Langsung ke konten utama

TASAWUF (MISTISISME)

BAB I
PENDAHULUAN 
A.           Latar Belakang Masalah
Tasawuf adalah nama lain dari mistisisme dalam Islam. Di kalangan orientalis barat dikenal dengan sebutan sufisme, yang merupakan istilah khusus mistisisme Islam. Sehingga kata sufisme tidak ada pada mistisisme agama-agama lain. Tasawuf atau mistisisme dalam Islam ber-esensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup kezuhudan, dalam bentuk tasawuf amali, kemudian tasawuf falsafi. Tasawuf adalah aspek ajaran Islam yang paling penting, karena peranan tasawuf merupakan kunci kesempurnaan amaliah ajaran Islam. Memang di samping aspek tasawuf, dalam Islam ada aspek lain yaitu akidah dan syariah, atau dengan kata lain yang dimaksud dengan agama adalah terdiri dari Islam, iman dan ihsan, dimana ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan.
Untuk mengetahui hukum Islam kita harus lari kepada syariah/fiqih, untuk mengetahui rukun iman kita harus lari pada ushuludin/akidah dan untuk mengetahui kesempurnaan ihsan kita masuk kedalam tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf adakalanya membawa orang menjadi sesat dan musyrik apabila seseorang bertasawuf tanpa bertauhid dan bersyariat. Persoalan tasawuf sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan, banyak persoalan dalam dunia tasawuf. Dengan memaparkan serta mengutip pendapat yang ada, paling tidak itulah yang tersurat dalam makalah ini.


B.            Rumusan Masalah
1.    Pengertian Tasawuf dan Mistisisme beserta Sejarah
2.    Tujuan, Sumber Ajaran dan Aliran Tasawuf
3.    Aliran Tasawuf


BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Tasawuf dan Mistisisme
Kata tasawuf berasal dari kata shufi yang banyak terjadi pembahasan dan kata ini  pertama kali dipakai oleh seorang Zahid yang bernama Abu Hasyim al-Kufi (wafat tahun 150 H), maka perlu diketahui beberapa kata sebagai berikut:
a.    Ahlus Shuffah
Orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah, dan karena kehilangan harta, berada dalam keadaan miskin dan tak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana disebut shuffah. Sesungguhnya miskin ahlus Shuffah berarti baik dan mulia. Sifat tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia itulah sifat-sifat kaum shufi.
b.    Shof Pertama
Sebagaimana halnya dengan orang shalat di shaf pertama mendapat kemuliaan dan pahala. Demikian pula kaum shufi dimuliakan Allah dan diberi pahala.
c.    Shufi dari shofi yaitu suci
Seorang shufi adalah orang yang disucikan dan kaum shufi adalah orang-orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.
d.    Shopos
Kata Yunani yang berarti hikmat. Orang shufi betul ada hubungannya dengan hikmat.
e.    Suf, kain yang di buat dari bulu yaitu wol
Hanya kain wol kasar yang dipakai kaum shufi dan bukan wol halus seperti sekarang. Memakai wol kasar di waktu itu adalah simbol kesederhanaan dan kemiskinan. Kaum shufi sebagai golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia.
Tasawuf dapat diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Selain itu dapat pula diartikan berpindah dari kehidupan biasa menjadi kehidupan shufi yang selalu tekun beribadah dan jernih, bersih jiwa dan hatinya, ikhlas karena Allah SWT semata-mata. Ada beberapa pendapat tentang makna dan ta’rif secara istilah tentang tashawuf, diantaranya adalah:
a.    Syekh Junaidi al-Bagdadi: tasawuf ialah hendaknya keadaanmu beserta Allah tanpa adanya perantara.
b.    Syekh Ma’ruf al-Karokhi: tasawuf adalah mencari hakekat dan meninggalkan dari segala sesuatu yang ada pada tangan makhluk.
c.    Ibnu Khaldun: tasawuf itu adalah semacam ilmu syari’at yang timbul kemudian di dalam agama, asalnya ialah tekun beribadah dan memutuskan segala pertaliannya dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta benda dan kemegahan, serta menyendiri menuju ke jalan Tuhan dalam halwat dan ibadat.
d.    Prof. Dr. Hamka: tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya dia mudah menuju kepada Tuhannya.
Dari beberapa pendapat tokoh di atas dapat kita ambil kesimpulan: tasawuf ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, menghias diri dengan sifat-sifat terpuji, tidak mementingkan urusan dunia, merasa cukup atas segala pemberian Allah kepada dirinya disertai tawakkal dan mahabbah kepada Allah.
Tasawuf adalah suatu kehidupan rohani yang merupakan fitrah manusia dengan tujuan untuk mencapai hakikat tertinggi, berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah dengan jalan mensucikan jiwanya, dengan melepaskan jiwanya dari noda-noda sifat dan perbuatan tercela. Dengan demikian nampak tasawuf sebagai ilmu agama, khusus berkaitan dengan aspek-aspek moral serta tingkah laku yang merupakan subtansi Islam.
Dalam rangka mensucikan jiwa demi tercapainya kesempurnaan dan kebahagiaan hidup tersebut, maka diperlukan suatu riyadlah (latihan) dari satu tahap ketahap lain yang lebih tinggi. Jadi untuk mencapai kesempurnaan rohani tidaklah dapat dicapai secara spontan dan sekaligus. Memang semua sufi sependapat bahwa untuk dapat mencapai tujuan dekat atau berada dihadirat Allah, satu-satunya jalan hanyalah dengan kesucian jiwa. Dan untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian jiwa itu sendiri memerlukan pendidikan dan latihan mental yang cukup panjang dan bertingkat.
Mistisisme, dalam bahasa Inggris mysticism, bahasa Yunani mysterion, dari mystes (orang yang mencari rahasia-rahasia kenyataan) atau myein (menutup mata sendiri. Istilah ini berasal dari agama-agama misteri Yunani yang para calon pemeluknya diberi nama “mystes”.
F. C. Happold dalam bukunya “Misticism; A Study and Anthology” mendefinisikan” a mystic : “one who had been initiated into this mysteries, through which he had gained an esotoric knowledge of Divine things and had been reborn into eternity”. Mahsudnya, seorang yang terinisiatif kedalam misteri, yang mendapat pengetahuan ilahiah dan setelah itu merasa dilahirkan kembali kedalam keabadian.
