Langsung ke konten utama

KECERDASAN EMOSIONAL MENURUT LUQMAN AL-HAKIM


Abstrak
Loss of sense of trust, moral damage, rampant fight among students are the dynamics of education in the country. Declining quality of education not only from the ordinary, but also from the elite. Corruption, abuse of commission, drugs, drunkenness are phenomena that we often hear and are no longer taboo for us to witness. By teaching emotional intelligence in educational institutions and not overly elevating IQ is a solution at the moment. The balance of IQ, EQ, and SQ needs to be taught again, with the appearance of Luqman al-Hakim known for his wisdom. We can learn some lessons from him, such as how to investigate the adolescent of this nation properly.
Kata kunci: Lukman Al-Hakim, kecerdasan emosional, hikmah, bijaksana

A.         PENDAHULUAN
Dalam rentang waktu dan sejarah yang cukup panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar. Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona. Potensi diri yang lain dimarginalkan. Pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap, perilaku dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka memiliki kepribadian yang terbelah (split personality). Dimana tidak terjadi integrasi antara otak dan hati. Kondisi tersebut pada gilirannya menimbulkan krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.
Salah satu perilaku positif yang telah hilang adalah sikap sopan santun, tanggung jawab, jujur, adil, dan amanat yang menjadi budaya bangsa ini semakin terkikis. Eksistensi sikap itu semua ditunjukkan dengan budaya saling menghargai antar sesama. Terkikisnya kebudayaan ini, sungguh amat disesalkan oleh masyarakat pada umumnya, terutama bagi para pendidik.
Ditambah pula dengan arus kemajuan teknologi informasi yang tidak terbendung lagi. Banyaknya media yang merupakan gerbang utama dunia informasi semakin banyak ragamnya, dimulai dari media elektronik, cetak, dan masa membuat para pendidik memerlukan sebuah kurikulum yang bisa menyaring semua informasi yang baik sehingga memberikan dampak positif bagi perkembangan peserta didik. Media-media tersebut juga mempunyai fungsi pendidikan, tiap acara yang disajikan menambah pengetahuan pendengar, penonton, atau pembacanya memberikan kecakapan atau keterampilan serta membina sikap tertentu. Kelebihan yang dimilikinya adalah belajar secara tidak sadar, tanpa paksaan, atau perintah orang lain dan tidak ada tekanan untuk ulangan atau ujian.
Kenakalan remaja juga semakin meningkat sepanjang tahun, seperti mabuk-mabukan, perilaku premanisme di antara para pelajar, seks bebas adalah fenomena yang terjadi dilingkungan peserta didik. Akhirnya keadaan ini semakin menambah potret dunia pendidikan makin tidak menarik dan tidak sedap dipandang, yang pada gilirannya makin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap wibawa dunia pendidikan. Apabila keadaan yang demikian tidak segera dicarikan solusinya, maka sulit mencari alternatif lain yang paling efektif untuk membina moralitas masyarakat. Berbagai upaya mencari solusi untuk memperbaikinya dan mencari sebab-sebabnya adalah mutlak untuk segera dilakukan. Agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi, dan para remaja mampu bersikap bijak dalam setiap tindakannya.
Sedangkan mayoritas masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama Islam, tentunya mereka merupakan kekuatan yang besar dalam setiap sendi-sendi kehidupan, baik politik, budaya, ekonomi, apalagi dalam hal pendidikan. Islam sebenarnya telah mengajarkan kepada umatnya, bagaimana pendidikan yang benar, yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadis. Namun sayangnya, justru mayoritas umat muslim Indonesia mengadopsi sistem pendidikan Barat yang menekankan intelektualitas an sich, justru ketika Barat sedang menata kembali sistem pendidikan yang menggabungkan kecerdasan intelektual dan emosional. Padahal, Islam sudah sejak semula mengatur tentang dua macam kecerdasan ini. Al-Qur’an sangat menghargai orang yang mengoptimalkan akal dan intelektualitasnya dan menggabungnya dengan kematangan jiwa, atau menggunakan akal sebagai wahana bagi pematangan jiwa. Orang yang berhasil menggabungkan kedua macam kecerdasan ini disebut “ulul albab”, berdasarkan firman Allah dalam surat Ali Imran, ayat 191:

Artinya: (ulul albab yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Oleh karenanya, fenomena di atas telah menyadarkan para pakar pendidikan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Sebagaimana para ahli psikologi sepakat, bahwa IQ hanya mendukung sekitar 20 persen faktor yang menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain, termasuk kecerdasan emosional. Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ, dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, dimana pendidikan harus diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ dan SQ secara dinamis.
Para pakar pendidikan Islam dengan berbagai ungkapan, pada umumnya sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membina pribadi muslim yang sempurna dan taat dalam beribadah. Termasuk salah satunya adalah akhlak mulia. Al-Akhlak al-karimah dalam Islam adalah hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi dan spiritual seperti konsistensi (istiqamah), rendah hati (tawaddlu’), usaha keras (tawakkal), ketulusan (ikhlas), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan (ihsan).
Sebenarnya, bila mau kembali kepada al-Qur’an, dimana di dalamnya terdapat nama tokoh yang diabadikan pada salah satu suratnya, yaitu bernama Luqman al-Hakim, maka akan ditemukan sosok yang pengabdiannya seputar nasehat dan petuah-petuah yang sangat layak dijadikan acuan dalam dunia pendidikan secara islami. Meskipun banyak lagi cara islami dalam mendidik, baik berdasarkan ayat-ayat maupun hadis Rasulillah. Namun paling tidak, pesan Luqman ini bukan sekedar pesan biasa umumnya seorang bapak kepada anaknya, namun merupakan pesan yang penuh dengan sentuhan kasih sayang dan sarat dengan muatan ideologis serta tersusun berdasarkan skala prioritas dari pesan agar mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan sampai pada pesan untuk bersikap tawadlu’ dan santun yang tercermin dalam cara berjalan dan berbicara. Kedua jenis pesan dan nasehat tersebut ternyata tidak keluar dari dua prinsip utama dalam ajaran Islam yaitu ajaran tentang akidah dan akhlak.
Yang menarik disini bahwa ternyata sosok Luqman bukanlah seorang yang terpandang atau memiliki pengaruh. Ia hanya seorang hamba Habasyah yang berkulit hitam dan tidak punya kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Namun hikmah yang diterimanya menjadikan ucapannya dalam bentuk pesan dan nasehat layak untuk diikuti oleh seluruh orang tua tanpa terkecuali. Terlepas dari pro kontra siapa Luqman sebenarnya, apakah ia seorang nabi ataukah ia hanya seorang lelaki shalih yang diberi ilmu dan hikmah, yang jelas jumhur ulama lebih cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa ia hanya seorang hamba yang shalih dan ahli hikmah, bukan seorang nabi seperti yang diperkatakan oleh sebagian ulama. Gelar Al-Hakim di akhir nama Luqman tentu gelar yang tepat untuknya sesuai dengan ucapannya, perbuatan dan sikapnya yang memang menunjukkan sikap yang bijaksana dan merupakan strategi yang efektif dalam mendidik keluarganya.
Menurut hemat peneliti, di antara ayat-ayat al-Qur'an yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mendidik, salah satunya adalah surat Luqman ayat 12-19. Oleh karena itu, peneliti ingin menggali kandungan surat Luqman ayat 12-19 berdasarkan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para mufassirin maupun para tokoh pendidikan Islam yang berkaitan dengan kecerdasan emosional. Adapun materi ini akan mengkaji surat Luqman, ayat 12-19 dengan lebih berorientasi pada pendidikan kecerdasan emosional, dalam rangka menyukseskan Hablumminallah (hubungan vertikal antara Allah SWT dan manusia) dan Hablumminannas (hubungan horizontal antara sesama manusia).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas terkait dengan kecerdasan emosional menurut Luqman Al-Hakim, maka yang menjadi fokus penelitian adalah; apa tujuan kecerdasan emosional menurut  Luqman al-Hakim, materi dan strateginya.

