncanakan dengan baik dan harus dipaksa oleh nilai etika dan moral
15
Tujuan membenarkan sarana, setiap sarana dibenarkan demi penelitian sains
Tujuan tidak membenarkan sarana, tujuan sarana diperbolehkan dalam batas-batas etika dan moralitas


BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Pengertian Islamisasi ilmu pengetahuan ini secara jelas diterangkan oleh al-Attas, yaitu: Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belengu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi.
Untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, menurut al-Attas, perlu melibatkan dua proses yang saling berhubungan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan kedua, memasukan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan.

B.            Saran-saran
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mengakui bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu, dalam hal ini penulis sangat membutuhkan saran dan kritikan dari dosen, agar supaya membantu dalam pengembangan wawasan penulis serta nantinya bisa memberikan hasil yang lebih baik.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Faruqi, Ismail Raji, Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Pustaka, 1984)
Armas, Adnin, Westernisasi dan Islamisasi Ilmu, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (INSIST: Jakarta, Thn II No.6/ Juli-September 2005)
Bakar, Osman, Tauhid dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994)
Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997)
Daud, Wan Mohd Nor Wan, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas, diterjemahkan oleh Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas (Bandung: Mizan, 1998)
Hashim, Rosnani, Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah, Perkembangan dan Arah Tujuan, dalam Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (INSIST: Jakarta, Thn II No.6/ Juli-September 2005)
Hoodbhoy, Perves, Ikhtiar Menegak Rasionalitas (Bandung: Mizan, 1996)
Madjid, Nurcholish, Kaki Langit Peradaban Islam (Jakarta: Paramadina, 1997)
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)
Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
Shopan, Mohammad, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dalam Logos: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol.4 No.1 Januari 2005
Soleh, Ahmad Khudori, Ide-Ide tentang Islamisasi Ilmu: Pengertian, Perkembangan dan Respon, dalam Inovasi, Majalah Mahasiswa UIN Malang, Edisi 22 Th.2005
-------, Mencermati Gagasan Islamisasi Ilmu Faruqi, dalam el-Harakah, edisi 57, Tahun XXII, Desember 2001-Pebruari 2002
Tim Perumus Fakultas Tehnik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Al-Islam dan Iptek (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1998)
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004)
Topik R, Kontroversi Islamisasi Sains, dalam Inovasi: Majalah Mahasiswa UIN Malang, Edisi 22 Th. 2005
Ummi, Islamisasi Sains Perspektif UIN Malang, dalam Inovasi: Majalah Mahasiswa UIN Malang, Edisi 22. Th. 2005
Zainuddin, M, Filsafat Ilmu: Persfektif Pemikian Islam (Malang: Bayu Media, 2003)
Zainuddin, M, dkk. (ed), Memadu sains dan Agama: menuju Universitas Islam Masa Depan (Malang: Bayumedia, 2004)



[1] Sampai saat ini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan para ilmuwan tentang netralitas sains, satu pihak berpandangan bahwa sains itu netral dengan pengertian ia tidak memihak pada kebaikan dan juga tidak pada kejahatan karena itulah sering juga disebut bebas nilai (value free), pandangan yang demikian berkembang luas di Barat dan sebagian dunia Islam. Di pihak lain berpandangan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai (value bound), ia terikat dengan nilai-nilai, baik itu dari budaya maupun agama. Perbedaan pandangan ini akan membawa implikasi yang luas terhadap kehidupan umat manusia, jika sains itu netral, maka tidak akan ada hambatan bagi peneliti dalam memilih dan menetapkan objek penelitian, cara meneliti maupun tatkala menggunakan produk penelitian. Jika tidak netral, maka peneliti akan dibatasi oleh nilai dalam hal-hal tersebut. Jika berpegang bahwa sains itu netral, bias saja terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan hasil penelitian yang bisa merugikan umat manusia, karena itu merupakan hal yang bijaksana jika kita memihak pada paham bahwa sains itu tidak netral, dan itu lebih sesuai dengan ajaran semua agama dan sesuai pula dengan niatan para ilmuwan tatkala menciptakan teori sains. Hal seperti inilah yang diinginkan oleh para penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan agar umat Islam tidak terjerumus dalam kesalahan dan membuat kerusakan di muka bumi ini (Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004), h. 46-49.
[2] Label “masa kini” sengaja diberikan sebab ilmu pengetahuan yang diperoleh umat Islam yang berasal dari kebudayaan dan peradaban masa lalu, seperti Yunani dan India, telah diIslamkan (lihat Ibid., h. 334.)
[3] Mengenai ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Al_Faruqi meng”klaim” bahwa ide tersebut murni berasal dari dirinya sebagaimana disampaikannya pada seminar di Islamabad pada Tahun 1982, bahwa “tidak ada seorangpun dari umat Islam yang memikirkan perlunya mengIslamkan ilmu, memahami syarat-syaratnya, atau membicarakan langkah-langkahnya.” Al-Faruqi tidak mengakui bahwa ia terpengaruh ide-ide yang pernah digagas oleh Naquib al-Attas, walaupun dalam beberapa konsep tulisannya, al-Faruqi menggunakan beberapa istilah yang pernah digunakan al-Attas secara konsisten. Hal ini membuat al-Attas cukup “berang” karena merasa idenya telah dicuri oleh al-Faruqi sehingga dia berujar “terlepas dari kewajiban moral, tujuan mengakui sumber asal suatu ide yang penting adalah menunjukkan kepada mereka yang mengetahui subjek itu agar mengetahui arah yang benar demi kepentingan masyarakat:…Namun, jika para penulis muslim… terbiasa mengklaim ide-ide penting orang lain sebagai ide mereka sendiri atau sebagai ide orang lain lagi yang bukan pemilik asal ide itu, sesungguhnya mereka sama dengan menghancurkan sumber yang asli dan menghilangkan pengetahuan masyarakat dari arah yang benar. (Lihat Ibid., 392-401). Meskipun demikian,. al-Faruqi merupakan orang yang sangat berjasa dalam memperkenalkan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan ini secara lebih jauh, hal ini dibuktikan dengan banyaknya seminar-seminar yang diorganisirnya serta  banyaknya artikel-artikel, jurnal-jurnal serta buku-buku yang diterbitkannya untuk mendukung gagasannya tersebut. selain  itu ia juga memberikan langkah-langkah konkrit dalam prosesi “pengIslaman’ ilmu pengetahuan tersebut.
[4] IIIT merupakan perguruan tinggi yang didirikan oleh Ismail Raji al-Faruqi untuk mendukung Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagasnya.

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…