Langsung ke konten utama

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PAI DI PERGURUAN TINGGI



 ABSTRACT

Universities as autonomous educational institutions in the administration of education, made the development of this course will be submitted to the respective colleges. So that the implementation of the model of Islamic education among college one with the other universities are no exception can be different between the UB and the State University of Malang. Therefore in this study are the focus of research is; 1) how the Islamic education curriculum development at the UB and the State University of Malang; 2) how the learning system of Islamic education at the UB and the State University of Malang. This study uses qualitative approach, case study type with multi-site design, data analysis techniques in this study through the stages of data analysis of individual cases with the steps of data collection, data reduction, data presentation, and then draw a conclusion, after analysis of individual case data and then do the data analysis cross-site. These results indicate that the model of development of Islamic Religious Education conducted at UB and the State University of Malang is 1) the development of Islamic education curriculum using a competency-based curriculum, developed by learned center theme-based curriculum approach to social reconstruction. 2) learning system of Islamic education at both universities held in the classical cross-faculty and monitoring the deepening of learning outside the classroom with student active learning approach and contextual learning which leads to inquiry learning strategy. Generally that model of Islamic religious education at public universities can be categorized to a central model isolated entities / mechanisms and a decentralized model with interconnected entities / systemic organism.


Kata Kunci : Model-model, Pendidikan Agama Islam, Perguruan Tinggi



A.            PENDAHULUAN
Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai mata kuliah pada jenjang Pendidikan Tinggi, bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasionai Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusuaan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa serta Nomor 045/U/2002 tentang, Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi telah ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa pada seluruh jurusan.
Pendidikan Agama dalam lampiran Keputusan Menteri Pendidikan Nasional tersebut ditempatkan ke dalam kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK). Sehingga terlihat jelas bagaimana pentingnya peranan Pendidikan Agama sebagai sarana pengembangan kepribadian mahasiswa dalam proses pendidikannya di Perguruan Tinggi. Melihat dari kepentingan tersebut maka sudah semestinya Pendidikan Agama (dalam hal ini Pendidikan Agama Islam) menjadi sorotan bersama bagaimana mengembangkan mata kuliah tersebut sehingga benar-benar dapat berfungsi sebagai matakuliah pengembangan kepribadian mahasiswa dan tidak hanya sebagai matakuliah pelengkap saja.
Menurut Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi disebutkan beberapa materi pokok yang harus terdapat di dalam perkuliahan Pendidikan Agama Islam  yang diantaranya adalah menyangkut materi tentang Tuhan Yang Maha Esa dan Ketuhanan, Manusia, Hukum, Moral, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni, Kerukunan Antar Umat Beragama, Masyarakat, Budaya, dan Politik. Materi-materi pokok di atas kemudian dikembangkan menjadi beberapa sub pembahasan yang dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.
Demikian itu sesuai dengan SK Dirjen Dikti tahun 2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi yang terdapat pada pasal 12 menyatakan bahwa penyelenggaraan pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian dan kegiatan akademik lainnya yang relevan dikelola oleh Universitas dalam satu unit bersama dengan kelompok Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat. Sesuai dengan amanah pada pasal tersebut, maka dalam pengembangan matakuliah PAI secara khusus dikelola oleh dosen-dosen PAI di perguruan tinggi masing-masing sehingga tentunya akan terdapat perbedaan anatar satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lainnya dalam mengembangkan mata kuliah PAI yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik perguruan tinggi tersebut.
Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang merupakan representasi dari dua jenis universitas yang memiliki tujuan dan bidang keilmuan yang berbeda sehingga memungkinkan adanya perbedaan model pengembagan Pendidikan Agama Islam diantara keduanya. Universitas Brawijaya (Selanjutnya UB) merupakan sebuah universitas yang peneliti anggap sebagai representasi dari universitas dengan term keilmuan non-pendidikan atau dengan kata lain lebih kearah ilmu pengetahuan umum dan berpeluang menghasilkan ilmuan-ilmuan sains seperti fakultas Pertanian, Peternakan, Teknik, Kedokteran, serta mempersiapkan mahasiswa untuk berkarir di dunia perekonomian bisnis maupun sosial seperti fakultas Hukum, Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Administrasi, Ilmu Sosial dan Politik, dan lain sebagainya. Sementara itu Universitas Negeri Malang (Selanjutnya UM) merupakan representasi dari Universitas Pendidikan yang pada akhirnya melahirkan tenaga pendidik atau guru dan tenaga kependidikan dengan berbagai fakultas dan jurusannya, seperti fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Sastra, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Pendidikan Psikologi dan lain sebagainya. Selain itu kedua Universitas tersebut memliki perbedaan dalam jumlah jurusan dikelolanya dan juga jumlah mahasiswanya.
Berangkat dari perbedaan mendasar mengenai term keilmuan yang dikelola serta jumlah jurusan yang dikelola oleh masing-masing universitas di atas dan mengetahui jenis output yang dihasilkan oleh keduanya, maka terdapat kemungkinan adanya perbedaan terkait dengan model pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) antara keduanya.
Maka dipandang perlu adanya model pengembangan Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi yang memiliki banyak jurusan dan term keilmuan. Sehingga dapat mengakomodir terhadap kebutuhan dan hubungan dengan keilmuan yang dipelajari mahasiswa. Adapun ruang lingkup yang dapat dikembangkan dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Perguruan tinggi dapat meliputi beberapa hal, diantaranya menyangkut pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi dan Pengembangan sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Sehingga dengan adanya Pengembangan tersebut dapat memberikan sebuah gambaran yang utuh mengenai model Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum.
Dari pengamatan sementara peneliti terhadap bentuk buku ajar yang digunakan di masing-masing Universitas, terdapat adanya berberapa perbedaan dalam penjabaran tema-tema yang telah ditentukan oleh Dirjen Dikti dalam SK Dirjen Dikti tahun 2006 tentang rambu-rambu pelaksanaan matakuliah pengembangan kepribadian. Serta terdapat beberapa pengembangan terkait dengan isu-isu kekinian seputar agama, sosial dan budaya di dalamnya. Hal ini memberikan indikasi bahwa masih terdapat beberapa faktor model pengembangan Pendidikan Agama Islam di kedua Universitas tersebut baik itu menyangkut kurikulum maupun sistem pembelajarannya.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas terkait dengan model pengembangan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi dalam hal ini di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang sebagai objek penelitian, maka yang menjadi fokus penelitian adalah bagaimana model pengembangan Pendidikan Agama Islam Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang yang mencakup pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dan sistem pembelajarannya.