Mistisisme dalam Islam cenderung disebut dengan kata tasawuf dan oleh kaum orientalis barat disebut sufisme. Kata sufisme oleh mereka khusus dipakai untuk mistisisme Islam, dan tidak untuk agama-agama yang lain.
Menurut al-Tafatazani, tasawuf pada umumnya mempunyai lima ciri yang bersifat psikis, moral dan epistmologis yaitu:
a.       Peningkatan moral
b.      Pemenuhan fana’ dalam Realitas Mutlak. Inilah ciri khas tasawuf atau mistisisme dalam pengertian yang sebenarnya
c.       Pengetahuan intuitif langsung. Inilah sisi epistemologis, yang membedakan tasawuf dengan filasafat.
d.      Ketentraman atau kebahagiaan
e.       Penggunaan simbol-simbol dalam ungkapan-ungkapan.
Dan dari karakteristik-karakteristik di atas, akhirnya tasawuf dapat didefinisikan sebagai falsafah hidup yang dimaksudkan untuk meningkatkan jiwa seseorang secara moral, melalui latihan-latihan praktis tertentu. Dan kadangkala untuk menyatakan pemenuhan fana’ dalam realitas yang tertinggi secara intuitif, tidak secara rasional. Yang hasilnya adalah kebahagiaan rohani, yang hakekat realitasnya sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam filsafat linguistik modern, sebuah upaya penting telah dilakukan untuk membedakan metabahasa (metalanguage) dari bahasa objek (object language). Misalnya, jika menulis sebuah buku dalam bahasa Inggris tentang gramatika bahasa Jerman, maka bahasa Inggris menjadi metabahasa dan bahasa Jerman menjadi bahasa objek yang dibicarakan dalam bahasa Inggris. Untuk membedakan kedua bahasa ini ketika membahas mistisisme, selanjutnya metabahasa akan disebut sebagai bahasa “tentang” dan bahasa objek sebagai bahasa “dari”.
Sebenarnya ‘ilmu al-hudhuri yang diugkapkan oleh Ha’iri adalah sebagai metamistisisme, yakni meneliti pengalaman mistik dari segi ‘ilmu al-hudhuri. Selama ini mistisisme difahami sebagai hal yang tidak dapat dikatakan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Wiitgenstein dalam Tractatus Logico Philosophicus, atau bahasa Maritain sebagai sesuatu yang tidak dapat dikomunikasikan. Dalam hal ini Ha’iri berpandangan bahwa ada pengetahuan yang lain selain pengetahuan dengan korespondensi yaitu pengetahuan dengan kehadiran. Memang benar ada batas-batas bahasa (limits of language), tapi ini hanya berlaku pada pengetahuan dengan korespondensi dan “teori gambar”. Hal ini tidak berlaku pada pengetahuan dengan kehadiran (al-‘ilm al-hudhuri), sebab dalam pengetahuan ini, sebagaimana kemudian disadari oleh Wittgenstein dalam Philosophical Investigation, bahwa pengetahuan dengan kehadiran mempunyai language games yang berbeda dengan pengetahuan dengan korespondensi. Usaha yang dilakukan oleh Ha’iri adalah menjelaskan struktur epistemologis language games dari pengalaman mistik.
Ha’iri tentu saja, tidak termasuk orang yang beranggapan bahwa pengalaman mistik adalah pengalaman yang tidak dapat dikomunikasikan, atau dituliskan filsafatnya. Ia justru ingin menegaskan bahwa kesulitan-kesulitan soal ini dapat diatasi dengan pembedaan kategoris, yaitu:
a.    Mistisisme yang tidak bisa diceritakan: yaitu pengalaman mistis yang tidak dikonseptualisasikan dalam term-term pemahaman masyarakat umum. Ia memiliki bahasa sendiri yang khas, yang tdak bisa dipahami umum, yang dalam terminologi sufi disebut al-syathiyyat al-shufiyyah, ia adalah ungkapan-ungkapan yag diucapkan oleh para sufi ketika mereka berada dalam keadaan tak sadar sekali, tenggelam dalam lautan fana’. Dalam kondisi seperti ini mereka berbicara tetang apa yang mereka alami, bukan apa yang mereka pikirkan ataupun yang ingin mereka katakan. Itulah sebabnya kita tidak bisa mengkatagorikannya sebagai bahasa konvensional.
b.    Pemikiran mistik introspektif dan rekonstruktif sebagai bahasa objek murni mistisisme. Inilah yang disebut Ha’iri sebagai bahasa “dari” mistisisme.
c.    Metamistisisme filosofis atau ilmiah yang berbicara “tentang” misitisisme. Inilah yang menjadi dasar bahasa ‘ilm al-hudhuri.
Ketiga spesies mistisisme di atas janganlah kita pahami secara parsial dan terpisah, tetapi ketiganya mempunyai hubungan logis. Bertolak dari pengalaman mistik yang murni, yang secara luas dikenal sebagai mistisisme yang tidak dapat diucapkan, hal ini harus dipahami bahwa dalam tahap ini seorang sufi berada dalam keadaan fana’, dalam keadaan ini dia tidak lagi merasakan adanya dirinya atau ke”aku”annya. Dalam keadaan demikian, pengetahuan yang demikian itu dikategorikan sebagai pengetahuan dengan kehadiran, dalam bahasa JWM Verhaar SJ, sebagai suatu penangkapan langsung, tanpa perkataan sebagai syarat mutlak, tanpa pikiran, dan tanpa sifat diskursif apa-apa, terhadap realitas manusia.