B.         METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian pustaka murni (library research) dan pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan jenis kualitatif yang bersifat deskriptif analitik, karena peneliti akan menggambarkan, mengungkapkan dan menjelaskan berbagai macam penafsiran dan pemahaman para mufassir maupun tokoh pendidikan Islam tentang surat Luqman : 12-19, kemudian mengidentifkasikan titik temu dari koleksi data-data primer yang diperoleh, serta melibatkan data-data sekunder, termasuk opini peneliti sendiri. Hal ini dikarenakan pendekatan kualitatif sebagaimana yang diungkapkan oleh Bogdan dan Tylor yang dikutip oleh Moeleong adalah, prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Desain penelitian atau rancang bangun penelitian merupakan rencana atau stuktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa, sehingga peneliti akan dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan penelitiannya.
Adapun tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekhnik dokumenter atau studi dokumenter. Karena dalam penelitian kualitatif, tekhnik dokumenter merupakan alat pengumpul data yang utama karena pembuktian hipotesisnya yang diajukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori atau hukum-hukum yang diterima, baik mendukung maupun menolong hipotesis tersebut. Selajutnya dokumen-dokumen tersebut dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh.
Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu: daftar pustaka primer yaitu kitab-kitab tafsir, sedangkan daftar pustaka sekunder dalam penelitian ini adalah berupa buku-buku keislaman, artikel, majalah, surat kabar, jurnal, internet, karya-karya ilmiah berupa skripsi, tesis, disertasi yang memiliki korelasi substansi dengan tema penelitian yang akan dilakukan.
Tekhnik / cara menganalisa data dalam penelitian ini adalah kajian isi. pengertian kajian isi adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang shahih dari sebuah buku atau dokumen. Adapun langkah yang ditempuh oleh peneliti adalah sebagai berikut: setelah data terkumpul, data tersebut perlu segera digarap dan diolah oleh peneliti. Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu: persiapan, tabulasi, dan penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian.

C.         PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
1.     Kecerdasan Emosional
Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :
“Himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Patton berpendapat, bahwa hubungan IQ dan EQ sebagai berikut. IQ adalah faktor genetik yang tidak dapat berubah yang dibawa sejak lahir. Sedangkan EQ tidak demikian, karena dapat disempurnakan dengan kesungguhan, pelatihan, pengetahuan, dan kemauan. Dasar untuk memperoleh EQ seseorang dengan memahami diri sendiri.
Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan dan kecerdasan emosional bukanlah muncul dari pemikiran intelek yang jernih tetapi dari pekerjaan hati manusia.
Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
Goleman mengutip Salovey menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :
a.       Mengenali Emosi Diri
b.       Mengelola Emosi
c.       Memotivasi Diri Sendiri
d.       Mengenali Emosi Orang Lain
e.       Membina Hubungan
Kecakapan emosi yang paling sering mengantarkan orang ketingkat keberhasilan ini, antara lain:
1)   Inisiatif, semangat juang, dan kemampuan menyesuaikan diri
2)   Pengaruh, kemampuan memimpin tim, dan kesadaran politis.
3)   Empati, percaya diri, dan kemampuan mengembangkan orang lain
Sebaliknya, dua pembawaan yang paling lazim dijumpai pada mereka yang gagal adalah:
a)   Bersikap kaku. Mereka tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam budaya perusahaan, atau mereka tidak mampu menerima atau menanggapi dengan baik umpan balik tentang sikap mereka yang perlu diubah atau diperbaiki. Mereka tidak mampu mendengarkan atau belajar dari kesalahan.
b)   Hubungan yang buruk. Faktor yag paling sering disebut, seperti terlalu mudah melancarkan kritik pedas, tidak peka, atau terlalu menuntut sehingga mereka cenderung dikucilkan oleh rekan-rekan kerja.
Sosok yang diabadikan namanya dalam al-Qur’an, salah satunya adalah Luqman al-Hakim dan tujuan kecerdasan emosional menurutnya adalah menjadikan seseorang yang memiliki hikmah (bijaksana). Definisi tentang hikmah sangat beragam, tergantung siapa yang menafsirkannya. Oleh karenanya, peneliti mempersempit definisi hikmah namun tidak mengesampingkan definisi-definisi yang lain karena adanya keterkaitan makna. Hikmah yaitu orang yang bijaksana. Hal ini berlandaskan ayat;
وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ
Hikmah atau bijaksana merupakan taufik atau pemberian dari Allah. Hikmah adalah sifat dan karakter yang dapat diusahakan jika manusia memenuhi syarat-syarat hikmah dalam dirinya. Allah menggambarkan hikmah dengan kebajikan yang banyak. Karena dengan hikmah orang mampu menghadapi banyak masalah dan menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Sebagaimana firman Allah:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S. al-Baqarah; 269)

Sebagaiman penjelasan ayat di atas, hikmah adalah salah satu sifat orang yang berakal. Namun bukan terbatas pada definisi yang ada dalam filsafat atau orang yang telah sampai kepada peringkat keilmuan dasar, atau juga orang yang telah lulus dari perguruan tinggi. Melainkan mencakup setiap orang yang berakal, berpikir, sadar, dan mengetahui bagaiman cara menggunakan akalnya dalam pergaulan dan tingkah laku, sehingga jauh dari kesalahan, penyimpangan, kebatilan, dan memperoleh keridlaan tuhan dan dapat diterima oleh manusia-manusia yang berakal.
Maksud hikmah disini adalah nilai-nilai ilahi yang menuntun manusia kepada petunjuk, agama, dan keimanan kepada Allah, dan bukan hikmah dalam arti yang mutlak. Negara kita tidak kekurangan orang-orang yang pandai (hukama’), bukannya kesejahteraan dan keadilan yang didapatkan tapi korupsi dan ketidakadilan yang kita terima. Rasulillah bersabda:
من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم ووفقه فيما يعمل حتى يستوجب الجنة ومن لم يعمل بما يعلم تاه فيما يعلم ولم يوفق فيما يعمل حتى يستوجب النار
Barang siapa beramal dengan apa-apa yang telah ia ketahui, maka Allah akan memberikan pengetahuan yang ia belum ketahui dan Allah akan memberikan pertolongan apa-apa yang ia perbuat sehingga ia berhak mendapatkan surga. Dan barang siapa tidak mengamalkan apa-apa yang ia ketahui maka Allah menyesatkan apa-apa yang ia kerjakan dan tidak memberikan pertolongan terhadap apa-apa yang ia perbuat sehingga ia berhak masuk ke neraka.

Menurut imam al-Ghazali, setiap hikmah itu akan lahir dari lubuk hati dengan selalu beribadah tanpa belajar, yaitu dengan melalui jalur kasyf (terbuka) dan ilham. Dari pernyataan beliau, bukan berarti hikmah tidak bisa diperoleh, namun ada usaha-usaha yang perlu dilakukan. Diantaranya adalah:
1.
Bersikap zuhud
11.
Memperhatikan aib sendiri dan mengabaikan aib orang lain
2.
Mengalahkan syahwat
12.
Ringkas bicara
3.
Memerangi setan
13.
Gunakan kelembutan
4.
‘Ishmah (keterjagaan dari dosa)
14.
Benar dalam ucapan
5.
Sabar
15.
Menunaikan amanat
6.
Diam
16.
Meninggalkan sesuatu yang tidak perlu
7.
Menahan pandangan
17.
Tawaddlu’
8.
Mengosongkan perut
18.
Akhlak shaleh
9.
Menjaga lidah