B.             METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis studi kasus dengan rancangan multisitus, yaitu berusaha  mendeskripsikan  suatu  latar,  objek  atau  peristiwa  tertentu secara rinci dan mendalam. Studi kasus/situs adalah penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif mengenai unit sosial tertentu, yang meliputi individu, kelompok, lembaga dan masyarakat. Adapun dalam penelitian ini dimaksudkan untuk dapat mengetahui pengembangan model Pendidikan Agama Islam di Universitas Negeri Malang dang Universitas Brawijaya Malang.
Sumber data dalam penelitian ini dikelompokan menjadi data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Koordinator Dosen Mata Kuliah PAI dan dosen-dosen PAI di Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Negeri Malang mengenai fokus penelitian ini. Selain itu juga terdapat data sekunder yang peneliti peroleh dari hasil dokumentasi baik berupa teks, soft-file, maupun dokumen lain yang terkait dengan fokus penelitian di Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Negeri Malang.
Metode pengumpulan data yang gunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Data-data yang telah terkumpul kemudia dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kasus individu dengan melalui langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kemudian menarik kesimpulan, setelah analisis data kasus individu selesai maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis data lintas situs. Secara umum proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai berikut: a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan situs kedua; b) membandingkan dan memadukan temuan teoritik sementara dari kedua situs penelitian; c) merumuskan simpulan teoritik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari  kedua  situs  penelitian.

C.            PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Keberadaan matakuliah pendidikan agama (dalam hal ini pendidikan agama Islam) sebagai bagian dari matakuliah pengembangan kepribadian yang masuk dalam kurikulum inti pendidikan tinggi, maka baik di Universitas Brawijaya maupun Universitas Negeri Malang memasukkan matakuliah Pendidikan Agama Islam tersebut kedalam matakuliah wajib umum (MKWU) yang harus diambil mahasiswa di semester satu atau di semerter dua tergantung dari penjadwalan yang dilakukan setiap fakultasnya dengan beban studi sebanyak 3 sks yang dibagi ke dalam dua kegiatan pendidikan agama Islam.
Pembagaian pelaksanaan pendidikan agama Islam menjadi dua kegiatan yang mana pertama adalah pendidikan agama Islam yang termasuk matakuliah kurikuler yang dilaksanakan di dalam kelas oleh dosen-dosen PAI selama satu semester dengan beban studi sebanyak 2 sks dan kedua adalah pelaksanaan pendidikan agama Islam sebagai ektrakurikuler atau kokurikuler yang dilaksanakan di luar kelas dengan beban studi sebanyak 1 sks. Sehingga meskipun dalam transkrip nilai mahasiswa ditulis beban studi matakuliah PAI sebanyak 2 sks, namun dalam praktisnya secara keseluruhan adalah sebanyak 3 sks. Hal ini sebagaimana dalam SK DIKTI No. 43 Tahun 2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi pada pasal 6 ayat 2 menerangkan bahwa beban studi untuk matakuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa masing-masing sebanyak 3 (tiga) sks (satuan kredit semester).
Pengembangan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dilakukan oleh masing-masing universitas dengan tetap berdasarkan pada peraturan pemerintah yang tertera dalam perundang-undangan ataupun surat keputusan. Sebagaimana dilakukan oleh Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang adalah mengembangkan pelaksanaan pendidikan agama Islam yang dalam perundang-undangan disebutkan beban studi matakuliah PAI tersebut adalah sebanyak 3 sks. Dengan hanya sebanyak 2 sks dalam pembelajaran PAI yang dilaksanakan di dalam kelas, maka untuk memenuhi sebanyak 3 sks dikembangkanlah sebuah kegiatan penunjang pembelajaran PAI di kelas dengan kegitan ekstrakurikuler keagamaan yang dihitung sebanyak 1 sks. Sehingga tuntutan perundang-undangan yang mengharuskan beban studi Pendidikan Agama sebanyak 3 sks dapat terealisasikan.
Pengembangan kegiatan pembelajaran PAI yang dilakukan oleh kedua situs penelitian ini dengan membuat kegitan ektrakurikuler keagamaan baik Tutorial yang dilaksanakan di Universitas Brawijaya maupun TDI (Tafaquh fii Dinil Islam) yang dilaksanakan di Universitas Negeri Malang adalah sebuah upaya pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dengan pertimbangan keterbatasan pembahasan materi-materi PAI di dalam kelas yang hanya berkisar 14 hingga 16 pertemuan dalam satu semesternya. Hal ini dirasa kurang untuk membetuk mahasiswa lulusan yang sesuai dengan amat undang-undang tentang matakuliah pengembangan kepribadian. Sehingga pihak universitas bekerjasama dengan Pusat Pembimbingan Agama Universitas (di Universitas Brawijaya) dan Pusat Pengembangan Kehidupan Beragama (di Universitas Negeri Malang) untuk membuat sebuah kegitan keagamaan yang menunjang pembelajaran PAI di dalam kelas, sehingga diharapkan kegiatan keagamaan tersebut dapat menunjang keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagaimana dimaksud dalam perundang-undangan.
Jika melihat pada perundang-undangan yang mengatur tentang pelaksanaan matakuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi yang terdapat dalam pasal 12 tentang organisasi penyelenggaraan kelompok matakuliah pengembangan kepribadian diuraikan bahwa Penyelenggaraan pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian dan kegiatan akademik lainnya yang relevan dikelola oleh Universitas dalam satu unit bersama dengan kelompok Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat. Sehingga apa yang dilakukan oleh kedua situs penelitian tersebut sangat relevan dengan peraturan tersebut.
1.    Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Pengembangan kurikulum dalam penelitian ini sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah berupa pengembangan kurikulum yang bersifat dokumen yakni terkait dengan perumusan visi dan misi serta capaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dan terakhir adalah penyusunan silabus atau Rencana Perkuliahan Semester (RPS) yang dilakukan di kedua situs penelitian.
a.    Perumusan Visi, Misi dan Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sebuah kegitan yang terorganisir tentunya harus memiliki visi dan misi yang menjadi landasan dalam pelaksanaan semua kegitannya. Begitupun dengan pendidikan agama islam di perguruan tinggi haruslah memiliki visi dan misi tersendiri agar apa yang dilakukan memiliki dasar dan tujuan yang jelas. Oleh karenanya matakuliah pendidikan agama islam yang dilaksanakan di kedua situs penelitian ini memiliki visi dan misi tersendiri dimana keduanya melakukan pengembangan perumusan visi dan misi PAI dengan mengkolaborasikan visi dan misi yang terdapat dalam perundang-undangan sebagai landasan yuridisnya dan dengan visi misi universitas masing-masing sebagai landasan praktisnya. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh masing-masing coordinator PAI di kedua situs penelitian bahwa visi dan misi Pendidikan Agama Islam di universitasnya berdasarkan pada visi dan misi yang telah ada dalam perundang-undangan namun dengan pengembangannya yang disesuaikan dengan visi dan misi dari universitas masing-masing.
Jika dilihat dari visi dan misi PAI yang dirumuskan di kedua situs penelitian, dapat ditemukan sebuah kesamaan yang substansial yakni matakuliah PAI menjadi sumber nilai dan pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam mengembangkan profesi dan menjadikan mahasiswa memiliki kepribadian yang Islami. Rumusan visi dan misi PAI baik di Universitas Brawijaya Maupun di Universitas Negeri Malang tersebut secara substansial menginduk pada visi misi matakuliah pengembangan kepribadian sebagaimana di jelaskan dalam SK DIKTI no 43 tahun 2006 bahwa kelompok MPK di perguruan tinggi membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannva agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan, rasa kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggungjawab.
Kemudian dari rumusan visi dan misi yang tersebut disusunlah capaian pembelajaran atau dapat pula dikatakan sebagai standar kompetensi matakuliah PAI. Rumusan capaian pembelajaran PAI yang dilakukan dimasing-masing situs tersebut adalah berupa poin-poin penjabaran standard minimal mahasiswa setelah mengikuti perkuliah PAI selama satu semester. Berikut ini adalah poin-poin standar kompetensi atau capaian pembelajaran PAI di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.