Dipandang sebagai berada di luar jangkauan semua bahasa konvensional, pengalaman mistik masuk dalam kategori ilmu hudhuri, dan dengan demikian identik dengan jenis kehadiran yang bersifat preposisional dan terserap. Karena pengalaman mistik masuk ke dalam pengetahuan dengan kehadiran yang identik dengan realitas eksistensial diri, maka pengalaman mistik menjadi landasan bagi kausasi efisien pengetahuan representasional introspektif pengalaman ini ketika sang mistikus telah “kembali”. Dalam kenyataannya, kesadaran uniter yang dimiliki sang mistikus cukup kreatif untuk merekonstruksi, melalui pencerahan, semua tahap mistik yang indah yang telah disaksikannya dalam dimensi vertical emanasi selama realisasi dirinya. Pengalaman kesadaran uniter ini menjadi aktif secara efisien dalam menyediakan tindak-tindak representasi. Dalam teminologi sufi pengetahuan ini disebut sebagai ‘irfan, yaitu sejenis pengetahuan dengan representasi, yang dicerahkan dan diperoleh dari pengetahuan dengan kehadiran mistik melalui relasi iluminatif.
Dengan demikian, penyelidikan tentang kebenaran dan kepalsuan pernyataan-pernyataan dan penegasan-penegasan paradoks mistik, tidak mungkin melalui cara pikir filosofis yang hanya berkenaan dengan pembenaran logis, semantik, dan epistemologis. Yang bisa dilakukan filsafat menyangkut mistisisme hanyalah mengambil bahasa kaum mistis, yakni ‘irfan sebagai objek penyelidikannya. Seluruh pendekatan filosofis terhadap mistisisme masuk ke dalam cara pemikiran dan pembicaraan yang sistematis ‘tentang’ bahasa mistisisme. Filsafat tidak turut campur dalam penggunaan bahasa yang aktual,  filsafat pada prinsipnya hanya memberikan atau memaparkan secara objektif, sebab filsafat tidak dapat memberikan dasar apapun.
Di sinilah sebenarnya posisi ‘ilm al-hudhuri sebagai metamistisime yakni sebagai jembatan yang mengakomodasi mistisisme, mencari keabsahan epistemologi emanasi dan kesatuan mistik sebagai bahasa objek dari mistisisme, tetapi tidak lepas dari ‘irfan. Ini semua adalah pengetahuan dengan kehadiran yang mempunyai ciri swa-objektif, non-representasional, non-fenomenal, dan non-intensional.
‘Irfan adalah salah satu dari sekian banyak disiplin keilmuan yang lahir dari lingkup kebudayaan Islam dan telah berkembang sehingga mencapai tingkat sofistikasi tinggi. Sebagai salah satu disiplin ilmiah dan akademik, ‘irfan mempunyai dua cabang, yakni praktis dan teoritis. Aspek praktis melukiskan dan menjelaskan hubungan dan segenap pertanggungjawaban manusia berkenaan dengan dirinya, dunia, dan Tuhan, oleh sebab itu sifat akhlakinya lebih tampak (mirip dengan akhlak). Namun dalam ajaran praktis ‘irfan, sering disebut perjalanan ruhani (sayr wa al-suluk), seorang penempuh jalan (salik) yang ingin mencapai tujuan tertinggi kemanusiaan, yakni tauhid, harus tahu tempat pendakian, ahwal dan maqamat yang harus dilaluinya, juga ahwal dan syarat-syarat yang akan dilaluinya pada maqamat ini dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya yang akan terjadi pada dirinya, tentu saja semua ini harus dengan pengawasan seorang guru ruhani (syaikh/mursyid).
‘Irfan teoritis berurusan dengan ontologi, membicarakan Tuhan, dunia, dan manusia. Sebagai bagian teoritis, maka bersifat filosofis juga, namun ada perbedaan, jika filsafat hanya menyandarkan argumen-argumennya pada prinsip-prinsip rasional, ‘irfan mendasarkan deduksi-deduksinya pada prinsip-prinsip yang ditemukan melalui pengalaman mistik (kasyf) dan untuk menerangkannya kemudian kembali pada bahasa akal.
Pembagian ini adalah merupakan dua bagian dari satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan; dan satu-kesatuan inilah yang kemudian melahirkan dunia praksis sufi. Praksis disini sangat berbeda dengan praktis. Yang pertama adalah sistem tindakan (moral) yang didorong dan diarahkan oleh dasar teori yang sangat mendalam, sementara yang kedua adalah tindakan yang belum tentu berbasiskan teori; dan dunia-praksis itulah yang sebenarnya menjadi ruh tasawuf.