Tujuan kecerdasan emosional di sini bukan hanya mampu merasakan kebahagian, mampu mengendalikan diri, dan mampu bersikap adaptif. Namun lebih dari itu semua, dengan tampilnya sosok Luqman sebagai tokoh, telah memberikan gambaran kepada kita semua, bahwa dia juga patut dijadikan acuan dalam dunia Pendidikan saat ini.
2.     Materi Kecerdasan Emosional
Wahbah Zuhailly berpendapat bahwa wasiat-wasiat Luqman kepada anaknya di sini memuat pokok-pokok aqidah, syari'ah dan akhlaq. Materi pendidikan Luqman Al-Hakim dalam Surat Luqman Ayat 12-19 ini sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini terlihat dalam redaksi Ayat 12 yang dimulai dengan dua huruf taukid sekaligus, yaitu: Lam Amar dan Qad (ولَقَدْ). Hanya saja peneliti akan menjelaskan pokok-pokok ajaran Luqman al-Hakim yang berkaitan dengan kecerdasan emosional.
Materi-materi yang berkaitan dengan kecerdasan emosional ini, adalah materi tantang akidah dan akhlak.
1.         Nasehat tentang keimanan (tauhid)
Mengenai tentang akidah ini, sangatlah penting untuk ditanamkan terlebih dahulu. Sebagaimana Ary Ginanjar mengatakan; kecerdasan emosional dan spiritual (keimanan/tauhid) semestinya tidak boleh dipisahkan, karena kecerdasan emosional yang tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual akan menyebabkan manusia menjadi sesat dan spekulatif.
Dalam konteks ini, Luqman telah memberi pelajaran tentang syirik yang harus ditinggalkan, hal ini tercantum dalam surat Luqman ayat 13. Dan titik tekannya ada pada lafad لا تشرك بالله. Syirik merupakan dosa yang paling besar di antara dosa-dosa yang ada. Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.
Materi tentang ketauhidan juga di jelaskan pada surat Luqman, yaitu dengan mengenalkan nama-nama Allah. Seperti yang terletak pada ayat 12 (الشكور, الغني, حميد), dan ayat 16 (لطيف, خبير). Tujuaanya adalah agar anak didik menanamkan rasa cinta kepada Allah. Sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan sahabat Anas:
وحدثنا آدم قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال قال النبي صلى الله عليه و سلم لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين
Adam menceritakan kepadaku, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas. Nabi bersabda: "Tidak sempurna imam seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia."

Cinta adalah emosi perasaan yang mengarahkan perilaku individu ke arah diri orang yang dicintai atau sesuatu yang disukai. Dengan demikian, cinta kepada Allah membangkitkan di dalam jiwa anak didik kesadaran yang terus-menerus akan nikmat dan karunia Allah. Cinta karena Allah merupakan landasan solidaritas emosional.
Prioritas yang pertama dan utama dalam pendidikan Luqman al-Hakim ini adalah tentang tauhid, dimana aspek ini sangat penting untuk tingkat pendidikan selanjutnya. Karena kecerdasan emosional dan spiritual (keimanan/tauhid) semestinya tidak boleh dipisahkan, karena kecerdasan emosional yang tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual akan menyebabkan manusia menjadi sesat dan spekulatif. Oleh karenanya, pendidikan tauhid perlu diperhatikan juga semenjak usia masih dini. Ditanamkannya aqidah tauhid ke dalam jiwa anak, sebagai landasan pokok bagi kehidupan merupakan fitrah bawaan manusia, yang memiliki kecenderungan untuk mencapai adanya Tuhan.
2.         Nasehat tentang akhlak
Surat Luqman ayat 12-19 dan beberapa kisahnya terdapat beberapa poin penting tentang pendidikan akhlak. Salah satunya adalah:
a.   Memiliki prinsip
Prinsip-prinsip kehidupan ini perlu ditanamkan pada jiwa peserta didik sejak dini, prinsip ini telah dijelaskan dalam surat Luqman ayat 13, yaitu: لَا تُشْرِكْ بِاللَّه. Prinsip adalah asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya. Artinya, setiap perbuatan, ucapan, maupun niat harus tidak menyalahi prinsip-prinsip orang beriman. Yaitu mengesakan Allah.
Analisa peneliti ini dipertegas oleh Sa'id Hawwa dengan mengungkapkan ketentuan-ketentuan dalam Islam yang bersifat badihi (prinsipil), yaitu merupakan ketentuan yang sudah jelas nash-nya dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Dan semua ummat Islam wajib menerima ketentuan atau konsepsi dalam Islam yang bersifat prinsipil tersebut. Menurut Sa'id Hawwa, ada sepuluh ketentuan yang bersifat badihi (prinsipil). Yaitu:
Prinsip Pertama, Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang dibebankan pada seluruh ummat manusia, di barat atau di timur, di utara atau di selatan, berkulit kuning, merah, putih atau hitam. Allah swt telah mengumumkan bahwa Dia tidak akan menerima sistem hidup (ad-Dien) selain Islam dengan firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآَيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (Q.S. .Ali Imran:19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. (Q.S. Ali Imran:85)

Prinsip Kedua, Islam adalah satu-satunya jawaban yang benar dan bersih terhadap semua persoalan manusia. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi keyakinan, ibadat, syari'at dan syi'ar-syi'ar. Islam merupakan neraca dan satu-satunya tolok ukur untuk semua sisi kehidupan manusia. Dari Islamlah terefleksinya petunjuk yang benar dan lurus serta selamat dalam segala hal.
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.  (Qs.an-Nahl:89)

Al-Qur'an menerangkan segala persoalan, apakah melalui nash-nashnya atau melalui kesimpulan-kesimpulan yang tepat tentang nash-nash tersebut berdasarkan hadits, qiyas, ijma' ulama, istihsan, istishab, istislah, 'urf, hukum-hukum yang diakui oleh akal, syara' atau hukum adat menurut batas-batas yang dibenarkan oleh nash tersebut.
Prinsip Ketiga, Bila seseorang masuk Islam, berarti ia telah menyerah secara mutlak kepada Allah swt dalam semua persoalan yang mencakup semua aspek kehidupan, termasuk yang berhubungan dengan jiwa, akal, hati, ruh, perasaan, emosi, perbuatan, pemikiran, kepercayaan dan peribadatan. Termasuk dalam hal konstitusi dan undang-undang kehakiman. Di samping itu Islam berarti penolakan total terhadap seluruh bentuk penyekutuan dengan selain Allah. Allah swt berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs.al-Baqarah:256)

Prinsip Keempat, dalam Islam pemikiran eksperimental (percobaan) merupakan salah satu fenomena proses pembentukan pribadi Muslim atau karakteristik Islam. Oleh karena itu segala sesuatu yang telah dicapai oleh akal yang sehat dan melalui proses percobaan adalah sesuatu yang dapat diterima dari sudut pandangan Islam dan diberi jaminan kepercayaan terhadap kesahannya. Rasulullah pernah bersabda:
الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
Kalimat Hikmah (ilmu pengetahuan) itu merupakan barang yang hilang dari orang Mu'min. Maka di mana saja ia jumpai, ia lebih berhak terhadapnya.

Namun jika pemikiran-pemikiran eksperimental itu sudah tidak murni lagi, telah diwarnai oleh sistem hidup yang tidak Islami, maka kita berkewajiban untuk membersihkannya terlebih dahulu, dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang bersih, sebelum kita menggunakannya.
Prinsip Kelima, Islam adalah satu sistem yang sempurna dan lengkap, karena ia mencakup seluruh sistem politik, sosial, ekonomi dan moral. Oleh karena itu mengabaikan atau melupakan sebagian dari sistem Islam berarti menghalangi perjalanan seluruh sistem itu sendiri. Begitu juga menegakkan politik yang tidak berdasarkan pada pilar-pilar Islam merupakan satu kendala dan sekaligus tantangan terhadap Islam.
Seluruh sektor kehidupan kaum Muslimin harus selalu berlandaskan pada nilai-nilai dan syari'at Islam, ekonominya, politiknya, sosialnya, pendidikannya, militernya dan sektor-sektor lainnya. Tidak dibenarkan melaksanakan Islam secara parsial (tentunya selama kondisi dan kemampuan memungkinkannya).
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Qs.al-Baqarah:85)

Prinsip Keenam, seluruh kaum Muslimin dibebani kewajiban menegakkan kalimatullah agar Islam menjadi satu-satunya Dien yang tegak di bumi ini. Allah berfirman:
وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimatullah itulah yang tinggi. (Qs.at-Taubah:40)