Tabel: Uraian Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang T.A. 2015-2016

Universitas Brawijaya
Universitas Negeri Malang
1)      Meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT dalam diri mahasiswa amelalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap nilai-nilai ajaran Islam.
2)      Memperkokoh karakter mahasiswa melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan norma-norma Islam dalam relasi yang harmonis terhadap Allah, diri sendiri, sesama umat dan lingkungannya.
3)      Mengembangkan pemikiran dan akhlak mulia dalam kehidupan sebagai warga masyarakat, warga Negara, dan warga dunia.
4)      Mengantarkan mahasiswa mampu bersikap rasional dan dinamis dalam mengembangkan dan memanfaatkan IPTEKS serta menjadikan ajaran Islam sebagai landasan berpikir dan berperilaku dalam pengembangan profesi.
5)      Membimbing mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran dan penalaran yang benar dan kritis dalam memahami berbagai masalah actual dalam perspektif Islam dan merumuskan solusi-solusi serta menjadikan ajaran Islam sebagai atau alternative dengan tetap mengedepankan kearifan dan kesantunan.
1)   Meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT dalam diri mahasiswa melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap nilai-nilai ajaran Islam.
2)   Memperkokoh karakter mahasiswa melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan norma-norma Islam dalam relasi yang harmonis terhadap Allah, diri sendiri, sesama dan lingkungannya.
3)   Mengembangkan pemikiran dan akhlak yang selaras dengan keyakinan Islam dalam kehidupan sebagai warga masyarakat, warga Negara, dan warga dunia.
4)   Mengantarkan mahasiswa mampu bersikap rasional dan dinamis dalam mengembangkan dan memanfaatkan IPTEKS dengan menjadikan ajaran Islam sebagai landasan berpikir dan berperilaku dalam pengembangan keilmuan dan profesi.
5)   Membimbing mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran dan penalaran yang benar dan kritis dalam memahami berbagai masalah aktual dan menyikapinya dengan perspektif Islam