B.            Sumber Ajaran Tasawuf
Apabila kita menyelidiki secara seksama pada ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah SAW, maka banyak sekali didapati dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis itu yang berfungsi sebagai sumber tasawuf. Dengan singkat kata, sumber pokok tasawuf dalam Islam adalah dari pangkal ajaran Islam itu sendiri. Meskipun ada juga sebagian ahli mengatakan bahwa tasawuf Islam timbul karena adanya pengaruh dari luar Islam.
   Untuk memperjelas dan memperkuat bahwa tasawuf dalam Islam tumbuh dan berkembang dari sumber pokok ajaran Islam sendiri, maka terlebih dahulu perlu dikemukakan teori-teori tentang asal-usul timbulnya tasawuf dalam Islam yang berbeda-beda itu, antara lain:
1.    Adanya pengaruh dari ajaran Kristen dengan faham menjahui dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dalam literatur Arab memang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabia. Lampu yang mereka pasang di malam hari menjadi petunjuk jalan bagi kafilah yang lalu, kemah mereka yang sederhana menjadi tempat berlindung bagi orang yang kemalaman dan kemurahan hati mereka menjadi tempat untuk memperoleh makan bagi musafir yang kelaparan. Dikatakan bahwa Zahid dan Sufi Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah atas pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen ini.
2.    Falsafah mistik Pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh yang sebenarnya ialah di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi, yaitu zuhud, untuk selanjutnya berkontemplasi. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam.
3.    Filsafat Emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari Zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Tetapi dengan masuknya kealam materi, roh menjadi kotor dan untuk kembali ke tempat asalnya roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Pensucian roh ialah dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin, kalau bisa bersatu dengan Tuhan. Dikatakan pula bahwa filsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan sufi dalam Islam.
4.    Ajaran Budha dengan faham nirwananya. Untuk mencapai nirwana, orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham fana’ yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham nirwana.
5.     Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman.
Teori-teori inilah yang mengatakan bahwa tasawuf dalam Islam timbul dan muncul akibat pengaruh-pengaruh dari faham-faham tersebut di atas. Apakah teori-teori ini benar atau tidak, sulit sekali membuktikannya. Namun yang jelas, tanpa pengaruh dari faham-faham tersebut, sufisme bisa muncul dari sumber pokok ajaran Islam, al-Qur’an dan al-Hadis.
Terlepas dari teori-teori di atas, dapat dikatakan bahwa tanpa adanya pengaruh-pengaruh dari faham tersebut, tasawuf dalam Islam akan muncul sendiri dari sumber pokoknya. Dalam masalah ini, Prof. DR. Hamka dalam bukunya: “Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad” menyimpulkan: “bahwasanya tasawuf Islam telah tumbuh sejak tumbuhnya agama Islam itu sendiri. Bertumbuh di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri, yaitu Nabi Muhammad, disauk airnya dari dalam al-Qur’an itu sendiri”.
Bila memperhatikan permulaan tumbuhnya tasawuf dan perjalanan perkembangannya, maka sangat nampak bahwa tumbuhnya tasawuf adalah akibat pengaruh ajaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi setelah mereka membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, memahami maksudnya, membaca hadis, mencontoh kehidupan dan prilaku Nabi bersama sahabatnya, serta pengaruh tuntunan agama Islam pada umumnya.
Menurut Ibnu Khaldun dalam “Muqaddimah Tarikh-nya” menyatakan: “Tasawuf ialah salah satu diantara ilmu-ilmu syari’at yang baru tumbuh dalam agama Islam. Asal mulanya ialah dari amal perbuatan salafus shalihin, dari sahabat-sahabat Nabi dan tabi’in dan orang-orang yang sesudah itu. Maksudnya ialah menuruti jalan kebenaran (haq) dan petunjuk Allah (hidayah). Pokoknya ialah bertekun ibadah, memutuskan jalan yang lain dan tetap hanya tertuju kepada Allah semata, menolak kemegahan  dan kemewahan dunia, melepaskan diri (zuhud) dari pada yang diingini oleh banyak orang berupa kelezatan harta benda atau kemegahan pangkat dan menyendiri dari makhluk dalam berkhalwat dalam beribadah”.
Diantara ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis-hadis Rasulillah yang menjadi dasar ajaran tasawuf adalah antara lain sebagai berikut:

Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imron: 31).

Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya .Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”. (Q.S. Al-Ahzab: 41-42)

Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui”. (Q.S. al-Baqarah: 115)

Artinya: “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Q.S. Al-Qof: 16)

Artinya: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Q.S. al-Anfal: 17)
   
Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Q.S. Al-Fath: 10).

Selain ayat-ayat al-Qur’an diatas, terdapat pula Hadis-hadis Rasulillah SAW yang mengajarkan pada umatnya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, mencintai-Nya dan selalu berdzikir kepada-Nya. Diantaranya adalah:
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Artinya: “Barang siapa yang mengetahui dirinya, maka sungguh ia mengetahui Tuhannya”.

كنت كنزا مخفيا فاحببت ان اعرف فخلقت الخلق فبي عرفوني
Artinya: “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi kemudian Aku ingin dikenal, maka Ku ciptakanlah mahliq dan melalui Aku merekapun mengenal pada-Ku”. (Hadis Qudsi).

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله عليه وسلم يقول الله عز وجل اناعند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فان ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي وان ذكرنى فى ملاء ذكرته فى ملاء هم خير منه وان اقترب الى شبرا تقربت اليه ذراعا و ان اقترب الى ذراعا اقترب اليه باعا وان اتانى ماشيا اتيته هرولة رواه مسلم
Artinya: “Dari Abi Hurairah ra. Beliau berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “ Berfirman Allah Maha Mulia dan Maha Agung: “Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku pada diri-Ku dan Aku besertanya dikala ia menyebut asma-Ku. Apabila ia menyebut-Ku kepada dirinya secara sirri, maka Aku pun akan menyebutnya dengan pahala dan rahmat secara rahasia. Andaikata ia menebut-Ku pada suatu perkumpulan, maka Aku pun akan menyebutnya pada suatu perkumpulan yang lebih baik. Dan andaikata ia mendekat pada-Ku dengan sejengkal, maka Aku akan menyebutnya dengan satu elo (dari siku sampai ujung jari) selanjutnya bila ia mendekat pada-Ku satu elo, maka aku dekati ia sehasta. Dan jika ia dating kepada-Ku dengan brjalan, maka aku akan dating padamu dengan cepat-cepat”. (HR. Muslim).