Prinsip Ketujuh, kaum Muslimin dalam satu negara, bahkan di seluruh dunia harus merupakan satu sekutu, satu blok dan satu jama'ah. Sekutu ini adalah sekutu iman dan politik. Apa pun bentuknya yang memisahkan dan mengesampingkan hal ini adalah satu kekufuran dan kesesatan yang amat besar. Sekutu dan blok tersebut harus mempunyai imam tersendiri. Kepemimpinan dan persatuan bagi ummat Islam sangat penting sekali. Para sahabat Rasulullah saw telah mendahulukan pemilihan khalifah ketimbang mengubur jenazah Rasulullah saw. Dalam satu kesempatan Rasulullah saw bersabda:
Tidak boleh bagi tiga orang berada di manapun di bumi ini, kecuali memilih salah satu seorang di antara mereka itu sebagai pemimpin. (Musnad Imam Ahmad)

Prinsip Kedelapan, dalam kondisi kekuasaan politik Islam dan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia sedang mengalami kehancuran dan kelumpuhan seperti sekarang, maka merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk cepat-cepat melantik seorang imam yang akan memimpin perjuangan, atau untuk mempersiapkan diri menghadapi peperangan, atau melakukan persiapan yang matang untuk memilih seorang yang akan memimpin mereka. Hal ini merupakan salah satu masalah yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. (Qs.al-Anfaal:60)

Prinsip Kesembilan, menyertai dan bergabung dengan jama'ah Islam dan imamnya adalah suatu kewajiban besar di dalam Islam. Kewajiban ini secara langsung tidak memberikan peluang untuk mengelakkan diri dari keterlibatannya dengan jama'ah dan imamnya, kecuali dalam kondisi dimana orang-orang Islam tidak mempunyai jama'ah dan imamnya. Maka dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim harus memisahkan diri dari perkumpulan sesat dan tetap berpegang kepada yang haq.
Prinsip Kesepuluh, Ummat Islam, sebenarnya merupakan satu jama'ah atau satu partai, dan maju mundurnya jama'ah ini tergantung pada pencapaian ilmu, karakteristik, dan komitmen ummat terhadap Islam. Oleh karena itu segenap kaum Muslimin harus terikat pada rencana atau program yang telah disusun. Dan rencana atau program yang disusun secara spontanitas pun harus tunduk kepada kaidah-kaidah yang ketat, dan tidak boleh membelakangi ke arah tercapainya tujuan.
Karakteristik ummat Islam dan jama'ahnya adalah sesuai dengan ayat 36-43 surat asy-Syura. Karakteristik ummat Islam ialah beriman, bertawakkal, menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil maupun besar dan perbuatan keji, mengontrol diri dari marah, menyambut seruan Allah dalam semua hal, mendirikan shalat, berinfaq di jalan Allah dan berlaku adil sesama manusia. Sedangkan ciri-ciri khusus dari jama'ah Islamiah ialah adanya syura dan selalu menentang kezaliman.
b.   Pemaaf
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan oleh al-Qur’an adalah sikap pemaaf atau memaafkan, sebagaimana firman Allah:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Q.S. al-A’raf; 199)

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. an-Nur; 22)

Ayat di atas telah menegaskan pentingnya mempunyai sikap pemaaf, disamping merupakan akhlak yang mulia juga menjadi karakter orang-orang yang beriman. Dalam salah satu nasehat Luqman sendiri, ia menganjurkan anaknya untuk mempunyai sikap pemaaf, yaitu:
Lupakanlah semua kesalahan orang terhadap dirimu
Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran al-Qur'an. Meskipun orang-orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah. Sikap yang cenderung menampakkan rasa marah itu, karena tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, belajar dari kesalahan, berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang. Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka.
Disamping itu, Rasulillah telah menjanjikan keluhuran dan terbukanya pintu maaf bagi orang-orang yang pemaaf. Sebagaimna sabda-Nya:
التواضع لا يزيد العبد إلا رفعة فتواضعوا يرفعكم الله والعفو لا يزيد العبد إلا عزًّا فاعفوا يعزكم الله والصدقة لا تزيد المال إلا كثرة فتصدقوا يرحمكم الله
Sifat tawaddlu akan menambah keluhuran pangkat (disisi Allah) bagi seorang hamba, bersikaplah tawaddlu’ kalian maka Allah akan meluhurkan kalian semua. Dan sifat pemaaf akan menambah kemuliaan bagi seorang hamba, bersikaplah pemaaf kalian maka Allah memuliakan kalian semua. Sadaqah akan memperbanyak harta, maka sadaqahlah kalian semua maka Allah akan menyayangi kalian semua

إذا بعث اللهُ الخلائقَ يومَ القيامةِ نادى منادٍ من تحت العرش ثلاثة أصوات يا معشر الموحدين إن اللهَ قد عفا عنكم فليعفُ بعضُكم عن بعضٍ
Apabila Allah telah membangkitkan makhluk-makluk di hari kiamat, maka ada seseorang yang memanggil-manggil tiga kali dari bawah Arsy; wahai orang-orang yang bertauhid, sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian semua, hendaklah kalian memaafkan sebagian yang lain.

Dengan demikian, memiliki sifat pemaaf sebagai landasan seseorang meraih kesuksesan hidup ini, sebagai langkah memelihara keutuhan anggota. Artinya, membangun dan memelihara persahabatan pribadi diantara sesama mitra, lebih ditekankan.
c.   Amanat
Sifat amanat adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap individu. Padahal makhluk Allah selain manusia tidak ada yang sanggup memikulnya. Ketika amanat ini ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung, mereka semua tidak ada yang sanggup menerimanya. Lantas hal ini ditawarkan kepada nabi Adam, ia lalu bertanya kepada Allah. Apakah amanat itu? Allah menjawab; apabila kamu menunaikannya, maka kamu akan diganjar, apabila kamu menyia-nyiakannya maka kamu akan disiksa. Kemudian nabi Adam menerimanya.
Amanat ini di bagi tiga
1). Tanggung jawab manusia kepada Allah. Apa saja yang dibebankan oleh Allah kepada manusia wajib untuk dilaksanakan. Segala bentuk kemaksitan dan pelanggaran, berarti ia telah berkhianat terhadap amanat yang diberikan oleh Allah, firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui. (Q.S. al-Anfal; 27)

2). Tanggung jawab manusia kepada sesama. Taggung jawab ini bisa berupa kedudukan, pangkat, harta, masyarakat, maupun kepada keluarga.
3). Tanggung jawab manusia kepada diri sendiri. Hal ini berkaitan diri seseorang dalam mengoptimalkan seluruh anggotanya. Seperti tangan, mata, dan kaki.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, sehingga manusia tidak dapat hidup sendirian dengan perangkat nilai-nilai yang sesuai dengan selera sendiri.
Hal ini bisa kita lihat dari salah satu nasehat Luqman kepada putranya:
Wahai anakku!, jadilah engkau orang yang dapat dipercaya, niscaya engkau akan menjadi orang kaya. Dan janganlah engkau memamerkan dirimu kepada manusia, bahwa engkau seorang yang takut kepada Allah SWT, sedangkan hatimu jahat.