Berdasarkan pada rumusan capaian pembelajaran PAI tersebut, maka sesungguhnya pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam mencetak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya memiliki kemampuan dan keahliah dalam bidang keilmuannya atau profesinya, melainkan juga berkepribadian islami dalam menjalankan dan mengembangkan keilmuan serta profesinya. Pernyataan ini adalah dapat diverifikasi setidaknya dalam keputusan direktur jendral pendidikan tinggi no 43 tahun 2006 pada pasal tiga ayat 2 poin a.
b.    Penyusunan Silabus atau Rencana Perkuliahan Semester Pendidikan Agama Islam
Silabus atau dalam lingkungan perguruan tinggi dikenal sebagai rencana perkuliahan semester (RPS) merupakan sebuah deskripsi matakuliahan yang berisi penjabaran materi-materi identitas matakuliah, tujuan malakuliah, uraian materi. pendekatan pembelajaran, media, evaluasi hasil belajar, dan referensi yang digunakan. Keberadaan RPS tersebut mejadi sebuah acuan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas oleh dosen.
Dari penelitian yang sudah dilakukan di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang bahwa pelaksanaan pembelajaran PAI di kelas berpatokan pada RPS yang telah disusun dan disepakati oleh Koordinator PAI dan dosen-dosen PAI dalam rapat internal yang kemudian digunakan untuk semua fakultas dan jurusan. Semua jurusan yang mendapatkan matakuliah PAI disemesternya menggunakan RPS yang sama dengan ketentuan dosen-dosen PAI berhak melakukan pengembangan dan inovasi sendiri dari RPS yang ada, termasuk pengembangan pembelajaran PAI yang bersangkutan dengan term keilmuan mahasiswa difakultasnya.
Proses penyusunan RPS Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh kedua situs penelitian tersebut sebagaimana dari hasil penelusuran peneliti baik dari hasil wawanca ataupun analisis dokumen RPS, bahwa penyusunan RPS yang dilakukan adalah berdasarkan pada substansi kajian pokok matakuliah pendidikan agama yang terdapat dalam SK DIKTI tahun 2006 dan kemudian dikembangkan dengan penambahan materi kajian keislaman lainnya yang berdasar atas sebuah analisis kebutuhan pembahasan persoalan-persoalan keislaman kontemporer terus berkembang di masyarakat nasional maupun global. Dengan adanya pengembangan tersebut diupayakan adanya sebuah pemahaman mahasiswa tentang perkembangan dunia keislam kontemporer yang dihadapinya sekarang atau di masa mendatang.
Bahwa setiap dosen yang mengajar PAI berusaha memberikan materi-materi keislaman yang lebih mendalam terkait dengan term keilmuan mahasiswa adalah sebuah upaya pengintegrasian Agama dan ilmu umum yang dipelajari mahasiswa. Sehingga selain pembelajaran PAI tersebut dapat berjalan relative lebih menyenangkan bagi mahasiswa karena diajak berbicara materi-materi Islam dengan perspektif keilmuannya juga merupakan sebuah usaha memberikan landasan agama bagi mahasiswa dalam mengembangkan ilmu dan profesinya kelak.
Berdasarkan kepada uraian di atas mengenai dua aspek pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh kedua situs penelitian tersebut, bahwa kurikulum yang digunakan adalah kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan berdasarkan learned center curriculum berbasis tema-tema dengan pendekatan pengembangan kurikulum rekontruksi sosial, yakni kurikulum yang bertujuan untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan yang muncul dalam perjalan kehidupan. Dimana terdapat keyakinan bahwa permasalahan yang muncul tidak harus diperhatikan oleh “satu disiplin ilmu” saja, tetapi oleh setiap disiplin ilmu. Oleh karena itu, pendekatan rekonstruksi sosial dalam menyusun kurikulum bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat, untuk selanjutnya dengan memerankan ilmu-ilmu dan teknologi, serta bekerja secara kooperatif dan kolaboratif, akan dicarikan upaya pemecahannya menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik. Dan peranan dosen di sini sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong peserta didik menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat.
Selain itu bahwa pendekatan rekonstruksi sosial sebagai pendekatan pengembangan kurikulum sangat relevan dilakukan di perguruan tinggi hal ini berdarkan pada teori pengembangan peserta didik yang pada usia mahasiswa dengan rentang usia antara 19 hingga 25 tahun merupakan masa remaja akhir yang akan masuk pada masa dewasa. Dalam masa ini menurut teori perkembangan bahwa pengembangan kognitif peserta didik telah memiliki kemampuan mengoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni; 1) kapasitas menggunakan hipotesis; 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
Selanjutnya jika dilihat dari manajemen pengembangan kurikulum PAI yang dilakukan oleh kedua situs penelitian tersebut dapat dikategorikan sebagai model perpaduan antara model administratif yang berifat top-down/sentral dan model grass roots yang bersifat bottom-up/desentral. Dikatakan sebagai model administratif adalah karena dalam pengembangannya mengacu pada tujuan nasional pendidikan yang diejawantahkan melalui perundang-undangan pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Sebagaimana dijelaskan oleh Nana Syaodih bahwa Model pengembangan kurikulum administrative merupakan model yang paling lama dan paling banyak di kenal. Istilah lain dari model ini ialah top-down atau line-staff, karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.
Dilain sisi bahwa pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh kedua situs tersebut memberikan keleluasaan kepada dosen-dosen PAI untuk mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Sebagaimana dijelaskan bahwa model grass-roots ialah dimana Inisiataif dan upaya datang dari bawah, yaitu dari guru-guru atau dosen dalam hal ini. Model  grass-roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Oleh sebab itu, sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi menuntut para guru/dosen untuk cerdas dan lebih kreatif dalam melaksanakan pengembangan kurikulum. Sebab guru/dosen adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.
2.    Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Unsur manusiawi dalam system pembelajaran meliputi Siwa, Guru, serta orang-orang mendukung terhadap pelaksanaan pembelajaran. Material adalah berbagai bahan pelajaran yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar, misalnya buku, film, audio, gambar, dan sebagainya. Fasailitas dan perlengkapan adalah segala sesuatu yang dapat mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran seperti ruang kelas, penerangan, perlengkapan computer, dan sebagainya. Prosedur adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran, seperti, strategi yang digunakan, metode yang digunakan, bentuk evaluasi pembelajaran, dan sebagainya. Sebagai sebuah sistem maka kesemua komponen tersebut memiliki fungsi masing-masing dan memiliki ciri saling ketergantungan satu sama lain untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran.
Pengembangan sistem pembelajaran yang dalam penelitian ini meliputi aspek pengembangan bahan ajar, pengembangan strategi pembelajaran, dan pengembangan evaluasi pembelajaran yang dilakukan di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang sebagai situs dalam penelitian ini.
a.    Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan proses kegiatan pembelajaran di kelas. Sedangkan pakar lain menerangkan bahwa yang dimaksud bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Selain pendapat di atas Pannen (2001) sebagaimana dikutip oleh Prastowo mendefinisakan bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar
Pengembangan bahan ajar di kedua situs penelitian ini, yakni Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang sama-sama memiliki dua bentuk bahan ajar yang digunakan selama ini. Pertama adalah bahan ajar yang berupa buku paket PAI yang disusun oleh dosen-dosen PAI sebagai buku wajib dan buku bacaan minimal mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Pendidikan Agama Islam. Kedua adalah bahan ajar pengembangan oleh masing-masing dosen PAI dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang memiliki bentuk beragam sesuai dengan kebutuhan dan kesesuian dengan materi yang diajarkan di kelas.
Mengenai pengembangan bahan ajar berupa buku paket PAI adalah sebuah pengembangan yang dilakukan oleh masing-masing Universitas tersebut melalui kooordinator PAI bersama dengan dosen-dosen PAI. Bahan ajar yang digunakan oleh masing-masing universitas tersebut secara isi telah terdapat beberapa pengembangan materi yang tersusun dalam bab-bab di dalamnya. Materi-materi yang disusun dalam buku paket tersebut adalah berupa penambahan materi-materi terkait dengan perkembangan dunia dan juga adalah berdasarkan dari analisis terhadap materi-materi yang dibutuhkan dan relevan dengan perkembangan mahasiswa dimana materi-materi tersebut tidak terdapat di dalam substansi kajian kelompok matakuliah pengembangan kepribadian dalam SK DIKTI no 43 tahun 2006.
Selanjutnya adalah berupa bahan ajar pengembangan yang dilakukan oleh masing-masing dosen dalam proses pembelajaran PAI di kelas di luar dari buku paket tersebut. Dengan adanya kebebasan dosen mengembangankan bahan ajar, hal ini menimbulkan banyak jenis bahan ajar yang kemudian digunakan dalam pembelajaran PAI sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dosen masing-masing. Selain bahan ajar yang berbentuk teks, ada pula bahan ajar yang berbentuk aduio atau audio visual, maupun media interaktif yang terdiri dari gabungan ketiga jenis bahan ajar tersebut.
Hal ini sebagaimana yang peneliti ketahui baik melalui wawancara dengan dosen-dosen, maupun observasi partisipatoris peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran PAI di kelas pada dua situs penelitian ini. Pada intinya adalah selain menggunakan bahan ajar berupa buku paket PAI yang disediakan universitas, adalah pengembangan lebih lanjut dilakukan oleh dosen ketika mengajar di kelas, seperti penggunaan video dan mp3 yang dilakukan oleh bapak Ahmad Sulthoni salah satu dosen PAI di Universitas Negeri Malang ketika pembelajaran berlangsung pada materi-materi tertentu. Kemudian hal senada juga diungkapkan oleh bapak Kholid Rahman yang merupakan salah satu dosen PAI di Universitas Brawijaya bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran PAI beliau tidak hanya mengandalkan pada buku paket PAI, melainkan mencoba mengelaborasikan pembelajaran PAI dengan menggunakan bahan ajar yang lain, seperti buku modul, video-video dan yang lainnya yang memiliki relevansi dengan pokok bahasan yang dipelajari mahasiswa.
Deskripsi di atas sesuai dengan apa yang dikutip oleh dikutip oleh Mudhofir dalam Abdul Madjid, Perencanaan Pembelajaran. Mengembangkan Standar Kompetensi Guru bahwa bahan ajar harus terdiri dari beberapa prinsip diantaranya adalah Perinsip Relevansi, Prinsip Konsistensi, dan Perinsip Kecukupan.
b.    Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kemp menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatanpembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan itu, Dick and Carey menyebutkan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat terealisasikan dengan lebih efektif dan efisien. Dalam kaitannya dengan pembelajaran PAI bahwa penentuan pendekatan pembelajaran, penggunaan metode dan media pembelajaran yang sesuai akan memberikan dampak positif dalam proses pelaksanaan pembelajaran itu sendiri.
Sebagaimana dari hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang bahwa dalam melaksanakan pembelajaran PAI dosen-dosen menggunakan pendekatan, medote dan media pembelajaran tertentu yang berbeda antara satu dosen dengan dosen yang lainnya. Meski terdapat banyak pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh dosen-dosen PAI di kedua situs tersebut, bahwa secara substansial memiliki kesamaan yang mana pendekatan yang digunakan adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang memaksimalkan peran mahasiswa dalam pembelajaran, seperti student active learning atau bisa juga disebut pendekatan student center learning. Dengan pendekatan pembelajaran tersebut maka dosen-dosen PAI dalam melaksakan pembelajarannya ialah dengan mengaktifkan mahasiswa, mencari, mendiskusikan, memdeskripsikan, dan kemudian mempresentasikan hasil di kelas, adalah sebuah pembelajaran yang menjadikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran.
Kegitan pembelajaran seperti di atas merupakan pembelajaran bersarkan prinsip student centered, peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belaja yang dikenal dengan istilah lama CBSA (cara belajar siswa aktif) sebagai terjemahan dari SAL (student active trainaing), yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
Dari pendekatan pembelajaran sebagaimana diutarakan di atas, maka metode pembelajaran sudah pasti menggunakan metode-metode pembelajaran yang memberikan mahasiswa porsi lebih besar dalam pembelajaran daripada dosen. Banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya adalah metode diskusi, tanya jawab, praktikum, obserpasi partisipatoris, dan lain sebagainya.
Berdasarkan pada hasil telaah terhadap data-data dalam penelitian ini menunjukkan penggunana metode-metode seperti di atas tersebut memang digunakan para dosen PAI dalam pembelajaran. Mulai dari metode resitasi individu maupun kelompok yang kemudian dipresentasikan dan didiskusikan di dalam kelas dengan diakhiri oleh proses Tanya jawab baik dari mahasiwa kepada mahasiswa maupun dari mahasiswa kepada dosen. Selain kegitan di kelas ada pula kegitan pembelajaran di luar kelas seperti praktikum tatacara beribadah di masjid universitas dan kegitan observasi partisipatoris dimana mahasiswa melakukan observasi lapangan ke berbagai tempat yang telah ditentukan sebelumnya untuk melakukan pembelajaran analisis social keagamaan yang terdapat ditempat observasi tersebut.
Penggunaan metode-metode pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas merupakan bagian dari implementasi jenis pembelajaran inkuiri yang merupakan pengajaran yang mengharuskan mahasiswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inkuiri mahasiswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri, dan model pengajaran yang berpusat pada mahasiswa. Tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.
Selain pendekatan dan metode pembelajaran, bagian terpenting lainnya adalah penggunaan media pembelajaran yang efektif merupakan sebuah keharusan agar pembelajaran menjadi menyenangkan dan memberikan pengalaman belajar menyeluruh dari yang abstrak hingga yang konkret. Media pembelajaran yang merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi pembelajaran baik berbentuk orang, alat-alat elektronik/peraga, media cetak, audio, visual maupun multimedia.