C.           Aliran Tasawuf
Menurut Amin syukur, ada dua aliran dalam tasawuf. Pertama, aliran tasawuf sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan al-Qur’an dan hadis secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqomat (tingkatan rohaniah) mereka pada dua sumber tersebut. Kedua, Aliran tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi, dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat ini tidak sepenuhnya dikatakan tasawuf; dan juga tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai filsafat. 
a.    Tasawuf Akhlaki
Tasawuf Akhlaki adalah pola Tasawuf yang ajaran-ajarannya kembali kepada al-Qur’an dan sunnah, untuk pendalaman batiniah agar memeroleh akhlak yang luhur. Seperti yang tampak pada ajaran Abu Zhar al-Ghifari, seorang sufi yang taat dengan ajaran sunnah, dan al-Ghazali, seorang sufi yang berusaha ‘menghidupkan’ kembali sunnah Nabi.
Secara historis, berkembangnya Tasawuf Akhlaki pada akhir abad I H sampai awal abad II H, dan abad V H merupakan ‘pelarian’ sebagian Muslim dari kekacauan tatanan politik, di samping sebagai pengamalan ajaran yang bersumber dari ajaran Islam. Sebab-sebab lainnya adalah reaksi terhadap munculnya berbagai ajaran Tasawuf Falsafi yang dipandang menyimpang dari ajaran Islam serta merebaknya berbagai aliran teologi dan filsafat di dunia Islam.
b.    Tasawuf Irfani
Secara Bahasa Irfan adalah bahasa penyingkapan (kasyf) dan syuhud (penyaksian). Penyingkapan-penyingkapan irfani memberikan ungkapan dan pandangan khusus kepada lisan dan mata seorang arif tentang keberadaan dan kosmos eksistensi. Ungkapan dan pandangan ini merupakan hasil dari pengalaman esoterik (rahasia) dan temuan-temuan irfani. 
Epistemologi al-Irfani bersumber dari ilmu hudluri. Adapun ilmu hudhuri adalah pengetahuan yang mana objek-objeknya hadir dalam jiwa seseorang, yang mana objek-objek tersebut dapat dialami dan dirasakan kehadirannya oleh jiwa manusia.
Pendekatan al-Irfani menggunakan pendekatan pengetahuan intuitif. Adapun pendekatan pengetahuan intuitif adalah sejenis pengetahuan yang bersumber dari hati (qalb, heart), pensucian, dan tazkiyah jiwa; atau suatu bentuk pengetahuan yang tidak berdasarkan pada hal-hal empirik, indrawi, akal, pikiran, dan argumentasi rasional, melainkan bersumber dari mata sair suluk, menapaki jalan-jalan spiritual, tahzib dan tazkiyah jiwa, dan penjernihan hati. Pengetahuan seperti ini tidak dapat disamakan dengan pengetahuan hushuli yang bersumber dari suatu konsepsi-konsepsi rasional, melainkan suatu pengetahuan syuhudi, intuisi, immediate (langsung), kehadiran, dan hudhuri.
Sadruddin Qunawi menyatakan, "Jalan-jalanya ahli Irfan dan Tasawuf adalah mencapai, mengetahui, dan menyaksikan segala sesuatu dengan intuisi, musyahadah, dan mukasyafah, walaupun hal-hal yang diketahuinya itu tidak dapat diargumentasikan secara rasional dan tak bisa dibuktikan dengan penalaran akal-pikiran." Menurutnya, segala bentuk makrifat dan pengetahuan itu hanya dihasilkan dari jalur syuhud, intuisi, dan "menyatu" dengan realitas yang tertinggi dan suci serta pengalaman intrinsik dan esoterik. Dengan dasar ini, para filosof murni telah dipandang larut dalam wacana-wacana pikiran dan konsepsi akal yang tidak secara murni dan hakiki mengungkapkan apa hakikat-hakikat yang sebenarnya. Para filosof, dengan metodologi rasional, tidak bisa menampakkan hakikat-hakikat segala sesuatu dan bahkan telah terhijabi dengan metode-metodenya sendiri sedemikian sehingga tidak mampu lagi menyaksikan realitas-realitas sebagaimana mestinya.
c.    Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Tasawuf falsafi, adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya mendorong manusia untuk menyucikan diri agar jiwanya bisa kembali kepada Tuhan atau menyatu dengan-Nya. Dalam proses penyucian diri, apabila telah sampai pada maqam ma’rifah, ajaran tasawuf falsafi cenderung mengabaikan syari’ah (aturan-aturan agama yang bersifat formal-skriptural). Di antara konsep-konsep dalam pola ini adalah ma’rifah (dari Dzunnun al-Mishri), mahabbah (dari Rabi’ah al-Adawiyah), Wahdat Al-Wujud (dari Ibn ‘Arabi), Ittihad (Abu Yazid Al-Busthami), hulul (dari Ibn Mansur Al-Hallaj). Pola Tasawuf Falsafi ini muncul sebagai akibat dari perjumpaan ajaran Islam tentang /zuhud/ dengan ajaran pantheisme (kesatuan Tuhan dan makhluk), gnotisisme Alexandrian, ajaran nirvana agama Budha, dan ajaran brahman dan atman agama Hindu.
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis  (العملي)sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Dari adanya aliran tasawuf falsafi ini muncullah ambiguitas-ambiguitas dalam pemahaman tentang asal mula tasawuf itu sendiri. kemudian muncul beberapa teori yang mengungkapkan asal mula adanya ajaran tasawuf. Pertama; tasawuf itu murni dari Islam bukan dari pengaruh dari non-Islam. Kedua; tasawuf itu adalah kombinasi dari ajaran Islam dengan non-Islam seperti Nasrani, Hidu-Budha, filsafat Barat (gnotisisme). Ketiga; bahwa tasawuf itu bukan dari ajaran Islam atau pun yang lainnya melainkan independent.