Dengan memiliki sifat amanat ini, pada akhirnya ia akan memiliki integritas yang tinggi. Seseorang yang memiliki integritas tinggi adalah orang-orang yang dengan penuh keberanian serta berusaha tanpa kenal putus asa untuk dapat mencapai apa yang ia cita-citakan.
Menurut hemat peneliti, orang-orang yang mampu menjalankan amanat, merupakan ciri sebagai seseorang yang memiliki kematangan emosional. Karena tanpa amanat, kehancuran bukan hanya terjadi pada dirinya, namun juga pada sesamanya.
Tanggung jawab ini bisa diajarkan kepada anak, minimal mulai dari sejak dini dengan memberi tugas merapikan tempat tidurnya atau membersihkan halaman di pagi hari. Dengan membiasakan perilaku demikian, lambat laun anak akan menyadari tanggung jawab ia sebagai sebuah keluarga. Pada akhirnya setelah dewasa, ia akan terbiasa dan mampu memikul amanat yang lebih besar.
d.   Komunikasi yang baik
Komunikasi yang baik ini berlandaskan pada ayat:
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ
Berkomunikasi yang baik adalah tidak mengeraskan suara pada waktu berbicara dengan berlebihan, artinya komunikasi dilakukan dengan suara datar tapi jelas, lemah lembut, perhatian, dan tidak bertele-tele. Seorang beriman dituntut untuk selalu menjaga perilakunya sepanjang waktu. Pada ayat selanjutnya ditegaskan bahwa, orang-orang yang mengeraskan suaranya (secara berlebihan) diserupakan dengan keledai.
Menurut Sayyid Thanthawi, Ayat ini adalah perintah agar melunakkan suara sekaligus larangan mengeraskan suara, kecuali ada alasan yang mengharuskan untuk bersuara keras. Karena melunakkan suara ketika berbincang-bincang itu menunjukkan sikap sopan santun, percaya diri, kejujuran dan keistiqomahan tutur kata.
Sosok Luqman al-Hakim telah mengajarkan bertutur kata dengan lemah lembut kepada putranya, dalam memulai pembicaraan ia selalu menggunkan kata-kata يا بني. Penggunaan kata-kata tersebut bukan tanpa tujuan, akan tetapi menunjukkan sifat kasih sayang dan kecintaannya kepada anak. Penggunaan kalimat isim tasghir sebagai bentuk menunjukkan rasa simpati dan perhatian kepada anaknya.
Rasulullah dalam berkomunikasi juga sering menggunakan kata-kata ijaz (meringkas kata), dalam pengertian ilmu balaghah adalah menyampaikan makna yang banyak dengan ungkapan yang ringkas. Sebagaimana Sayyidah Aisya berkata: Rasulullah tidak berbicara dengan sambung menyambung (nyerocos) seperti yang kalian lakukan ini. Akan tetapi pembicaraan Rasulillah terpisah-pisah dengan jeda. Jika seseorang menghitung kata-katanya tentu ia dapat menghitungnya. Sedangkan jika Rasulillah mengucapkan satu kalimat, dia mengulangnya sebanyak tiga kali agar dapat diingat.
kebiasaan berbicara kotor juga sering ditemukan pada anak-anak zaman sekarang, dimana faktor teman juga paling berpengaruh tapi juga karena faktor keluarga yang tidak bisa memberikan perhatian ekstra. Abd Allah Nasih Ulwan mengatakan, ada dua faktor yang mengakibatkan anak berakhlak buruk:
1). Faktor teladan yang buruk dalam keluarga. Apabila anak-anak selalu mendengar kata-kata dan ucapan buruk, celaan, kata-kata munkar, hal-hal semacam ini akan dengan mudah ditiru oleh anak, akhirnya ia menjadi terbiasa dengan ucapan-ucapan buruk yag mungkin dikiranya ucapan-ucapan itu baik.
2). Faktor pergaulan anak tidak mendukung ke arah yang baik. Anak dibiarkan oleh orang tua bermain dan bergaul bersama-sama temannya yang terbiasa berbicara kotor berupa celaan, cacian. Yang secara alami anak terbiasa dengan bahasa, adat dan perilaku teman-temannya. Rasulullah bersabda:
المرء على دين خليله فلينظر من يخالل
Seseorang akan beragama sesuai dengan agama temannya, karena itu waspadalah seseorang diantara kamu itu dengan siapa ia bergaul

Dengan demikian, karena anak bergaul dengan teman-temannya yang suka berkata jelek, terbiasa dengan mendengar dan mengucapkannya karena kurang mendapatkan pengawasan dari para pendidik, akan sangat mungkin anak yang tadinya baik berubah menjadi seperti teman-temannya.
Keterampilan berkomunikasi dengan baik ini akan membantu peserta didik masuk dalam pergaulan yang baik dengan seseorang maupun pada kelompok. Hal ini meliputi berbagai informasi pribadi, mengajukan pertanyaan pada orang lain, mengekspresikan minat, dan juga dapat mengekspresikan penerimaan.
Oleh karenanya, mengajarkan komunikasi yang baik pada peserta didik, akan membantu dalam menciptakan hubungan yang harmonis dengan teman, keluarga, maupun pada para guru. Adapun Komunikasi yang baik dapat terlihat dari rangkaian kata-kata yang diucapkan atau pun dituliskan, kontak mata yang penuh peduli, ekspresi wajah yang tulus membantu, nada suara yang penuh kehormatan, sikap yang tenang, sikap yang santun, kemampuan menyentuh hati, dan gaya penyampaian yang penuh semangat dan antusias. Disinilah pentingnya kecerdasan emosional, yang perlu ditekankan kepada para peserta didik.
Dalam berkomunikasi dengan orang tua, al-Qur’an telah memberikan tuntunan agar berbicara dengan lemah lembut kepada keduanya. Firman Allah:
Èوَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q.S. al-Isra’; 22)

Kata uffi dalam ayat di atas yang harus disuarakan berisi ucapan yang menyinggung perasaan atau semacam kata yang menyakiti. Maka larangan Allah berkata kasar kepada keduanya adalah berbentuk tindakan terang-terangan untuk menolak permintaan orang tua. Bila hal itu hanya sekedar atau senda gurau, maka hal itu termasuk pada kata uffi.
Dari uraian di atas dapat diketahui, bahwa ucapan anak terdidik kepada orang tuanya adalah semua bentuk ucapan yang dapat dilakukan, selama tidak menyakiti hati mereka. Karena Allah sangat membenci orang-orang yang berkata dan berperilaku yang tidak diridlai oleh keduanya. Rasulillah bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِى رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِى سَخَطِ الْوَالِدِ
Keridlaan Allah ada pada keridlaan orang tua dan kemurkaan Allah pada kemurkaan kedua orang tua

Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada mengklasifikasikan materi berbakti kepada kedua orang tua sebagai berikut:
a)   Hak-hak orang tua ketika masih hidup. Meliputi: Pertama, mentaati keduanya dalam hal yang tidak bermaksiat kepada Allah SWT; Kedua, berbuat baik kepada mereka; Ketiga, merendahkan diri di hadapan mereka; Keempat, bertutur kata yang lembut; Kelima, memberi makan keduanya; Keenam, meminta izin ketika hendak pergi berjihad atau yang lainnya; Ketujuh, memberikan harta yang mereka kehendaki; Kedelapan, membuat senang dengan cara berbuat baik kepada orang-orang yang mereka cintai; Kesembilan, melaksanakan sumpah mereka; Kesepuluh, tidak mencaci atau melakukan sesuatu yang menyebabkan hal itu; Kesebelas, mengutamakan ibu daripada ayah;
b)   Hak-hak orang tua sesudah wafat. Meliputi: Pertama, mendo'akan keduanya'; Kedua, beristighfar untuk mereka; Ketiga, menunaikan janji mereka; Keempat, menghormati sahabat-sahabat mereka; Kelima, menyambung kekerabatan yang tidak mungkin ada tanpa mereka.
Keberadaan materi akhlak ini juga sangat penting dalam pendidikan anak menurut Islam. Abdullah Nashih 'Ulwan menyatakan bahwa Islam telah memerintahkan kepada setiap pendidik agar mengarahkan dan mendidik anak agar memiliki akhlaq luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang; sehingga anak akan tumbuh secara istiqomah, terdidik untuk berani, berdiri sendiri, serta merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemulyaan. Hal-hal inilah yang menjadi tolak ukur dalam kecerdasan emosional.
e.   Empati
Landasan mempunyai sifat empati ini terdapat pada ayat 14, yaitu:
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ
Pada ayat tersebut Ibnu Katsir menafsirkan, bahwa seorang ibu dalam mengasuh anaknya penuh dengan kesulitan, kepayahan dan kesukaran. Dengan mengingatnya, diharapkan anak memiliki rasa peduli kepada ibunya, dengan berbuat baik dan menghormatinya.
Rasulillah sendiri mengajarkan kepada umatnya, agar lebih memberikan sikap hormat kepada seorang ibu. Hal ini bukan tanpa alasan, karena peran ibu dalam mendidik anaknya, semenjak hamil sampai tumbuh menjadi dewasa. Semua itu atas jasa besar seorang ibu, Nabi pun memberikan penghargaan kepada seorang ibu, dengan hadis-Nya:
الجنة تحت أقدام الأمهات
Surga di bawah telapak kaki seorang ibu

Imbalan mengajari anak agar lebih empati sungguh luar biasa. Mereka yang mempunyai empati kuat cenderung tidak begitu agresif dan rela terlibat dalam perbuatan yang lebih prososial, misalnya menolong orang lain dan kesediaan berbagi. Pada akhirnya, anak-anak yang mempunyai sikap empati lebih disukai oleh teman-temannya.
Menurut teori Titchener, empati berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain, yang kemudian menimbulkan perasaan yang serupa dalam diri seseorang. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
Kematangan seseorang memiliki sikap empati, telah dijelaskan oleh Rasul:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ - أَوْ قَالَ لِجَارِهِ - مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak dikatakan orang yang beriman, ia mencintai saudaranya –ada pendapat yang mengatakan kepada tetangganya- seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri.