Berbagai bentuk media pembelajaran seperti di atas digunakan dalam pembelajaran PAI baik di Universitas Brawijaya maupun Universitas Negeri Malang. Memaksimalkan berbagai media dalam pembelajaran PAI sangat membatu mahasiswa dalam memahami materi-materi yang di pelajari, diantaranya adalah dengan penggunaan LCD untuk presentasi, penggunaan Al-Qur’an baik cetak maupun digital untuk membaca dan mencari ayat-ayat mengenai materi yang sedang dipelajari, papan tulis, video, audio, hingga multimedia seperti yang dilakukan di Universiyas Brawijaya dengan Pusat Pembelajaran Jarak Jauh (PPJJ) yang berupa video rekaman pembelajaran PAI yang bisa di akses mahasiswa dimana saja.
c.    Pengembangan Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Evaluasi pembelajaran yang merupakan bagian terakhir dari sistem pembelajaran adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrument tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan. Evaluasi pembelajaran yang memiliki tujuan sebagai alat untuk mengetahui keefektifan dan efesiensi sistem pembelajaran baik yang menyangkut tentang tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri.
Kemudian dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk semua jenjang pendidikan tentu memiliki sistem evaluasi pembelajaran tersendiri. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran PAI di perguruan tinggi yang berupa penilaian hasil belas mahasiswa dilakukan sesuai dengan pedoman evaluasi akademik yang berlaku di perguruan tinggi tersebut. Sebagaimana tertera dalam SK DIKTI no 43 Tahun 2006 bahwa Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan berdasarkan data yang diperoleh melalui penugasan individual atau berkelompok. ujian tengah semester. ujian akhir semester, penilaian-diri (self-assessment). penilaian-sejawat (peer-assessment,), dan observasi kinerja mahasiswa melaiui tampilan lisan atau tertulis. Kriteria penilaian dan pembobotannya diserahkan kepada dosen pengampu dan disesuaikan dengan Pedoman Evaluasi Akademik yang berlaku pada perguruan tinggi masing-masing.
Begitupun sebagaimana dilakukan oleh dosen-dosen PAI di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, bahwa pelaksanaan evaluasi pembelajaran PAI dikategorikan kedalam penilaian hasil belajar melalui Ujian Tengan Semester dan Ujian Akhir Semester serta penilai proses pembelajaran melalui instrument penilaian yang telah disusun. Dari kedua jenis penilaian tersebut maka pada akhirnya memberikan nilai akhir hasil pembelajaran mahasiswa. Hasil dari penelitian ini bahwa di kedua situs penelitian tersebut memiliki sedikit perbedaan mengenai kriteria penilaiannya dan kriteria kelulusan matakuliah bagi mahasiswa. Di Universitas Brawijaya kriteria kelulusan matakuliah PAI berdasarkan pada hasil akhir dari penilaian prosen pembelajaran melalui instrument assessment yang telah disusun, sedangkan di Universitas Negeri Malang memasukkan kompetensi membaca al-Qur’an mahasiswa sebagai persyaratan kelulusan matakuliah PAI.
Secara keseluruhan apa yang dijelaskan di atas baik mengenai pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam ataupun terkait sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah untuk mengetahui model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dilakukan di kedua situs penelitian. Dari pemaparan di atas tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh kedua universitas tersebut dapat dikategorikan menjadi dua, yakni secara sentral dan secara desentral. Secara sentral adalah model pengembangan Pendidikan Agama Islam dalam ruang lingkup perumusan visi misi, Silabus/RPS dan buku paket Pendidikan Agama Islam yang dijadikan sebagai acuan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam oleh dosen-dosen PAI di masing-masing universitas. Sedangkan secara desentral yang dimaksud adalah sebuah model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dilakukan dalam kegitan praktis pembelajaran Pendidikan Agama Islam baik yang dilakukan di kelas sebagai bagian dari kurikulum inti perguruan tinggi maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti kegiatan Tafaqquh fii Dinil Islam (TDI) di Universitas Negeri Malang dan kegiatan Turorial keagamaan di Universitas Brawijaya.
Secara sentral model pengembangan Pendidikan Agama Islam di kedua universitas tersebut mengarah kepada model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dalam perspektif Amin Abdullah disebut sebagai model isolated entities dalam arti masing-masing rumpun ilmu berdiri sendiri, tahu keberadaan rumpun ilmu yang lain tetapi tidak bersentuhan dan tegur sapa. Sedangkan menurut Muhaimin disebut sebagai pengembangan Pendidikan Agama Islam dengan model mekanisme yang memandang kehidupan ini terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya. Aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan itu sendiri terdiri atas: nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai aestetik, nilai biofisik, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan oleh dengan diberlakukannya visi misi, silabus atau rencana perkuliahan semester serta buku paket PAI untuk semua fakultas dan jurusan yang tentu memiliki karakteristik keilmuan yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Maka dalam hal ini bahwa model pengembangan Pendidikan Agama Islam secara sentral menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri yang tidak bersentuhan secara fleksibel dengan rumpun keilmuan di setiap fakultasnya. Sehingga bahwa dengan banyaknya jurusan dengan rumpun keilmuan yang berbeda-beda, Pendidikan Agama Islam secara sentral yang meliputi visi, misi, capaian pembelajaran, silabus dan rencana perkuliahan semester, serta buku paket PAI disamakan untuk seluruh fakultas dan jurusan.
Fakta bahwa pengembangan Pendidikan Agama Islam secara sentral belum menunjukkan adanya interkoneksi atau integrasi dengan keilmuan lainnya yang terdapat sebuah perguran tinggi, maka secara desentral yang merupakan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dilapangan oleh dosen-dosen PAI baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler terlihat adanya sebuah pengembangan Pendidikan Agama Islam kepada model interconnected entities dalam arti masing-masing keilmuan sadar akan keterbatasannya dalam memecahkan persoalan manusia, lalu menjalin kerjasama dengan  disiplin keilmuan yang lain atau dalam istilahnya Muhaimin disebut sebagai model Organism/Sistemik yang mana pada model ini bertolak pada pandangan bahwa aktifitas kependidikan merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya kehidupan yang religious atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama. Pandangan semacam itu menggarisbawahi pentingnya kerangka pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrines dan fundamental values yang tertuang dalam sumber ajaran pokok Islam yakni al-Qur’an dan al-Sunnah. Sehingga menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber konsultasi yang bijak bagi ilmu-ilmu yang lain.
Penjelasan di atas dalam pengamatan peneliti di kedua situs penelitian ini adalah benar adanya, karena meskipun secara visi, misi, silabus dan bahan ajar pokok berupa buku paket PAI yang digunakan sama di semua fakultas, tapi kooordinator PAI sebagai penanggungjawab pelaksanaan pendidikan agama islam di universitas memberikan keleluasaan kepada para dosen untuk mengembangkan sendiri dan berinovasi menjadikan materi-materi PAI yang diajarkan bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung dengan keilmuan mahasiswa di fakultasnya masing-masing. Hal ini seperti yang di utarakan bapak Munjin Nasih kepada peneliti bahwa:

“…… di UM ini kita sudah memiliki acuan pokok materi-materi apa saja yang harus di ajarkan di kelas, namun kita sebagai dosen tidak harus seratus persen sama dan mengikuti yang ada dalam RPS dan buku PAI itu. Sehingga dosen-dosen PAI itu dapat memilih beberapa materi yang sekiranya lebih ditekankan pembahasannya kepada mahasiswa. Semisal ketika saya mengajar dijurusan tatabusana, disela-sela pembelajaran materi pokok yang terdapat dalam buku dan RPS itu saya jelaskan bagaimana seharusnya menjadi desainer yang tidak melupakan kaidah-kaidah berpakaian dalam Islam, bahwa sebagai seorang disainer haruslah tidak hanya memikirkan sisi estetik saja tetapi harus menselaraskan nilai estetik tersebut dengan ketentuan berpakaian dalam Islam. Karena dengan kita membahas keislam dengan perspektif keilmuan mahasiswa itu akan lebih mengena”.

Selain itu berdasarkan dari hasil obesrvasi kelas dalam pembelajaran PAI baik di Universitas Brawijaya maupun Universitas Negeri Malang para dosen dalam mengajar memberikan penekanan materi agama berkaitan dengan disiplin keilmuan mahasiswa, baik itu terlihat dari pengayaan materi yang dilakukan dalam pembelajaran maupun pemilihan langsung materi-materi yang membahas teori dari rumpun keilmuan mahasiswa dalam perspektif islam baik al-Qur’an maupun sunnah. Oleh sebab itu maka pengembangan pendidikan agama islam secara desentral dengan model interconnected entities atau model Organism/Sistemik dapat direalisasikan dengan efektif adalah tergantung kepada kemampuan dan tingkat kreatifitas dosen yang bersangkutan. Maka tidak dipungkiri bahwa tidak semua dosen yang mengajar Pendidikan Agama Islam dapat melakukan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model interconnected entities atau model Organism/Sistemik.
Keberadaan kegiatan ektrakurikuler keagamaan di sebuah Universitas juga memberikan sebuah pengaruh penting terealisasinya visi, misi dan tujuan pembelajaran PAI di Universitas, oleh karenanya sangat diperlukan sebuah kegiatan ekstrakurikuler sebagai penunjang pembelajaran PAI yang dilaksanakan di kelas. Hal ini selain terbatasnya waktu pembelajaran PAI di kelas yang hanya berkisar antara 14 hingga 16 kali pertemuan dalam satu semesternya juga sebagai kegiatan penambah wawasan keislaman bagi mahasiswa.
Baik di Universitas Brawijaya maupun Universitas Negeri Malang, keduanya menempatkan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan sebagai bagian integral dari pembelajaran PAI di kelas, sehingga kegiatan ekstrakurikuler yang di Universitas dinamakan kegiatan Tafaqquh fii Dinil Islam (TDI) dan di Universitas Brawijaya dinamakan kegiatan Tutorial merupakan kegiatan wajib bagi mahasiswa yang memiliki matakuliah PAI di semesternya. Bahkan lebih jauh bahwa kegiatan ekstrakurikuler tersebut menjadi salah satu instrument penilaian yang memberikan dampak kepada hasil belajar mahasiswa dan kelulusan matakuliah PAI.