BAB III
KESIMPULAN
Tasawuf ialah salah satu diantara ilmu-ilmu syari’at yang baru tumbuh dalam agama Islam. Asal mulanya ialah dari amal perbuatan salafus shalihin, dari sahabat-sahabat Nabi dan tabi’in dan orang-orang yang sesudah itu. Maksudnya ialah menuruti jalan kebenaran (haq) dan petunjuk Allah (hidayah). Pokoknya ialah bertekun ibadah, memutuskan jalan yang lain dan tetap hanya tertuju kepada Allah semata, menolak kemegahan  dan kemewahan dunia, melepaskan diri (zuhud) dari pada yang diingini olh banyak orang berupa kelezatan harta benda atau kemegahan pangkat dan menyendiri dari mahluq dalam berkhlwat dalam beribadah.
Menurut Amin syukur, ada dua aliran dalam tasawuf. Pertama, aliran tasawuf sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur’an dan al-hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqomat (tingkatan rohaniah) mereka pada dua sumber tersebut. Kedua, Aliran tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi, dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf.
Ilmu tasawuf ialah tuntunan yang dapat menyampaikan manusia kepada mengenal Tuhan atau ma’rifat billah dan melalui tasawuf ini pula ia dapat melangkah sesuai dengan tuntunan yang paling baik dan benar, dengan akhlaq yang indah dan aqida yang kuat.
Makna kedekatan Allah dengan hambanya adalah tidak bermakna bahwa Allah menyatu dengan hambanya (Al-Hulul/Wahdatul-Wujud). Ini adalah aqidah bathil. Makna kedekatan Allah dengan hambanya adalah kedekatan malaikat Allah  terhadap manusia.


BAB IV
DAFTAR RUJUKAN
A.E. Afifi, Filsafat Mistis Ibnu Arabi. 1995. terj. Sjahrir Mawi dan Nandi Rahman  Jakarta. Gaya Media pratama
Abdul Qodir Djailani, Filsafat Islam, (Surabaya PT Bina Ilmu, 1993), Hlm. 21-22
Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman. 1997. terj. Ahmad Rofi’ Utsmani. Bandung. Pustaka
Al-Qur’an dan Terjemahannya. (Jakarta: Departemen Agama. 1985)
Budhy Munawar Rahman. Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. 2001. Jakarta. Paramadina
C. Ramli Bihar Anwar, Bertasawuf Tanpa Tarekat: Aura Tasawuf Positif ( Jakarta: IIMaN Kerjasama dengan Hikmah, 2002)
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995)
Harun Nasution. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. 1999. Jakarta. Bulan Bintang
Lorens Bagus. Kamus Filsafat. 1996. Jakarta. Gramedia
M. Zein Yusuf. Akhlak Tasawuf. 1993. Al-Husna. Semarang
Mehdi Ha’iri Yazdi. Ilmu Hudhuri: prinsip-Prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam dari Suhrawardi via Wittgenstein. 1994. terj. Ahsin Mohammad. Bandung. Mizan
Mehdi Ha’iri Yazdi. Ilmu Hudhuri: prinsip-Prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam dari Suhrawardi via Wittgenstein
Moh Saifullah Al-Aziz, Risalah Memahami Tasawuf, (Surabaya: Terbit Terang;1998)
Mulyadi Karta Negara, Nalar Religius, (Jakarta: Erlangga, 2007), Hlm. 73
Murtadha Muthahhari, “Pengantar kepada ‘Irfan”, dalam: al-Hikmah; Jurnal Studi-studi Islam, No. 5, edisi Maret Juni 1992, Bandung: Yayasan Muthahhari
Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Bandung: Mizan Media Utama, 2002, Hlm. 114
Mustofa. Akhlak Tasawuf. 2008. Bandung. Pustaka Setia
Syafa’atun al-Mirzanah, “Hand Out Perkuliahan Tasawuf”. 2000. Dipresentasikan dalam Mata Kuliah Tasawuf Kelas AF1 Semester IV Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tasawuf berasal dari bahasa Arab at-Tashawwuf yang merupakan mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari fi’il khumasi (kerja dengan lima huruf dasar, yakni tashawwafa), yang dibentuk dari kata shawwafa, yang berarti memakai wol. Robby H. Abror. Tasawuf Sosial; Membeningkan Kehidupan dengan Kesadaran Spiritual. 2002. Yogyakarta. Pustaka Baru

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.