Mencintai saudaranya baik ia dalam keadaan senang, apalagi pada waktu menghadapi musibah. Orang yang memiliki empati, ia akan selalu memberikan bantuan kepada saudaranya, baik materil maupun immateril. Bersikap empati artinya mampu membaca orang lain dari sudut pandang emosi. Orang yang empatik akan peduli pada orang lain dan memperlihatkan minat dan perhatiannya pada mereka.
Jika para pendidik ingin anak didiknya lebih empati, lebih penyayang, dan lebih bertanggung jawab, maka harus ada tuntutan kepada mereka. Para pendidik harus membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberikan keringanan kepada mereka. Pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lain harus ditingkatkan dengan usia dan tidak diimbali dengan hadiah atau uang saku. Tuntutan itu semata-mata karena membantu orang lain itu benar. Pendapat bahwa memanjakan mereka tidak akan merusak, justru hal itulah yang akan merusak dirinya.
f.    Sabar
Sifat sabar ini, berada pada ayat 17 dari surat Luqman, yaitu pada ayat:
وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu

Sedangkan menurut istilah, ada beberapa definisi. Yaitu:
1)   Sabar ialah menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
2)   Abu Muhammad al-Jariri berkata, sabar adalah tidak membedakan antara nikmat dengan ujian disertai dengan ketentraman hati di dalam menjalankan keduanya.
3)   Ruwaim berkata, sabar ialah meninggalkan keluh kesah
4)    Sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridla Allah.
Menurut imam al-Ghazali, kata-kata sabar, disebutkan di dalam al-Qur’an + 70 (tujuh puluh) kali. Al-‘Allamah Ibnu Qayyim mengutip perkataan imam Ahmad, kata sabar dalam al-Qur’an terdapat pada sekitar sembilan puluh tempat.
a.   Keutamaan orang-orang sabar
Tentang keutamaan sabar ini, Allah menyebutkannya dalam beberapa tempat. Yaitu:
1.   Sabar selalu mengiringi kemenangan dan Allah menjamin pelakunya dengan bantuan dan kemenangan.
بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آَلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (Q.S. Ali Imran; 125)

2.   Orang sabar akan memperoleh derajat kepemimpinan
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami. (Q.S. as-Sajadah; 24)

3.   Allah mencintai orang-orang yang sabar
3 وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Q.S. Ali Imran; 146)

4.   Allah akan memberikan petunjuk, menolong, mendukung, dan memelihara mereka bagi orang sabar.
4 إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Anfal; 46)

5.   Allah akan memberikan pahala sampai dua kali lipat bahkan tanpa di hisab.
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan. (Q.S. an-Nahl; 96)

أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. (Q.S. al-Qashas; 54)

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. az-Zumar; 10)

6.   Menyediakan pahala yang besar di hari akhir
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. al-Ahzab; 35)

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا
Dan dia memberi balasan kepada mereka Karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera. (Q.S. al-Insaan; 12)

šأُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya, (Q.S. al-Furqan; 75)

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
(sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Q.S. ar-Ra’ad; 24)

b.   Macam-macam sabar
Sebagaimana sabda Rasulillah saw;
حدثنا إسحاق بن إسماعيل حدثنا يحيى بن سليم الطائفي حدثني عمر بن يونس عمن حدثه عن علي بن أبي طالب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :الصبر ثلاث فصبر على المصيبة وصبر على الطاعة وصبر عن المعصية .
Ishaq bin Ismail telah menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Salim ath-Thaify, dari Umar bin Yunus, dari orang-orang, dari Ali bin Abi Thalib. Rasulullah bersabda: sabar ada tiga macam: 1) sabar atas musibah, 2) sabar atas ketaatan, dan 3) sabar atas maksiat.

Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan "menyenangkan". Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang "menyenangkan".
Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai.
Dengan demikian jelaslah pemaknaan tentang sabar di atas, dimana dalam kehidupan ini, kesabaran sangat dibutuhkan untuk menjadikan manusia yang mempunyai kualitas. Disamping itu, manusia suka kepada orang yang penyabar dan bersikap tenang, yang menunjukkan kedewasaan sikap dan penguasaan diri.
Sekalipun sabar itu sangat berat dan pahit bagi kebanyakan orang, namun untuk memperolehnya adalah hal yang mungkin dan bisa diusahakan. Yaitu dengan ilmu, amal, kemauan, semangat yang tinggi, keberanian dan kebesaran jiwa. Asma’ Umar Hasan Fad’aq mengatakan, sebab-sebab yang dapat membantu kesabaran, yaitu:
1.     Iman kepada qadar Allah dan qadla’nya
2.     Pengetahuan manusia terhadap tabiat kehidupan dunia
3.     Pengenalan manusia terhadap dirinya
4.     Yakin akan adanya kelapangan dari Allah
5.     Yakin terhadap balasan baik bagi orang-orang yang sabar
6.     Memohon pertolongan kepada Allah serta mengikuti jejak para rasul
Disamping itu, orang yang sabar akan mampu berinteraksi dengan orang lain dengan baik dan proporsional, dan juga akan dilindungi oleh Allah. Sebagaimana Rasulillah bersabda:
ثلاث من كن فيه أواه الله فى كنفه ونشر عليه رحمته وأدخله فى محبته من إذا أعطى شكر وإذا قدر غفر وإذا غضب فتر

Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-NYA, ditaburi rahmat-NYA dan dimasukkan ke dalam surga-NYA. Yaitu apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri

Dari hadis di atas, Suharsono memberikan kesimpulan dalam bukunya, bahwa hadis di atas adalah cermin dari seeorang, yang dalam istilah psikologi pendidikan dapat disebut sebagai orang yang memiliki kecerdasan emosional. Karena orang tersebut memiliki pengetahuan tentang diri, baik diri sendiri maupun orang lain. Kecerdasan emosi ditandai dengan kemampuan pengendalian emosi ketika menghadapi kenyataan yang menggairahkan (menyenangkan, menakutkan, menjengkelkan, memilukan). Kemampuan pengendalian emosi itulah yang disebut sabar, atau sabar merupakan kunci kecerdasan emosional.
Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan diri, maka nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya. Yaitu:
i.       Ketabahan menghadaapi musibah, disebut sabar, kebalikannya adalah gelisah (jaza`) dan keluh kesah (hala`)
ii.      Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan  diiri (dlobth an Nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar).
iii.     Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut pengecut
iv.     Jika kesabaran itu dalam menahan selera perut dan kemaluan, dinamakan iffah (menjaga kesucian diri), lawannya adalah fujur (kemesuman)
v.      Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya disebut pemarah (tazammur)
vi.     Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada, kebalikannya disebut sempit dadanya.
vii.    Sabar dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyyikan rahasia (katum).
viii.   Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut serakah, loba (al hirsh).
ix.     Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana`ah), kebalikannya disebut tamak, rakus (syarahun)
Meski sabar itu konotasinya adalah hal-hal yang positip, tetapi belum tentu tepat. Oleh karena itu hukum sabar terbagi lima, yaitu:
1.   wajib
Sabar wajib ini dibagi tiga: a). Sabar dalam ketaatan dan dalam menunaikan kewajiban, seperti sabar dalam mengerjakan shalat, puasa, zakat, patuh terhadap kedua orang. b). Sabar dalam menahan diri dari kemaksiatan dan segala yang diharamkan, seperti sabar dalam mencegah minum khamar, berjudi, berzina, dan membunuh. Dan c). Sabar terhadap semua bala bencana dan musibah yang ditakdirkan, seperti kematian.
2.   Sunnah
Sabar yang disunnahkan juga ada tiga macam, a). Sabar dalam menahan diri dari perlakuan buruk, seperti firman Allah:
÷وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ
Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[846]. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Q.S. an-Nahl; 126)