Untuk lebih memperjelas model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang terdapat di kedua situs penelitian ini, peniliti mencoba menyusunnya dalam sebuah pemetaan seperti berikut.











KOLABORASI LANDASAN YURIDIS PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI DAN KEBIJAKAN UNIVERSITAS

Model Isolated Entities atau Model Mekanisme

Model Interconnected Entities atau Model Organism Sistemik

PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI PERGURUAN TINGGI UMUM

Perumusan Visi Misi, Silabus/RPS dan Buku Paket PAI yang berlaku di semua fakultas

Kegitan Praktis Pembelajaran PAI Di Kelas oleh Dosen dan Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan

SENTRAL

DESENTRAL
 
































Gambar: Penjelasan Model Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum

 DAFTAR RUJUKAN

Abdullah. M. Amin, 2006, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
_________________, 2002, Profil Kompetensi Akademik Lulusan Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Era Masyarakat Berubah, disampaikan dalam Pertemuan dan Konsultasi Direktur Program Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Agama Islam, Jakarta
_________________, dkk, 2007, Studi Islam dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi (Sebuah Antologi), Yogyakarta: SUKA Press
Ahmadi, Rulam, 2005, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif, Malang: UIN Malang Press
al-Syaibani. Umar Muhammad al-Toumy, 1986, Al-Usus al-Nafsiyyat wa al-Tarbiyyat li Ri’ayat al-Syabab, Kahirat: Dar Al-Ma’arif
Amri. Sofian dan Lif Khoirul Ahmadi, 2010, Kontruksi Pengembangan Pembelajaran Pengaruhnya Terhadap Mekanisme dan Praktek Kurikulum, Jakarrta: PT. Pustakaraya
Arikunto. Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Burhan Bungin, ed., 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Metodologis dan Filosofis ke Arah Model Aplikasi, Jakarta: Rraja Grafindo
Daryanto dan Herry Sudjenro, 2014, Siap Menyongsong Kurikulum 2013, Yogyakarta: Gava Media, Yogyakarta
Faisal. Sanafiah, 1995, Format Dan Penelitian; Dasar dasar dan Aplikasi, Jakarta : Rajawali Press
_____________, 1989, Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah, Asih, Asuh,
Golshani. Mehdi, 2004, Issues in Islam and Science, Tehran: Institute for Humanities and Cultural Studies (IHCS)
Hamalik. Oemar, 2007, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya
Idi. Abdullah, 2005, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
____­______, 2009, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulu Hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Lincoln, Yonna S. dan Guba, Egon G., 1985, Naturalistic Inquiry. London: Sage Publication
Moleong, Lexy J., 1991, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Muhaimin, 2011, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
_________, dkk. 1996, Strategi Belajar Mengajar, Surabaya: Citra Media
__________. dkk, 2008, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
__________,  2005, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Poerwadarminta. W. J. S., 2003, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Robert. C. Bogdan, dan Sari Knopp Biklen., 1998, Qualitative Research In Education: An Introduction to Theory and Methods, Boston: Allyn and Bacon
Salinan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 045/U/2002 Tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi
Salinan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000 Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi Dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa
Salinan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi
Syaodih. Nana, 2006, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, (Bandung: Rasyda Karya
Syahidin, dkk., 2014, Pendidikan Agama Islam Kontemporer, Jakarta: Yayasan Masyarakat Indonesia Baru
Tafsir. Ahmad, 2006, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
___________, 2005, Ilmu Pendidikan dalam Perpektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Bandung: Citra Umbara
Widyastono. Herry, 2014, Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi Daerah, Jakarta: PT.Bumi Aksara
Zuhairini dan Abdul Ghofir, 2004, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Malang: UM Press


Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Pro dan Kontra Terkait Tafsir Ilmi

A.LATAR BELAKANG MASALAH Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi Muhammad saw, kepada keluarga, sahabat, serta semua pengikutnya sampai akhir masa. Suatu ketika Ibnu Mardawaih bersama Atha’ bertanya kepada Aisyah, “ya Aisyah.. Peristiwa apakah yang kiranya paling mengesankan dalam hidupmu bersama Rasulillah?” Yang ditanya tak bisa menjawab, yang ia bisa hanya menangis sedu. “Semua yang Nabi perbuat teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada sutau malam, yakni malam disaat malam giliranku, ia tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Ia berkata, “ ya Aisyah.. izinkan aku untuk beribadah kepada tuhanku”. Aku berkata, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Nabi, tetapi aku senang pula engkau beribadah kepada tuhanmu”. Maka Ia pergi berwudlu’, lalu berdiri melaksanakan shalat dan menangi…