Langsung ke konten utama

Puasa dalam Tinjauan Biosains

Oleh: Prof Sutiman
27 Mei 2018 usai Tarawih, di Padepokan NKRI Malang

Manusia desain dari Sang Maha Pencipta adalah makhluk lapar. Ciri dari makhluk lapar secara anatomi dadanya lebih besar dari pada perutnya. Seperti binatang singa atau harimau, mereka baru keluar dari sarang dan makan ketika lapar  dengan menguras energi untuk dapat makanan serta mereka berhenti makan tidak menghabiskan makanannya sehingga banyak hewan yang mengikutinya untuk mendapatkan sisa makanannya.
Manusia secara teori biologi adalah makhluk nomaden suka berpindah pindah. Setelah manusia menetap, manusia berubah jadi kaum yaitu makhluk yang mukim yaitu menetap. Sehingga ada akibat perubahan perilaku ketika manusia menetap, manusia bercocok tanam dan mudah mendapatkan makanan. Manusia akhirnya tidak lagi sebagai makhluk lapar tetapi menjadi makhluk memamakbiak. Ciri dari makhluk pemamakbiak adalah perutnya lebih besar dari pada dadanya. Seperti binatang sapi dan kerbau, mereka makan tidak selalu pada kondisi lapar.
Sehingga manusia sudah keluar dari fitrah desain awalnya sebagai makhluk lapar. Manusia sekarang lebih banyak menjadi makhluk pemamakbiak, yang berakibat manusia mudah berbuat dzolim ketika menetap mereka menumpuk makanan, harta benda, kekayaan, atau kedholiman pada diri sendiri yaitu makan yang berlebihan berakibat pada penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang diakibatkan perubahan perilaku. Seperti diabetes, hipertensi, dan kanker.
Nabi Muhammad sendiri lebih suka lapar dari pada kenyang. Maka nabi dalam hidupnya makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Pada dasarnya manusia diperintahkan puasa agar kembali pada desain awalnya yaitu makhluk lapar. Sehingga makna kembali ke fitrah bukan sekedar bermakna kembali seperti bayi lagi, tapi lebih jauh dari itu, agar manusia kembali ke desain makhluk lapar yang perutnya lebih kecil dari dadanya. Maka hati-hatilah ketika perut kita mulai lebih besar dari dada kita, bisa diikuti penyakit degeneratif yang disebutkan di atas.

Postingan populer dari blog ini

SILABUS MATERI PAI DI SMP DAN SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

Silabus Materi PAI di SMP & SMA

RENCANA PEMBELAJARAN SATU SEMESTER (RPSS)
Mata Kuliah : Materi PAI SMP dan SMA SKS : 2 Semester/Kelas : 5 (Lima) Standar Kompetensi : Memiliki penguasaan materi PAI di SMP-SMA Kompetensi : Mata kuliah ini memberikan pemahaman kepada para mahasiswa tentang materi PAI di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, sekaligus mendalami tentang materi PAI yang diajarkan di SMP dan SMA, setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menguasai, mendalami, serta mempraktekkan dalam proses pembelajaran di SMP dan SMA.

MEMBANGUN UKHUWAH DAN ISLAH MELALUI PAI DI SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Pendidikan di Indonesia yang sudah berjalan sekian puluh tahun sejak kemerdekaannya disadari lebih menekankan pada dimensi kognitif mencetak manusia-manusia cerdas, terampil, dan mahir telah berpotensi melahirkan manusia yang berkepribadian pecah (split personality) dan integritas (split integrity).  Tidak mengherankan apabila kebohongan, manipulasi, korupi, serakah, kolusi, nepotisme, kerusuhan antar etnis, pembunuhan dan sederetan peristiwa lainnya selalu mewarnai berita di negara ini.  Dimensi-dimensi lain seperti afektif dan psikomotorik gagal diimplementasikan dalam sistem pendidikan sebagai ciri profesional yang mengintegrasikan antara intelektual, moral, spiritual tidak tercermin pada para lulusannya. Krisis identitas mewarnai individu-individu yang terlahir dari dunia pendidikan dan cenderung tidak percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. Masifikasi gelombang modernitas telah membawa siapapun termasuk dunia pendidikan untuk hanyut mengikuti m…