b). Sabar dalam hal-hal yang disunnahkan, seperti shalat dluha, tahajjud, puasa Senin-Kamis. dan c). Sabar dalam menahan diri dari hal-hal yang makruh, seperti makan denidak gan tangan kiri, seperti menahan diri dari makan bawang putih.
3.   Mubah
Adalah menahan diri dari semua perbuatan yang kedua-duanya sama-sama baik antara melakukan dan meninggalkannya. Seperti sabar atas darmawisata atau suka memakan makanan dengan jenis tertentu
4.   Makruh
Seperti tidak melakukan hal-hal yang dimakruhkan oleh syari’at
5.   Haram.
Seperti sabar dalam menahan diri dari memakan bangkai, darah dan daging babi pada saat sedang kelaparan, jika dia takut mati akan meninggalkannya.
Kembali kepada pengertian sabar: tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan, maka kunci kesabaran adalah kesadaarn atas tujuaan yang ingin dicapai. Orang yang lupa tujuan biasanya tidak mampu mengendalikan diri ketika menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. Tetapi sabar juga ada batasnya, oleh karena itu kesabaran harus selalu dievaluasi secara dinamis.
Menururt hemat peneliti, kesabaran dalam mengarungi kehidupan ini, mutlak diperlukan. Oleh karenanya, Luqman al-Hakim mengajarkan kepada putranya melalui ayat di atas.
g.          Syukur
Menurut Sayyid Thanthawi, syukur kepada Allah SWT adalah memuji kepada-Nya sebagai timbal balik atas kenikmatan yang diberikan-Nya; menggunakan kenikmatan tersebut dengan benar; dan senantiasa mentaati perintah-Nya.
Quraish Shihab memaparkan bahwa syukur manusia kepada Allah SWT dimulai dengan cara menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya dan mendorong untuk memuji-Nya dengan ucapan sambil melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dari penganugerahan itu.
Sahl Ibn Abdullah mendefinisikan syukur ialah bermujahadah dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, baik ketika sepi atau dalam keadaan ramai. Menurut al-Junaid, Syukur ialah perasaan hati bahawa tidak ada perbuatan syirik pada nikmat Allah. Menurut al-Imam an-Nasafi, Syukur ialah pengiktirafan diri bahawa ia lemah untuk melaksanakan hakikat syukur. Syukur hati ialah makrifat, syukur lisan ialah memuji Allah, syukur anggota ialah melakukan ketaatan. Pengakuan bahwa diri kita lemah dalam melakukan semua ini adalah dalil yang menunjukkan penerimaan Allah terhadap amalan kita.
Dengan demikian, syukur mencakup tiga sisi:
1.   Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah dengan selalu menjaga kehormatan diri. Hal ini akan mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
2.   Syukur dengan lidah, yaitu dengan mengakui anugerah-Nya serta dengan sifat merendahkan diri dan memujinya. Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain.
3.   Syukur dengan anggota badan, yaitu dengan memenuhi tanggung jawab sekaligus ada rasa khidmah (melayani). Nabi Daud a.s. pernah menerima naugerah nikmat yang begitu besar, sehingga Allah berpesan:
اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (Q.S. Saba`: 13)

Berkenaan dengan syukur ini, Allah akan selalu menambahkan nikmat yang lebih tatkala seorang hamba mau mensyukurinya. Hal ini digambarkan dalam surat Ibrahim, ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Dalam ayat di atas, terdapat lafad lam amr sebanyak empat kali, dan keempatnya menunjukkan makna lit-taukid (mengokohkan). Dengan artian, bahwa Allah akan benar-benar memenuhi janjinya untuk memberikan tambahan nikmat apabila hambanya mau bersyukur, akan tetapi sebaliknya apabila hamba tersebut kufur (mengingkari nikmatnya) maka Allah akan mendatangkan adzab yang sangat pedih. Ziyadah (bertambahnya nikmat) d sini bukan hanya dalam bertambahnya rizki, namun juga menjadikan hidup lebih bahagia di dunia maupun di akhirat kelak.
Dari beberapa analisis di atas, bahwa kecerdasan emosional dalam Islam disebut dengan akhlak. karena kecerdasan emosional menurut kajian Islam adalah tentang perbaikan akhlak. Sebagaimana Abuddin Nata mengatakan, bahwa dalam pendidikan Islam berbagai ciri yang menandai kecerdasan emosional terdapat pada pendidikan akhlak. Tentunya ini sejalan dengan para pakar pendidikan Islam pada umumnya, mereka sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membina pribadi yang berakhlak.
Analisis peneliti diperkuat oleh pernyataan Ary Gynanjar dalam bukunya:
Anda sebaiknya membaca dan mempelajari sikap dan teladannya itu, agar transformasi akhlak beliau dapat diadopsi ke dalam diri anda secara lebih optimal. Inilah salah satu contoh pelaksanaan akhlakul karimah, atau yang sekarang lebih dikenal (di dunia Barat) dengan sebutan Kecerdasan Emosi atau EQ. Akhirnya mereka mengakui secara langsung atau tidak langsung bahwa konsep akhlak ini atau apapun namanya –IQ bukanlah kunci keberhasilan, tetapi akhlaklah sebenarnya kunci keberhasilan itu (ESQ).

Dalam Islam, hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi dan spritual seperti konsistensi (istiqamah), kerendahan hati (tawaddlu’), berusaha dan berserah diri (tawakkal). Ketulusan/sincerity (keikhlasan), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan (ihsan) itu dinamakan Akhlakul Karimah. Dalam kecerdasan emosi, hal-hal yang saya sebutkan di atas itulah yang dijadikan tolak ukur kecerdasan emosi/EQ. Seperti integrits, komitmen, konsistensi, sincerity, dan totalitas. Oleh karena itu, kecerdasan emosi sebenarnya adalah akhlak dalam agama Islam dimana hal ini telah diajarkan oleh Rasulillah seribu empat ratus tahun yang lalu, jauh sebelum konsep EQ diperkenalkan saat ini sebagai sesuatu yang lebih penting dari IQ.

3.     Strategi Kecerdasan Emosional
Startegi yang digunakan oleh Luqman al-Hakim adalah:
1.         Teladan
Strategi keteladanan sesuai dengan isi kandungan Ayat 15, yakni:
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
Ayat ini adalah perintah untuk mengikuti dan meneladani jalan hidup orang-orang yang melepaskan diri dari perbuatan syirik dan dari perkara-perkara yang di larang, antara lain: durhaka kepada kedua orang tua. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengajak kepada ketauhidan.
Dalam Pendidikan Islam, penggunaan strategi keteladanan disebabkan faktor psikologis bahwa murid-murid itu cenderung meneladani atau meniru pendidiknya; dan hal ini sudah diakui oleh semua ahli pendidikan, baik dari Barat maupun dari Timur.
Strategi keteladanan ini juga disinggung oleh H. M. Arifin, Al-Nahlawi, Muhammad Qutb, bahkan Abdullah Nashih 'Ulwan berkesimpulan bahwa strategi keteladanan merupakan strategi yang paling berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak didik.
Untuk menerapkan strategi keteladanan ini, masing-masing pendidik harus meneladani pribadi Rasulullah SAW yang merupakan interpretasi Al-Qur'an secara nyata, baik dalam hal beribadah maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.  Selain itu, Allah SWT mengajarkan bahwa Rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia adalah seorang pendidik yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral, maupun intelektual. Allah SWT juga mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai teladan yang baik bagi umat Islam di sepanjang sejarah, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat; sebagaimana dalam Surat Al-Ahzab: 21, serta Hadits riwayat 'Aisyah bahwa akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur'an.
2.         Mauidzah (nasehat-nasehat)
Strategi nasihat yang gunakan oleh Luqman berdasarkan ayat 13:
وَهُوَ يَعِظُهُ
Sebagai tokoh pendidikan anak, Abdullah Nashih 'Ulwan menyatakan bahwa strategi pendidikan yang cukup berhasil dalam pembentukan akidah anak dan mempersiapkannya, baik secara moral, emosional maupun sosial, adalah strategi nasihat. Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang pentingnya nasihat ini melalui Hadits di bawah ini:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Agama adalah sebuah nasihat. Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin dan masyarakat awam dari umat Islam”.

Menurut Al-Nahlawi, Mau'izhah adalah nasihat yang lembut dan diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya. Strategi mau'izhah dalam pendidikan Luqman ini diterapkan dengan penuh kasih sayang sebagaimana dipahamai dari panggilan mesra Luqman kepada anaknya (يَبُنَيّ). Penggunaan fi'il mudhari' (يَعِظُهُ) mengisyaratkan bahwa maui'zhah itu hendaknya dilakukan dari waktu ke waktu.
Menurut Ibnu 'Asyur, penggunaan shighat tasghir (يَبُنَيّ) dalam strategi mau'izhah atau nasihat berfungsi untuk memotivasi orang yang diberi nasihat agar melaksanakan materi nasihat yang diberikan. Dalam penerapan strategi mau'izhah yang dilakukan dengan cara lemah lembut dan penuh kasih sayang ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat An-Nahl : 90; Surat Ali Imron : 134; Surat Al-Baqarah : 83; Ali Imron : 159; serta beberapa Hadits di bawah ini:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
Sesungguhnya Allah menyukai kelemah-lembutan di dalam segala hal
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمْهُمُ الرَّحْمنُ، إِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ، يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Orang-orang yang mengasihani itu akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Maka, kasihanilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kamu akan dikasihani oleh Dzat yang menguasai langit.
Rasionalisasi sikap kasih sayang seorang guru juga disampaikan oleh Al-Mawardi yang mengharuskan seorang guru tampil sebagai penyayang. Menurutnya, secara psikologis, setiap manusia lebih suka diperlakukan dengan cara-cara yang lembut dan halus, daripada diperlakukan dengan cara-cara yang keras dan kasar. Menurut Ibnu Khaldun, sikap kasar akan membuat tumpul kemampuan belajar anak didik dan merusak harkat kemanusiaannya.

Matriks Kecerdasan Emosional Secara Umum Dan Menurut Luqman al-Hakim

NO
SUB POKOK KECERDASAN EMOSIONAL
1
Tujuan Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman
Menurut Luqman al-Hakim

1.   Mampu bersikap adaptif
2.   Mampu mengendalikan diri
3.   Mampu merasakan kebahagiaan murni
Mempunyai sikap hikmah
2
Materi Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman
Menurut Luqman al-Hakim

1.   Mengenali emosi diri
2.   Mengelola emosi
3.   Memotivasi diri sendiri
4.   Mengenali emosi orang lain
5.   Membina hubungan
1.      Memiliki prinsip
2.      Pemaaf
3.      Amanat
4.      Komunikasi yang baik
5.      Empati
6.      Sabar
7.      Syukur
3
Strategi pendidikan kecerdasan emosional Menurut Daniel Goleman
Menurut Luqman al-Hakim

1.    Menyadari emosi anak-anak
2.    Mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar
3.    Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak
4.    Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata
5.    Menentukan batas-batas dan membantu anak memecahkan masalah
1.      Teladan
2.      Nasehat

D.         PENUTUP
Tujuan kecerdasan emosional menururt Luqman adalah membentuk pribadi yang bijaksana dalam mengarungi kehidupan ini. Dalam nasehat dan kata-kata hikmahnya, ia tidak hanya menekankan beribadah kepada Allah namun juga selalu menekankan pentingnya berinteraksi yang baik dengan sesama. Arif dalam bertutur kata dan bijak dalam bertindak.
Materi-materi kecerdasan emosional menurut Luqman adalah tentang akhlak. Sekian banyaknya nasehat dan kata-katanya selalu menganjurkan untuk mempunyai perilaku yang baik, yaitu akhlak yang terpuji.
Strategi pendidikan kecerdasan emosional yang diterapkan oleh Luqman terbukti sangat sukses, ia selalu melihat faktor psikologi pada putranya sebagai langkah yang tepat. Dengan bahasa yang pelan namun tegas, mendidik dengan menggunakan kasih sayang, komunikasi yang dipenuhi dengan rasa simpati, argumentasi yang benar dan meyakinkan, menjadikan orang-orang disekitarnya merasa terkagum dengan apa yang ia lakukan.
Kepada para pendidik, baik ia seorang guru, orang tua, maupun kepada orang-orang yang mengemban amanat pendidikan hendaknya dapat memilih metode pengajaran pendidikan akhlak yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sebagaimana Luqman al-Hakim mencontohkan dalam setiap mendidik putranya. Selain itu hendaknya para Pendidik selalu arif dan bijak dalam mendidik dan meniru cara-cara pendidikan yang telah dilakukan oleh Luqman al-Hakim. Dan dengan sistem yang tepat diharapkan peserta didik dapat menjadi manusia yang benar-benar bijaksana dalam setiap tindakan.

DAFTAR PUSTAKA
Nada, Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid. 2005. Mausu'ah al-Adab al-Islamiyyah al-Murattabah 'ala Huruf al-Hijaiyyah (alih bahasa oleh M. Isnaini, Dumyati, Zainal Arifin, Fauzun. Dengan judul: Ensiklopedia Etika Islam. Begini Semestinya Muslim Berperilaku. Jakarta : Maghfirah Pustaka
Ulwan, Abdullah Nashih. 2002. Pendidikan Anak Dalam Islam. (Alih bahasa oleh Drs. Jamaludin Miri, Lc.)  Jilid 1. Jakarta:Pustaka Amani
Nata, Abuddin. 2003. Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta. Kencana Prenada Media Group
Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (cet. 5). Bandung : Remaja Rosdakarya
Katsir, Al-Hafizh Ibnu. 2002. Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (Jil. 6). Kairo : Daar al-Hadits
Bya, Asfa Davy. 2006. Jejak Langkah Mengenal Allah. Jakarta. Maghfirah Pustaka
Fad’aq, Asma’ Hasan. 1999. Mengungkap Makna Dan Hikmah Sabar. Jakarta. Lentera
Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Cet III. Jakarta. PT. bumi Aksara
Jauziyah, Ibnu Qayyim al-. 1420 H. Sabar Perisai orang mukmin. Ter (‘Udatush Shabirin wa Dzakhiratisy-Syakirin). Pustaka Azzam
Hasanuddin, K.M.A. Syamlan &. 1987. Anekdote Kehidupan Lukmanul Hakim (Cet. 2). Surabaya: PT. Bina Ilmu
Musawi, Khalil al-. 1998. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana. Jakarta. Lentera Basritama
Shapiro, Lawrence E.. 1998. Mengajarkan Emotional Intelligence. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Meoleong, Lexy J.. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Shihab, M. Quraish. 2006. Tafsir al-Mishbah (Jil. 11). Jakarta. Lentera Hati
Za’balawy, M. Sayyid Muhammad az-. 2007. Pendidikan Remaja Antara Islam dan Ilmu Jiwa. Jakarta. Gema Insani
Ibnu 'Asyur, Muhammad Ath-Thahir. Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir (Jilid 10. Juz 21). Tunis : Daar Suhun.
Abdillah, Muhammad bin Abi Bakr Ayyub az-Zar’I Abu. 1973. Madarij as-Salikin. Beirut. Dar al-Kitab al-‘Araby
Thanthawi, Muhammad Sayyid. 1998. Al-Tafsir Al-Wasith li Al-Qur'an Al-Karim (Jil. 11). Kairo : Daar Nahdhatu Mishr
Arifin, Muzayyin. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2008. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara
Sori, Sofyan. 2006. Kesalehan Anak Terdidik menurut al-Qur’an dan Hadis. Yogyakarta. Fajar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta
Retnoningsih, Suharso & Ana. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang. CV Widya Karya
Suharsono. 2009. Melejitkan IQ, EQ, SQ. jakarta. Ummah Publishing
Zuhailly, Wahbah. 1998. al-Tafsir al-Munir (Juz 21). Beirut : Daar al-Fikr al-Mu'ashir

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.